ITS Raih Juara di China International Petroleum Student Forum

Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya kembali menorehkan prestasi membanggakan di kancah internasional. Prestasi kini datang dari kolaborasi tim beranggotakan tiga mahasiswa dari Departemen Teknik Geofisika dan Departemen Teknik Kimia yang sukses menyabet juara dua dalam The 3rd Petro-Gathering: China International Petroleum Student Forum yang berlangsung pada 30 Juni – 2 Juli lalu di China University of Petroleum yang diikuti lebih dari 100 mahasiswa dari 18 universitas.

China International Petroleum Student Forum merupakan kegiatan akademis internasional untuk meningkatkan kemampuan aplikasi dan mempromosikan pengembangan komunikasi antar chapter Society of Petroleum Engineer (SPE). Forum ini diselenggarakan oleh Society of Petroleum Engineer China University of Petroleum dan Society of Petroleum Engineer Northen China (SPE-NCI).

Tim ITS yang terdiri dari Dian Yudicia Marpaung,  Frankstein Arphan, Fikrizan Hilmy Andradit berkompetisi pada Design Fracture Fluid bertanding melawan 14 tim dari tujuh negara berbeda. Karya tim ini berupa inovasi fluida yang berfungsi sebagai pemecah batuan reservoir sumber cadangan minyak yang sangat rapat.

Ide cairan fluida ini terinspirasi oleh negara Amerika. Dian Yudicia Marpaung menjelaskan, Amerika telah lebih dulu mengembangkan pengambilan gas dari batuan. Konsep yang belum pernah diterapkan di Indonesia ini kemudian menjadi topik karyanya. Tim berupaya menerapkannya di Indonesia dengan penambahan inovasi baru.

Dian melanjutkan, inovasi barunya yakni membuat sebuah cairan fluida yang mampu memecahkan batuan mengandung shale gas. Sehingga gas tersebut dapat mengalir dari bawah tanah atau sumur ke atas permukaan. “Jika bisa diterapkan, pemecahan batuan ini sangat membantu dalam dunia perminyakan,” tutur mahasiswi Departemen Teknik Kimia ini.

Dalam kompetisi tersebut, hari pertama tim diharuskan membuat cairan secara langsung. Sedangkan di hari kedua, tim mempresentasikan karya dan inovasi kepada juri. Dian bercerita, ketika membuat cairan fluida, ia dan tim mengalami sedikit kendala. “Karena latar belakang keprofesian kami bukan perminyakan jadi sedikit sulit dalam pembuatan fluida,” ucap gadis asal Medan tersebut.

Sebelum kompetisi, tim banyak belajar sendiri mengenai perminyakan. Selain itu dalam pembuatan karya, ia dan tim dibantu oleh seorang alumni Schlumberger, Ignatius Emmanuel.

Dian dan tim berencana mengembangkan inovasi tersebut hingga topik fracture pada unconventional reservoir sebagai solusi ketahanan energi nasional. “Kami juga ingin berkompetisi lagi, setiap masukan dari juri bisa dipertimbangkan untuk mengembangkan inovasi ini,” pungkasnya.
Sumber: its.ac.id (19/07/17), upc.edu.cn


Indonesia Proud

Bagikan:Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Comment