Info Jakarta

pusat informasi di kota jakarta

Menu

TENAGA EKSOGEN

Mar
25
2015
by : PakdheBudi Kayamara. Posted in : Post
Tenaga Eksogen, Tenaga eksogen ialah tenaga yang berasal dari luar bumi yang berpengaruh terhadap permukaan bumi. Tenaga eksogen dapat menyebabkan relief permukaan bumi berubah. Proses perubahan muka bumi dapat berlangsung secara mekanis, biologis, maupun secara kimiawi. Tenaga eksogen ini

menyebabkan terjadinya pelapukan, erosi, gerak massa batuan, dan sedimentasi yang bersifat merusak bentuk permukaan bumi.

a.    Pelapukan
             Pelapukan merupakan proses hancurnya batuan dari yang besar menjadi batuan yang kecil. Terjadinya pelapukan disebabkan faktor batuan, iklim, topografi, dan vegetasi. Menurut proses terjadinya, pelapukan dibedakan atas pelapukan mekanik, pelapukan kimiawi, dan pelapukan biologis.
1)    Pelapukan mekanik
              Pelapukan mekanik (fisik) merupakan peristiwa hancur dan terlepasnya material dari batuan induk tanpa mengalami perubahan unsur kimia yang dikandungnya. Pelapukan ini disebabkan oleh sinar matahari, air, perubahan suhu, hujan, dan angin yang terjadi secara berulang-ulang.
2)    Pelapukan kimiawi
              Pada pelapukan ini, peristiwa hancur dan terlepasnya material dari batuan induk disertai perubahan unsur kimia. Perubahan unsur kimia terjadi ketika unsur mineral batuan bereaksi dengan unsur kimia yang berasal dari luar, misalnya dengan oksigen atau air. Pelapukan ini sering terjadi di daerah tropik dengan batuan kapur. Contoh pelapukan kimiawi ialah stalaktit dan stalagmit.
3)    Pelapukan organik
              Pelapukan organik merupakan peristiwa hancur dan terlepasnya material dari batuan induk disebabkan oleh kegiatan makhluk hidup: vegetasi, hewan, dan manusia. Pelapukan biologi atau organik biasanya diikuti oleh pelapukan kimiawi.
b.    Erosi
             Erosi, yaitu proses pengikisan permukaan bumi yang disebabkan oleh air yang mengalir, angin, es, gelombang air laut, serta air tanah.
1)    Jenis erosi menurut tenaga pengikisnya
a)    Air mengalir (sungai), yaitu erosi yang disebabkan oleh air mengalir, sehingga bahan material seperti batuan dan tanah terbawa oleh air sungai.
b)    Erosi es (gletser), yaitu erosi yang dilakukan oleh gletser/lapisan es yang mencair di daerah pegunungan.
c)    Erosi angin, yaitu erosi yang dilakukan oleh angin. Erosi ini biasanya terjadi di daerah gurun.
d)    Erosi laut (pantai) yaitu erosi yang disebabkan oleh ombak atau gelombang laut sehingga pantai menjadi tererosi. Contohnya  erosi yang terjadi di pantai barat Pulau Sumatra dan Pulau Jawa.
e)    Erosi air tanah yaitu erosi yang disebabkan oleh pemindahan tanah sebagian atau seluruhnya. Erosi air tanah pada umumnya terjadi di daerah yang curah hujannya tinggi dan daerahnya kering.
2)    Macam-macam erosi berdasarkan pengikisannya dapat dibedakan menjadi 2, yaitu sebagai berikut.
a)    Abrasi, yaitu erosi yang diakibatkan oleh tenaga gelombang air laut. Contohnya adalah cliff. Cliff, yaitu bentuk pantai yang dinding bagian atas menggantung, sedangkan dinding bagian bawah terkikis oleh gelombang laut. Bentuk pantai cliff biasanya terdapat di daerah kapur misalnya di daerah pantai selatan Jawa.
b)    Abrasi, yaitu erosi yang disebabkan oleh air yang mengalir. Bentuk erosi air dapat dibedakan menjadi 5 sebagai berikut.
(1) Erosi permukaan (sheet erosion), yaitu erosi yang terjadi jika air permukaan bergerak menuruni lereng dan mengangkut partikel-partikel tanah.
(2) Erosi alur (rill erosion), yaitu erosi yang terjadi jika tanah yang tererosi berbentuk alur.
(3) Erosi percikan (splash erosion), yaitu erosi yang terjadi karena tetesan air hujan yang memecahkan tanah atau batuan dan menghempaskannya.
(4) Erosi air terjun (water fall erosion),yaitu erosi yang disebabkan oleh air terjun pada lereng-lereng yang terjal.
(5) Erosi parit (gully erosion), yaitu erosi yang terjadi di daerah alur air atau di sungai Orosi ini merupakan perkembangan erosi alur.
3)    Pengaruh erosi terhadap perubahan bentuk permukaan bumi
a)    Gunung yang tinggi menjadi rendah.
b)    Daratan yang tinggi menjadi rendah dan sebaliknya dikarenakan proses sedimentasi.
c)    Terjadi bentukan permukaan bumi yang datar dan sekitarnya terdapat bukit sisa pegunungan yang dinamakan peneplain.
d)    Jurang yang dalam semakin dangkal akibat sedimentasi ketika terjadi erosi pada dinding tebing dan lereng gunung.
c.    Sedimentasi
             Sedimentasi merupakan kelanjutan dari proses erosi. Sedimentasi ialah pengendapan material hasil erosi air, angin, gelombang laut, dan gletser. Pengendapan dapat ditemui mulai dari pegunungan, lembah sungai, pantai, dasar laut dangkal, sampai dasar laut dalam. Berdasarkan tempat pengendapannya, proses sedimentasi dapat dibedakan atas sedimentasi fluvial, sedimentasi eolis, dan sedimentasi pantai.
1)    Sedimentasi fluvial
