Info Jakarta

pusat informasi di kota jakarta

Menu

Diambang Krisis Pangan 2011

Aug
29
2017
by : . Posted in : Post

Memasuki tahun 2011, dunia dihadapkan kembali dengan krisis pangan. Kerusuhan akibat pangan mulai terjadi di berbagai negara. Harga komoditas pangan secara bertahap mulai naik, akibatnya negara-negara mengalami inflasi. Berbeda dengan tahun 2008, krisis pangan kali ini diprediksi akan lebih hebat. Pasalnya penyebabnya pun berbeda, jika 2008 silam krisis terjadi akibat persoalan cuaca dan bersifat temporer, kali ini peyebabnya lebih komplek.

Wartapedia – Setidaknya ada tiga factor yang disinyalir menjadi penyebab utama . Pertama adalah lonjakan jumlah penduduk, jumlah penduduk Bumi meningkat drastis sehingga permintaan akan pangan ikut melonjak. kedua adalah penggunaan komoditas pangan untuk bahan bakar. Dan yang terakhir adalah meningkatnya kesejahteraan penduduk yang berujung pada kenaikan permintaan komoditas pangan.

Ketiga penyebabnya ini tertuang dalam tulisan yang dipublikasikan Earth Policy Institute yang berjudul The Great Food Crisis of 2011, Presiden Earth Policy Institute Lester R Brown mengungkapkan data-data yang menyentak. Brown dan lembaganya sudah lama telah menjadi otoritas resmi yang dipercaya dunia dalam memprediksi krisis pangan.

Dari sisi komsumsi, ketiga factor tersebut menyebabkan kenaikan konsumsi pangan dalam jumlah yang besar. Dalam 25 tahun terhitung dari tahun 1990-2005, tercatat konsumsi pangan hanya 25 juta ton per tahun, namun kenaikan luar biasa yang angkanya melebihi konsumsi pangan selama lebih dari 25 tahun terjadi antara tahun 2005-2010. Dalam lima tahun terakhir ini, konsumsi pangan menjadi 41 juta ton per tahun. Kenaikan terbesar akibat penggunaan komoditas pangan untuk bahan bakar pada 2006-2008 di Amerika Serikat. Pada masa itu sejumlah komoditas pangan dikonversi menjadi etanol.

Langkah Antisipasi Negara Dunia

Hampir semua negara sudah memprediksi krisis pangan 2011 lebih hebat pengaruhnya dibanding dengan tahun 2008, makanya tak heran jika negara-negara tersebut telah mengambil langkah-langkah antisipasi. Lester R Brown dalam tulisannya menyebutkan, Rusia mengimpor biji-bijian untuk menjaga pasokan pangan bagi sapi hingga musim semu dimulai. India masih sibuk dengan inflasi yang mencapai 18 persen.

Pun demikian dengan Meksiko yang juga memburu jagung untuk mencegah kenaikan makanan pokoknya, tortilla. Sedangkan Thailand menhentikan sementara ekspors berasnya untuk menjaga kebutuhan dalam negeri.

Sementara tiga negara yang dilaporkan FAO akan terkena krisis pangan berat yakni, Indonesia, China dan India juga telah melakukan langkah-langkah antisipatif. Indonesia telah membuat operasi pasar untuk menekan harga beras di pasar dalam negeri. Indonesia juga akan mengimpor 1,3 juta ton beras pada tahun 2011. Saat ini sudah masuk sekitar 500.000 ton.

China tengah mencari akses impor berbagai jenis komoditas pangan. Sedangkan India meneruskan larangan ekspor beras dan gandum. India juga membuat berbagai kebijakan fiskal untuk mengerem kenaikan harga pangan, seperti pembebasan pajak beberapa komoditas impor.

Bioteknologi Solusi Krisis Pangan?

Derasnya permintaan konsumsi pangan tidak dibarengi dengan produktivitas, dari sisi produksi jumlah pangan yang dihasilkan tidak mengalami kenaikan secara signifikan. Teknologi pembenihan yang digadang-gadang bisa menjadi solusi krisis pangan dunia, ternyata belum bisa menjadi juru selamat.

Buktinya, Jepang masih bersandar pada benih padi yang ditemukan 14 tahun lalu. China dan Korea Selatan baru akan menghasilkan padi dengan produktifitas yang mendekati padi Jepang. Di Eropa, hal yang sama juga terjadi. Inggris, Jerman, dan Perancis masih belum bisa meningkatkan produktifitas gandum.

Teknologi pembenihan atau yang akrab dengan istilah bioteknologi sejak diperkenalkan pertama kali pada tahun 1973 memang telah menuai kontroversi. Selain dianggap menyalahi hukum alam, bioteknologi tidak tepat digunakan di negara berkembang, bioteknologi lebih tepat digunakan oleh petani di negara maju yang mempunyai lahan garapan yang luas.

Ilmuwan bioteknologi mengatakan kontroversi teknologi pembenihan lebih disebabkan oleh cepatnya perkembangan bioteknologi sehingga mengejutkan banyak pihak. Kemajuan bioteknologi memang tidak bisa dipungkiri, namun ini hanya dinikmati negara-negara tertentu, maklum saja, penguasaan teknologi ini masih dimonopoli lima perusaahaan besar, yakni Monsanto, Astra Zenneca, DuPon, Novartis dan Avantis.

Klaim bioteknologi yang katanya mampu menghasilkan benih unggul yang mampu berbuah lebih banyak, sehingga membantu menyediakan pangan yang cukup bagi penduduk Bumi, dan memperkaya kandungan gizi serta zat-zat di dalam yang penting bagi kesehatan, dinilai hanya sebagai science fiction.

sumber: kompas


wartapedia

Bagikan:Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Comment

loading...


bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

artikel lainnya Diambang Krisis Pangan 2011

Thursday 22 March 2012 | Post

Question Excerpt From Geografi Q.1)  Hutan-hutan di daerah pegunungan menyebabkan udara segar dan nyaman, fungsi semacam…

Friday 9 March 2012 | Post

EVALUASI 1 I.         Berilah tanda (x) pada salah satu huruf a, b, c, d, atau e…

Wednesday 25 March 2015 | Post

Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial Secara garis besar dilihat dari prosesnya ada dua bentuk interaksi sosial yang terjadi…

Wednesday 4 January 2017 | Post

Untuk melepas kepenatan yang mendera akhir-akhir ini, sengaja pagi ini aku mengajak putra kecilku “Ikbal” yang…