Info Jakarta

pusat informasi di kota jakarta

Menu

Singapura, Bungker Persembunyian Koruptor Indonesia

Aug
31
2017
by : . Posted in : Post

Salah satu sudut kota Singapura

Kasus korupsi Sesmenpora yang diduga melibatkan bendahara umum Partai Demokrat, M. Nazaruddin beberapa pekan ini sedang ramai diperbincangkan. Bukan saja karena posisi M. Nazaruddin sebagai bandahara umum partai yang sedang berkuasa, namun juga karena tindakannya yang melarikan diri ke Singapura. Perihal kaburnya Nazaruddin ke Singapura menjadi sorotan banyak pihak, pasalnya tidak kali ini saja Negeri Singa itu menjadi tempat persembunyian para koruptor Indonesia.

Sebelumnya ada beberapa nama yang bersembunyi di Singapura setelah “menilep” uang negara. Sebut saja, Syamsul Nursalim, Lidya Mochtar, Anggoro Widjojo, Rafat Ali Rizvi, Hesham Al Warraq, Bambang Soetrisno, Adrian Kiki Ariawan, Sudjiono Timan, Eko Edi Putranto, Sherny Kojongian, Maria Pauline Lumowa, Rico Hendrawan, Irawan Salim, Hendra Liem, Robert Dale Kutchen, Nader Taher, Agus Anwar, Marimutu Sinivasan.

Indonesia Corruption Watch (ICW) mencatat dalam kurun waktu satu dekade terakhir, ada 45 koruptor yang melarikan diri ke luar negeri, 20 diantaranya bersembunyi di Singapura. Negeri Jiran ini seperti menjadi bungker persembunyian para tersangka korupsi untuk menghilang. Bahkan beberapa media nasional mengatakan Singapura bak menjadi surga bagi koruptor.

Wakil Koordinator ICW Emerson Junto dalam diskusi Polemik di Warung Daun, Cikini Jakarta Pusat mengatakan alasan mengapa Singapura menjadi tujuan utama, salah satunya adalah karena jaraknya yang berdekatan dengan Indonesia. “Dengan jarak yang dekat tersebut, sangat mudah bagi koruptor yang melarikan diri untuk melakukan lobi perkara. Apalagi, jika aparat hukum juga bermain disitu,” terangnya.

Selain itu, Singapura juga dipilih karena antara Indonesia dan Singapura belum melakukan perjanjian ekstradisi. Sebenarnya perjanjian ekstradisi sudah ditandatangi sejak tahun 2007, namun tidak pernah di ratifikasi oleh parlemen kedua negara, sehingga perjanjian ini seperti tenggelam sebelum muncul ke permukaan. Di satu sisi DPR RI enggan meratifikasi perjanjian ini, karena Parlemen Singapura menjadikannya satu paket dengan kerja sama pertahanan yang dinilai oleh DPR merugikan Indonesia.

Selama perjanjian ekstradisi belum diratifikasi, Indonesia tidak bisa memaksa Singapura untuk memulangkan tersangka korupsi. Anehnya, negara bekas jajahan Inggris ini seakan malah melindungi penjahat kerah putih tersebut. Tak ada niatan yang tulus dari jajaran pemerintah Singapura untuk membantu memulangkan koruptor. Padahal Singapura diyakini tahu persis mengenai kaburnya para koruptor ini.

“Saya kira Singapura tidak lazim menutupi kebohongan itu, bahwa Singapura menjadi tempat persembunyian dan itu merugikan kita,” tutur Wakil Ketua MPR, Hajriyanto Thohari usai Sarasehan Kebangsaan “Pancasila Dalam Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Benegara” di Jakarta.

Sikap tutup mata Singapura ini dinilai beberapa kalangan dalam negeri sebagai hal yang wajar mengingat para koruptor tersebut merupakan salah satu penggerak terbesar ekonomi Singapura. Tak sedikit uang yang di benamkan dalam bentuk deposito dan kebanyakan dari mereka juga melakukan investasi bisnis. Bukan rahasia umum lagi, jika sebagian besar apartemen, kondominium mahal serta perusahaan properti adalah milik orang Indonesia.

Merril Lynch Singapura, sebuah perusahaan konsultan management pernah melakukan survey yang hasilnya terbilang mencengangkan. Pada akhir tahun 2005 total kekayaan orang Indonesia di Singapura diperkirakan mencapai US miliar atau setara dengan Rp800 triliun. Menurut laman online wartanews bisa dipastikan sebagain besar uang tersebut adalah hasil korupsi.

Lebih mencengangkan lagi adalah mengetahui kenyataan bahwa tidak ada satu nama koruptor yang kabur ke Singapura berhasil dipaksa pulang untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Sampai saat ini M.Nazaruddin pun belum terlihat batang hidungnya padahal Komisi Pemberantasn Korupsi telah dua kali memanggilnya untuk menjalani pemeriksaan. Mungkin hanya Gayus Halomoan Tambunan, terpidana 7 tahun ini yang “mau” pulang, tetapi itupun berkat bujuk rayu Satuan Tugas Antimafia Hukum. (*)


wartapedia

Bagikan:Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Comment

loading...


bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

artikel lainnya Singapura, Bungker Persembunyian Koruptor Indonesia

Thursday 31 August 2017 | Post

Artis Strength and Fitness – Cross-Training Rest Day Game Max shoulder touches against the wall. Win…

Saturday 19 August 2017 | Post

Perayaan dirgahayu kemerdekaan Indonesia bersama warga RT 01/07 di Asrama POLANTAS TB Simatupang, Tanjung Timur, Jakarta…

Friday 15 September 2017 | Post

Yuk main tebak-tebakkan. Kota apa yang paling keren? Jawabnya:  kota yang punya perpustakaan baik gedung maupun…

Monday 4 September 2017 | Post

Announcements We will have an open gym from 10am-Noon on Monday. We will be closed the…