              Sungai merupakan pelaku efektif dalam proses erosi. Dengan demikian, sungai juga merupakan pelaku efektif dalam proses sedimentasi. Proses pengendapan materi yang diangkut sungai dan diendapkan di sepanjang aliran sungai, danau, waduk, atau muara sungai inilah yang disebut sedimentasi fluvial. Contoh hasil sedimentasi fluvial, antara lain bantaran sungai, delta, dan meander (aliran sungai yang berkelok-kelok). Adapun sedimen di danau disebut sedimen lakustrin.
2)    Sedimentasi oleh air laut
              Sedimentasi air laut yang disebut juga sedimentasi marine ini disebabkan oleh abrasi pantai yang kemudian diendapkan kembali di seputar pantai. Ada berbagai bentuk sedimentasi oleh air laut. Bentuk-bentuk sedimentasi yang mudah kamu temui antara lain pesisir dan bukit pasir (sund dune).
3)    Sedimentasi oleh angin
              Kamu tentunya pernah merasakan diterpa debu yang diterbangkan angin. Itu adalah salah satu contoh peranan angin dalam memindahkan materi alam. Bukan hanya debu yang dapat dibawa oleh angin. Pasir pun dapat diterbangkan angin. Pasir dan debu yang dibawa oleh angin akan membentuk bukit-bukit pasir (sand dune). Pengendapan oleh angin ini disebut sedimentasi eolis.
4)    Sedimentasi oleh gletser
              Gletser yang membawa material akan mengendap. Pengendapan berupa gundukan bantuan yang tertinggal di ujung gletser. Bentuknya dapat berupa moraine, kettles, esker, dan drumline.
d.    Pengangkutan material (mass wasting)
             Pengangkutan material (mass wasting) terjadi karena adanya gaya gravitasi bumi sehingga terjadi pengangkutan atau perpindahan material dari satu tempat ke tempat lain. Proses mass wasting berlangsung dalam empat jenis pergerakan material, yaitu sebagai berikut.
1)    Pergerakan pelan/rayapan
              Rayapan merupakan bentuk dari jenis pergerakan lambat pada proses mass wasting. Rayapan adalah gerakan tanah dan puing batuan yang menuruni lereng secara pelan dan biasanya sulit untuk diamati, kecuali dengan pengamatan yang cermat. Rayapan terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu sebagai berikut.
a)    Rayapan tanah, yaitu gerakan tanah menuruni lereng.
b)    Rayapan talus, yaitu gerakan puing batuan hasil pelapukan pada lereng curam yang menuruni lereng.
c)    Rayapan batuan, yaitu gerakan blok-blok secara individual yang menuruni lereng.
d)    Rayapan batuan gletser (rock glatsyer creep), yaitu gerakan lidah-lidah batuan yang tercampak menuruni lereng.
e)    Solifluksi (solifluction), yaitu aliran pelan masa batuan yang banyak mengandung air menuruni lereng di dalam saluran tertentu.
2)    Pergerakan cepat
              Jenis pergerakan ini dapat dibagi sebagai berikut.
a)    Aliran tanah, yaitu gerakan berlempung atau berlumpur yang banyak mengandung air menuruni teras atau lereng perbukitan yang kemiringannya kecil.
b)    Aliran lumpur, yaitu gerak puing batuan yang banyak mengandung air menuruni saluran tertentu secara pelan hingga sangat cepat.
c)    Gugur puing, yaitu puing-puing batuan yang meluncur di dalam saluran sempit menuruni lereng curam.
3)    Longsor lahan (landslide)
              Gerakan yang termasuk dalam kategori ini merupakan jenis yang mudah diamati, dan biasanya berupa puing massa batuan. Gerakan tersebut dapat dibagi sebagai berikut.
a)    Luncuran, yaitu gerakan penggelinciran dari satu atau beberapa unit puing batuan atau biasanya disertai suatu putaran ke belakang pada lereng atas di tempat gerakan tersebut terjadi.
b)    Longsor puing, yaitu peluncuran puing batuan yang tidak terpadatkan dan berlangsung cepat tanpa putaran ke belakang.
c)    Jatuh puing, yaitu puing batuan yang jatuh hampir bebas dari suatu permukaan yang vertikal atau menggantung.
d)    Longsor batu, yaitu massa batuan yang secara individu meluncur atau jatuh menuruni permukaan lapisan atau sesaran.
e)    Jatuh batu, yaitu blok-blok batuan yang jatuh secara bebas dari lereng curam.
4)    Amblesan (subsidensi)
                        Amblesan, yaitu pergeseran tempat ke arah bawah tanpa permukaan bebas dan tidak menimbulkan pergeseran horizontal. Hal ini umumnya terjadi karena perpindahan material secara pelan-pelan di daerah massa yang ambles.
Bagikan:Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Comment

loading...


bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

artikel lainnya TENAGA EKSOGEN

Tuesday 20 June 2017 | Post

    SANGGAR BADUT MODERN JAKARTA.( nomor NPWP: 69.883.427.2-008.000.) menyediakan aneka paket hiburan untuk meriahkan PESTA…

Tuesday 7 February 2017 | Post

Planning a trip to Australia? You’ll be spoilt for choice – we’ve got more than just…

Monday 7 March 2016 | Post

Showing results for CARA MEMBANGUN ONLINE SHOP Search instead for CARA MEMBANGUN ONLINESSHOP Search Results Cara…

Thursday 27 July 2017 | Post

Pemandu wisata pelabuhan Sunda Kelapa mendayung perahunya. Selain untuk bongkar muat kapal logistik, pelabuhan Sunda Kelapa…