Beristirahatlah, Jakarta!

Wajah-wajah kelelahan nampak dalam setiap peron stasiun KRL, halte busway, angkot, ojek-ojek online yang nantinya akan membawa mereka kembali pulang ke naungan masing-masing. Pada setiap sore, menjelang malam, mendekati pergantian hari, terus berulang lagi di keesokan hari. Dalam lelahnya, mereka memisahkan dari dunia nyata dan membangun tembok sendiri-sendiri. Dunia yang terdiri dari; ‘dirinya-dan-gawainya’.

Bermacam informasi -yang tak jarang dibaca dari portal berita karbitan- dilahap dalam waktu sepersekian jam di perjalanan. Dilanjut dengan membuka media sosial, membaca lagi tautan-tautan berita yang dibagikan oleh lingkaran pertemanan setelah dibubuhi caption lengkap dengan tagar terhadap suatu isu yang lagi hangat-hangatnya. Lalu atas dasar karena merasa ikut tahu dengan isu tersebut, atau hasrat ingin memberikan pandangan lain, tidak sepakat atas opini teman, maka tak afdol rasanya jika tak turut memberikan komentar. Yang padahal, ternyata mereka ini berada dalam kondisi serba diburu waktu, dan media-media pada gawainya hanya dijadikan tempat pelarian dari kelelahan.

Menurut penelitian, seseorang akan menurun kemampuan mengendalikan diri saat dalam keadaan lelah. Penelitian lain menyebutkan, bahwa rata-rata orang dewasa kurang mampu mengendalikan diri saat jam kerja dan menjadi semakin tak bermoral di sore hari (Barnes, et al. 2014). Sungguh terasa wajar apabila ditemukan beragam keluhan, sumpah serapah, tingkah saling memojokkan, komentar bermakna negatif pada akun media sosial orang-orang kota, terlebih Jakarta, karena memang hampir semua informasi bersumber dari kota gagap ini.

Jika ada yang mampu membuat alat konversi amarah menjadi tenaga listrik, semua luapan kelelahan yang berserakan di setiap kanal sosial dan informasi, jangankan menghemat puluhan triliun APBN, rasanya lebih dari sekadar membantu hitung-hitungan Made Suprateka untuk membangun jaringan listrik bagi 2.500 desa di Indonesia yang belum menikmati peradaban akibat keserakahan Jakarta, demi memfasilitasi kebutuhan tiap manusia yang menggantungkan hidup padanya.

Maka, izinkanlah saya membayangkan Jakarta suatu waktu agar dilumpuhkan saja barang 72 jam, tanpa asupan listrik dan energi fosil lainnya untuk bergerak. Semua dialihkan sejenak bagi kepentingan elektrifikasi bagi desa-desa di Murung Raya, Sukamara, Sidoarjo, dan ribuan desa yang belum menikmati penerangan. Dalam tiga hari penuh, Jakarta akan benar-benar senyap seperti kota mati New York City pada film I Am Legend karena orang-orang di dalamnya telah bermutasi akibat terinfeksi virus saat sistem kekebalan tubuh tak mampu lagi mengendalikannya.

Akankah dunia baru terbentuk karena tiap-tiap mereka telah rela merobohkan tembok ‘dirinya-dan-gawainya’ dalam beberapa jam, dan Jakarta menjadi lebih tenang setelah dipaksa beristirahat. Sebelum sebagian besar orang-orang di Jakarta berubah menjadi zombie kanibal pesakitan yang memakan otak manusia sehat lainnya demi untuk bertahan diri, karena toh kita tidak punya si jagoan Will Smith untuk memulihkan kota menjadi sedia kala.


Ngopi (di) Jakarta

Bagikan:Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Comment