stasiun kebayoran

dari jalanan utama, stasiun ini tidak terlihat. dan bisa dibilang gue ga terlalu tahu lewat mana kalau mau pakai mobil ke stasiun kebayoran ini.

dari jalanan utama (jalan arteri), gue masuk ke dalam gang lalu tembus di sebuah jalan kecil di samping stasiun kebayoran ini.
banyak orang diantar ojek online, sayangnya gue ga terlalu perhatiin apakah ada tempat parkir mobil di sini.

dari luar, terlihat gedungnya sangat megah, kontras dengan lingkungan sekitar yang terkesan kumuh.
begitu masuk pagar, langsung naik ke lantai atas. di sana pintu masuk serta loket tempat pembelian tiket, serta bangku bangku untuk menunggu.
entah apa yang ditunggu ya, karena keretanya ada di lantai dasar.

jadi, setelah beli tiket, masuk pintu masuk, selanjutnya adalah >>turun<< lagi ke lantai dasar.

stasiun kebayoran

lantai 2 stasiun kebayoran

terlihat dari foto ini, sangat sangat luas, ujung ke ujung. tapi fungsionalitasnya kurang tahu, apakah memang tujuannya dibuat selebar dan seluas ini untuk menampung penumpang yang keluar masuk, atau memang ‘ya udah, bikin gini aja’

ok, sekarang mari kita ke dalam.
gue sebagai fans cashless, gue mencoba menggunakan e-money gue. begitu di-tap di rolling door pintu masuk, muncul pesan bahwa kartu tidak bisa dipergunakan.

seinget gue ada semacam ‘register’ reader di dekat loket, mungkin gue harus register dulu.
benar, setelah gue tap di ‘register’ tersebut, kartu gue ‘terdaftar’ dan langsung menampilkan rupiah yang tersimpan di dalamnya.
kembali ke rolling door, tap, lampu hijau, bisa masuk.

setelah masuk, kemudian turun lagi ke lantai dasar.
nah di sana ternyata masih ada bangunan asli stasiun kebayoran ini. tampaknya dijadikan ruang kantor

stasiun kebayoran

gedung lama stasiun kebayoran

kantor pengatur perjalaan kereta

kantor pengatur perjalaan kereta

Filed under: jakarta, kendaraan
Jakarta’s byte bite

Bagikan:Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Comment