Dwi Hartanto Raih Prestasi Gemilang pada Kompetisi Aerospace Tingkat Dunia di Jerman

Dwi Hartanto, diaspora Indonesia yang menekuni penelitian di bidang kedirgantaraan, mengharumkan nama bangsa, dengan menorehkan prestasi pada kompetisi riset teknologi dunia antar Space Agency pada 30 April 2017 di Cologne, Jerman.

Dwi beserta tim sukses menapakkan kakinya di podium tertinggi. Saingannya dalam ajang prestisus yang dihelat di Jerman itu merupakan ilmuwan-ilmuwan handal perwakilan dari Space Agency negara maju, seperti ESA (Eropa), NASA (Amerika), DLR (ESA/Jerman), ESTEC (ESA/Belanda), JAXA (Jepang), UKSA (Inggris), CSA (Kanada), KARI (Korea), AEB (Brazil), INTA (Spanyol), dan masih banyak lagi.

“Kompetisi tersebut menghadirkan topik-topik riset dengan teknologi tinggi. Bahkan, tahapan seleksi masuknya juga tidak mudah. Sebelum masuk ke tahap final di Cologne, para ilmuwan harus melewati tahap seleksi internal di masing-masing Space Agency,” ujar Dwi.

Keberhasilan Dwi dalam ajang prestisius tersebut, khususnya pada kategori spacecraft technology tak lepas dari ide briliannya dalam menciptakan sebuah riset berjudul ‘Lethal Weapon in The Sky‘ atau ‘Senjata yang Mematikan di Angkasa’. Kandidat profesor muda bidang aerospace engineering itu pun mampu menghasilkan sejumlah teknologi utama yang kemudian dipatenkan.

“Sesuai dengan judul, saya dan tim mengembangkan pesawat tempur modern yang disebut sebagai pesawat tempur generasi keenam atau 6th generation fighter jet. Hal ini berawal dari keberhasilan kami ketika diminta untuk membantu mengembangkan pesawat tempur EuroTyphoon di Airbus Space and Defence menjadi EuroTyphoon Next Generation,” tuturnya.

Doktor yang meraih titel Ph.D di Technische Univesiteit Delft, Belanda itu menjelaskan, saat ini perkembangan teknologi pesawat tempur memasuki level yang lebih tinggi, yakni era pertempuran pesawat abad baru. Untuk itu, Dwi mengembangkan mesin pesawat tempur modern yang disebut dengan hybrid air-breathing rocket engine. Teknologi baru ini, kata dia, mampu membuat pesawat melesat, baik di dalam jangkauan atmosfer bumi maupun jangkaun di luar atmosfer.

“Sedangkan tipikal jet tempur generasi sebelumnya tidak dapat terbang seperti itu karena keterbatasan oksigen,” sebutnya.

Selama mempresentasikan inovasinya, Dwi memaparkan berbagai keunggulan pesawat yang sedang dikembangkan bersama timnya tersebut. Salah satunya, komponen pesawat berupa wing dan airframe body streamline aerodinamis dengan struktur yang solid untuk menunjang beragam manuver sulit. Hasilnya, banyak orang merasa penasaran, termasuk beberapa perwakilan dari Lockheed Martin dan NASA/JPL yang tertarik dengan teknologi ciptaannya.

“Bahkan sebelum saya sempat kembali ke tempat duduk, ada beberapa orang sedang menunggu dan menghampiri dengan raut muka sangat serius. Ternyata mereka tertarik dan menawarkan kerja sama strategis,” kenang alumnus Tokyo Institute of Technology itu.

Dengan capaian yang luar biasa tersebut, Dwi ingin menyampaikan kepada masyarakat luas, terutama dari kalangan akademisi dan peneliti supaya tidak takut untuk berinovasi. Menurut dia, Indonesia memiliki potensi sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni untuk menguasai bidang teknologi tinggi.

“Ajang ini salah satu pembuktiannya. Jadi jangan pernah pesimis, takut, apalagi berkecil hati apabila punya cita-cita yang tinggi, terutama yang berkaitan dengan program strategis kebangsaan untuk masa depan. Tetaplah menjadi pribadi yang ulet dan pantang menyerah,” tutup pria yang telah memegang tiga paten dalam bidang spacecraft technology itu.

Bertemu Habibie dan Ditawarkan Jadi Warga Negara Belanda

Dwi juga pernah diundang bertemu oleh Habibie. Pria asal Yogyakarta tersebut sempat berpikir ada apa tokoh sekaliber Habibie ingin menemui dirinya. Selang beberapa lama, pertemuan dua generasi itu pun terlaksana dalam suasana nonformal dan santai di sebuah restoran di Den Haag, Belanda.

Tentu saja, putra pasangan Chamdani dan Astri itu sangat bangga bisa bertemu berdua dengan salah seorang tokoh besar negeri ini tersebut. Memang, itu bukan pertemuan pertama mereka. Dwi pernah bertemu dengan Habibie sebelumnya, tapi bersama banyak orang.

Selain berbincang tentang keilmuan, Habibie meminta Dwi bersedia membantu negara meningkatkan mutu pendidikan tinggi. Dwi pun menyanggupi permintaan pakar pesawat terbang tersebut. Karena itu, dia bersedia pulang untuk berbagi ilmu dan pengalaman dengan stakeholder pendidikan tinggi di Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Dwi juga curhat soal kegetolan pemerintah Belanda menawari dirinya paspor Negeri Kincir Angin. Ia ditawarkan WN Belanda karena riset yang dilakukan sangat sensitif. Riset-riset Dwi bersama para guru besar dari Technische Universiteit (TU) Delft selama ini menggarap bidang national security Kementerian Pertahanan Belanda, European Space Agency (ESA), NASA, Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA), serta Airbus Defence.

Salah satu riset sensitif yang dia garap adalah teknologi roket untuk militer dan misi luar angkasa. Dwi juga menggarap satelit untuk riset luar angkasa serta pertahanan dan keamanan (hankam). Dia terlibat pula dalam penyempurnaan teknologi pesawat tempur Eurofighter Typhoon generasi anyar milik Airbus Defence.

’’Riset bidang itu kan sensitif sekali jika digarap orang dari negara lain,’’ kata ilmuwan muda yang masih betah membujang tersebut. Sejauh ini, doktor bidang aerospace engineering itu mampu menolak dengan halus.

’’Pak Habibie bilang, kalau pemerintah Belanda masih menawari lagi, saya disuruh melapor ke beliau. Nanti beliau yang menghadapi pemerintah Belanda,’’ kenang Dwi.

Habibie mewanti-wanti agar Dwi tetap keukeuh mempertahankan prinsip kewarganegaraannya. Jangan sampai mau pindah kewarganegaraan di Belanda. Perkara bekerja untuk perusahaan internasional atau bahkan membantu pemerintah Belanda, itu sah-sah saja.

’’Kamu jangan sampai mencabut jati diri dan kewarganegaraan Indonesia-mu,’’ pesan Habibie.

Wanti-wanti suami almarhumah Ainun Habibie itu menguatkan pesan yang disampaikan orang tua Dwi. Setiap pulang ke Jogja, misalnya saat Lebaran, orang tuanya selalu berpesan supaya Dwi tidak lupa asal muasalnya.

Sumber: ristekdikti.go.id (26/05/17), batampos.co.id (22/12/16)


Indonesia Proud

Bagikan:Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Comment