Yang Hangat Di Hati

Akhir-akhir ini berasa gak sih kalau media sosial itu banyak banget yang menebarkan negativity, berita-berita yang bikin panas, atau orang-orang bitter yang bikin kita menghela nafas gede banget. Kayak kurang aja beban hidup kita, eh pas mau refreshing malah lihat begituan. Makin suram tsay.

Kadang gw melakukan detoks media sosial, tidak menghapus sih, tapi menjauhkan diri. Apalagi ketika gw sedang merasa jenuh, penat, dan pengen teriak kesemua hal yang bikin gw gak sreg. Kalian pernah kan di fase ini? Fase dimana hidup lagi pait-paitnya dan yang kita inginkan hanya berkata kasar, seperti “AH DASAR KARPET FUTSAL!”. Wajar kok, hidup toh ga selalu happy terus. Tapi kita tetep harus punya kontrol terhadap diri kita dong. Menurut gw, dengan menjauhkan diri dari media sosial, gw sudah menyelamatkan diri gw sendiri dari perkataan atau tindakan yang sangat mungkin gw sesali nanti. Sudahlah cukup orang-orang yang hidupnya kayaknya semua orang itu salah di mata dia, ga usahlah ditambahi gw. Bacanya aja capek ya kan sama orang-orang yang gitu terus? Negativity consumes your energy, indeed.

Nah, pelarian gw saat kayak gitu adalah ke buku atau serial TV. Gw sengaja pilih yang ringan-ringan emang, biar ga nambah-nambahin mind expense (istilah akuntansi nih, paham ga kalian, mind expense = beban pikiran). Di bawah ini ada beberapa hal yang menurut gw hangatnya bisa menembus sampe ke hati, bikin lumer segala pedih perih (lebay is in the blood emang ye?).

  • Midnight Diner: Tokyo Series

Pas tau Netflix ngeluarin serial ini, gw penasaran karena biasanya serial Netflix kan berat dan mikir (hello Black Mirror!). Tapi yang ini beda, ini hangaaaat sekali. Bercerita tentang Master (iya, karakter utamanya emang dipanggil Master), yang punya kedai makan yang buka hanya di tengah malam. Di kedai ini tidak ada menu, Master akan membuat makanan apapun yang pelanggannya inginkan. Yang membuat hangat adalah kisah dari masing-masing pelanggannya. Terasa sangat humanis sekali dan kita sangat bisa relate ke kehidupan mereka. Tiap episode akan diceritakan dengan menggunakan analogi makanan kesukaan si pelanggan itu, cerdas ya? Selain heartwarming, serial ini juga membuat lapaaaar. Beneran deh, tiap selesai satu episode jadi pengen makan masakan yang dimasak ama Master. MBAHAYA INI, MBAHAYA!

Selain serial ini, gw sempet dapat rekomendasi serial lain dengan tema yang sama, yaitu kisah dan makanan, apparently these two being collided is such a satisfaction to watch for many. Midnight Diner: Tokyo Series ini ada yang garapan Korea juga. Premisnya sama, tapi kisah dan makanannya beda. Pas nonton, sukses membuat gw besokannya ngibrit beli ramyun di supermarket. Serial lain ada Samurai Gourmet, dari Netflix juga, yang ini sukses bikin gw menelan ludah pas adegan bir dingin. Untung hamba sobat Rhoma Irama yang menjauhi mirasantika serta narkoba, narkotik dan cilukba.

  • Komik Hai Miiko

Komik ini sudah ada sejak gw muda belia sampe sekarang buntutnya satu, dan tiap dia terbit bikin gw langsung terbirit-birit ke toko buku. Satu-satunya komik yang gw ga peduli harganya berapa tetap gw beli. Sekilas dilihat, komik ini sungguh sangat kekanakan sekali. Ceritanya berpusat tentang Miiko, bocah kelas 5 SD di Jepang. Walau tokohnya anak anak, komik ini paket kumplit loh, lucu, sedih, menyenangkan, semua ada, dan bisa dinikmati baik anak anak dan kaum tua (seperti saya). Maknanya dalaaaam, diceritakan dengan sederhana dan dari sudut pandang anak anak yang kadang kita lupakan ketika kita menjadi dewasa. Ada juga kisah Miiko dan Tappei yang saling naksir tapi berantem mulu, nostalgic banget ya? Gemeusssh!

Cerita soal bully atau perang bisa diceritakan dengan hangat dan sederhana, bahkan gw sendiri belajar soal parenting dari komik ini. Yang sangat gw kagumi adalah bagaimana si komikus (Ono Sensei) benar benar menaruh seluruh hatinya dalam karyanya, dan itu nyampe ke kita. Terasa jujur dan tulus. Kalau ga Tulus, Vidi Aldiano juga boleh deh (Vidi kemooon!)

Eh ada juga loh komik lokal yang hangatnya sama kayak Hai Miiko, yaitu komik Arigato Macaroni. Kalau pengen baca beberapa nukilan dari komik itu bisa lihat di IG account mereka @ArigatoMacaroni. We need more people like them to warm our hearts with their vibes

  •  Makan Enak Dan Murah Meriah

 Yang ini opsi tambahan ketika hal hal di atas lagi ga tayang atau terbit. Makan enak dan harus murah meriah. Biar apa? Biar ga sedih lagi pas bill datang, hahahahahaha. Kemarin-kemarin ini, gw nemu tempat makan udon yang murah meriah di bilangan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, namanya Don Ya. Masa ya, semangkuk niku udon (udon dengan daging sapi) hangat sudah sama minum dan tempura (gorengan ala Jepang), harganya ga sampe Rp 50,000. Rasanya enaaaak. Beneran enak kayak restoran udon yang di mall mall itu. Emang bener ya kata spanduk warung nasi uduk deket kantor, “Perut Kenyang, Hatipun Tenang”. 

Walau emang efeknya ga instan, tapi seenggaknya hal-hal di atas bikin gw jadi ga bitter-bitter amat lah. Gw juga bukan orang yang selalu positive all the time, we’re just human after all. But at least we have a power over ourself to not spread negativity to the society. Yang membedakan kita dari makhluk Tuhan lainnya adalah kita diberi otak dan hati. Kita bisa memilih apakah kita akan gunakan itu untuk berbuat baik atau untuk menyakiti orang lain. Semoga kita masuk yang pertama ya ceman-ceman. 

Share dong, yang hangat menembus ke hati versi kalian apaan?


Hey Yo! Let’s Go!

Bagikan:Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Comment