Menu

2 Siswa SD Raih Juara International Exhibition for Young Inventors di Jepang

Sep
02
2017
by : . Posted in : Post

Siswa Indonesia kembali mengharumkan nama bangsa di kompetisi sains internasional. Hanun Dzatirrajwa (9 tahun) siswi SDIT Al Islam Kudus dan Izza Aulia Putri Purwanto (11 tahun) dari SD Bina Amal Semarang dengan karyanya berupa mainan ular tangga khusus buat penyandan tuna netra berhasil meraih juara di kompetisi sains internasional.

Papan media bermain ular tangga terdapat 40 kolom. Masing-masing kolom terdapat manik-manik yang menggambarkan angka braile. Begitu juga dengan dadu yang dibuat bermain, juga dilengkapi dengan angka braille di enam sisinya.

Karya mereka diganjar medali perak di ajang International Exhibition for Young Inventors yang diselenggarakan pada 27-29 Juli 2017 di Nagoya, Jepang. Selain itu, dua bocah itu juga memperoleh penghargaan dari Technopol Moscow, Rusia. ”Temuan kami dianggap memiliki rasa solidaritas dan sosial yang tinggi,” ucap Hanun.

Sebelum menyabet penghargaan internasional, atas idenya itu keduanya juga mendapat juara favorit nasional pada gelaran National Young Inventors Award. Prestasi itulah yang kemudian direkomendasikan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk ikut andil di even yang diselenggarakan di Nagoya, Jepang.

Saat mengikuti IEFYI, banyak pengalaman yang didapatkan mereka. Ajang bergengsi internasional tersebut diikuti 15 negara dan 149 tim.

”Kami ditandingkan dengan siswa tingkat SMA. Kami paling kecil sendiri. Lainnya sudah besar-besar. Tapi kami percaya diri. Yang penting sudah berusaha dan menampilkan yang terbaik,” jelas Hanun.

Izza membeberkan, ide awal dari permainan itu karena masih terbatasnya media bermain bagi penyandang tuna netra.

“Alat permainan bagi tuna netra masih sangat terbatas, itu yang mendasari saya dan Hanun untuk membuat permainan bagi tuna netra,” ujar siswi Kelas VI SDIT Al Islam Kudus itu.

Tidak perlu waktu lama bagi Hanun dan Izza, mereka hanya butuh sekitar sepekan untuk eksperimen membuat alat pemainan yang tak pernah orang lain pikirkan.

“Hanya seminggu mempelajarinya, karena kami harus tahu angka braile, selain itu juga harus memikirkan media untuk naik dan turunnya ular tangga,” jelas Hanun.

Dengan dibantu kecanggihan teknologi, bocah yang masih duduk di bangku kelas V SD Bina Amal Semarang itu merancang papan yang lengkap dengan manik-manik sebagai angka braille.

“Untuk tahu angka braile, saya dan Izza belajar dari internet,” tutur Hanun sembari tersenyum.

Miftahul Falah, ayah dari Hanun menuturkan, kedua bocah itu sekolah di lembaga yang berbeda. Keduanya juga tinggal di tempat yang berjauhan.

“Hanun tinggal di Semarang dan Izza tinggal di Kudus, tapi memang masih saudara, jadi sering ketemu,” jelasya.

Tidak hanya sekedar saudara, kedua bocah dengan ide cemerlang itu juga tergabung dalam komunitas ilmuwan cilik. Di dalam komunitas tersebut, ada pertemuan setiap dua minggu sekali, sembari membahas target proyek tentang hal-hal baru yang keluar dari ide mereka. Kini alat permainan buatannya sudah bisa dinikmati anak anak tuna netra di SLB Purwosari, Kudus Jawa Tengah.

Sumber: tribunnews.com (22/08/17), jawapos.com (20/08/17)


Indonesia Proud

Bagikan:Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Comment

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

artikel lainnya 2 Siswa SD Raih Juara International Exhibition for Young Inventors di Jepang

Wednesday 22 March 2017 | Post

Sekitar empat orang bocah berbaju adat Betawi berdiri berjajar di depan gerbang Polda Metro Jaya. Di…

Tuesday 7 March 2017 | Post

Go Tik Swan lahir di Desa Kratonan, Serengan, Surakarta, pada 11 Mei 1931. Keluarganya termasuk cukup disegani…

Saturday 1 April 2017 | Post

If you’ve been to Kuala Lumpur or are heading there soon, you would know that they…

Friday 16 June 2017 | Post

Setelah sedikit bernostalgia dengan Deni Manusia Ikan, sekarang saya akan mengenang memori dengan komik Nina. Saya…