Menu

PROSES PEMBENTUKAN MUKA BUMI

Mar
25
2015
by : PakdheBudi Kayamara. Posted in : Post

Proses Pembentukan Muka Bumi

Bumi yang bulat mempunyai susunan mirip telur. Kuning telur mewakili inti bumi (core), putih telur mewakili selubung bumi (mantle), dan cangkangnya mewakili kerak bumi(crust). Kerak ini berkembang pada masa

Arkaeozoikum. Ketebalan kerak Bumi yang kita tinggali ini hanya 30-80 km. Di dasar samudra kerak bumi lebih tipis lagi, yaitu antara 5-7 km. Tebal lapisan selubung bumi yang berada di bawah kerak bumi mencapai kedalaman sampai 2.900 km. Selubung dibagi dua, yaitu lapisan atas dan lapisan bawah. Lapisan atas bersifat lembek, sangat panas, dan dapat mengalir keluar. Selubung di lapisan bawah lebih padat dan tegar karena tekanan di dalam bumi yang besar. Bagian inti berupa material nikel besi bersifat cair dan sangat panas di lapisan luar.

             Suhu yang sangat panas (di atas 3.000°C) dan tekanan yang kuat membuat inti bumi selalu bergolak. Pergolakan ini menimbulkan tenaga yang mahadahsyat sehingga menekan batuan cair pada saat selubung terdesak keluar ke permukaan bumi dan akhirnya membentuk muka bumi. Tenaga yang berasal dari dalam bumi inilah yang disebut tenaga endogen. Ketika tenaga endogen bekerja, muka bumi yang telah terbentuk akan diubah oleh tenaga dari luar bumi yang disebut tenaga eksogen. Inilah dua tenaga yang memegang peranan di wajah bumi. Berikut dijelaskan tentang kedua tenaga tersebut membentuk wajah bumi dan bentang alam yang dihasilkannya.
1.    Tenaga Endogen
             Tenaga endogen, yaitu tenaga pembentuk permukaan bumi yang berasal dari dalam bumi. Dalam proses pembentukan permukaan bumi, tenaga endogen ini bersifat membangun atau membentuk permukaan bumi baru. Termasuk tenaga endogen, antara lain vulkanisme, seisme/gempa bumi, dan gerak tektonik.
a.    Tektonisme (Diastropisme)
             Gerak tektonik ialah gerakan naik turun serta mendatar dari lempeng kulit bumi sehingga saling mendekat, menjauh, dan bahkan saling bertumbukan. Berdasarkan kecepatan gerakan dan luas wilayah yang terkena pengaruh, tektonisme dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.
1)    Gerak epirogenesa
              Gerakan ini berlangsung dengan sangat pelan sehingga kadang tidak kita rasakan. Gerakan ini meliputi wilayah yang luas dan tanda-tandanya dapat dilihat dari adanya perubahan garis pantai. Gerakan ini dibedakan menjadi epirogenesa positif dan negatif. Epirogenesa positif ditandai dengan adanya kenaikan permukaan air laut sehingga garis pantai pindah ke daratan karena daratan mengalami penurunan. Sementara itu, epirogenesa negatif ditandai dengan permukaan air laut yang menurun. Salah satu tandanya adalah pantai yang berteras karena mengalami kenaikan atau pengangkatan berulang kali.
2)    Gerak orogenesa
              Gerakan ini merupakan gerakan pembentuk pegunungan lipatan maupun patahan. Gerak orogenesa terjadi dalam waktu yang relatif lebih singkat dan meliputi daerah yang lebih sempit.
a)    Lipatan
             Lipatan terjadi ketika dua lempeng kerak bumi yang saling berhadapan bertabrakan. Lapisan batuan pada kerak bumi mendapat tekanan hebat yang menyebabkan pelipatan lapisan batuan. Proses pelipatan lapisan batuan ini merupakan awal pembentukan pegunungan lipatan. Contohnya, pembentukan pegunungan lipatan Himalaya. Terlipatnya lapisan batuan ini dapat mendorong terbentuknya perbukitan (antiklinal) dan lembah (sinklinal). Dalam suatu wilayah yang luas terkadang juga dapat dijumpai deretan antiklinal secara berulang-ulang (antiklinorium) maupun rangkaian sinklinal (sinklinorium). Tekanan dengan tingkat tenaga yang berlainan pada lapisan batuan dapat membentuk lipatan yang berbeda. Berikut ini gambaran terjadinya antiklinorium dan sinklinorium serta jenis lipatan batuan.
b)    Patahan
             Patahan terjadi karena tenaga yang bekerja pada kulit bumi secara vertikal dan horizontal secara bersama-sama sehingga menyebabkan kulit bumi patah dan retak. Patahan ini biasanya terjadi pada kulit bumi yang tidak elastis. Contohnya, Patahan Semangko (Pulau Sumatra) serta Patahan Matano dan Pulau Karo di Pulau Sulawesi. Bentuk yang bisa dilihat sebagai akibat dari adanya patahan, antara lain sebagai berikut.
(1) Horst, yaitu lapisan tanah yang lebih tinggi dari tanah sekitarnya karena terjadi patahan.
(2) Graben, (slenk/terban) yaitu lapisan tanah yang lebih rendah dari tanah di sekitarnya karena terjadi patahan.
(3) Sesar, yaitu patahan yang diakibatkan oleh gerak horizontal yang tidak frontal dan hanya sebagian saja yang bergeser.

Horst

 

Graben

 

Sesar

 

 

                                                                              
                                                        
                                   
b.    Vulkanisme
             Vulkanisme merupakan proses keluarnya magma ke permukaan bumi. Keluarnya magma ke permukaan bumi pada umumnya melalui retakan batuan, patahan, dan pipa kepundan pada gunung api. Jika magma yang berusaha keluar tidak mencapai permukaan bumi, proses ini disebut intrusi magma. Jika magma sampai di permukaan bumi, proses ini disebut ekstrusi magma. Magma yang sudah keluar ke permukaan bumi disebut lava.
1)    Intrusi magma
              Intrusi magma adalah aktivitas magma di dalam lapisan litosfer, memotong atau menyisip litosfer dan tidak mencapai permukaan bumi. Intrusi magma disebut juga plutonisme. Bentuk-bentuk intrusi magma sebagai berikut.
a)    Batolit, yaitu batuan beku yang terbentuk di dalam dapur magma (ukuran besar).
b)    Lakolit, yaitu batuan beku yang berasal dari resapan magma yang menekan ke atas sampai bagian atas cembung dan bagian bawah datar.
c)    Sill, yaitu batuan beku yang berasal dari magma yang menyusup sejajar dengan
        lapisan batuan pada kerak bumi, bila tidak sejajar terbentuklah dike.
d)    Diatrema/pipa kepundan, yaitu saluran jalan keluarnya magma dari dapur magma
        menuju permukaan bumi.
e)    Lubang kepundan,  yaitu ujung pipa kepundan di permukaan bumi.
f)     Kawah, yaitu tempat keluarnya magma di permukaan bumi.
2)    Ekstrusi magma
              Ekstrusi magma adalah kegiatan magma yang mencapai permukaan bumi. Ekstrusi magma merupakan kelanjutan dari intrusi magma. Bahan yang dikeluarkan pada saat terjadi proses ekstrusi magma, terutama ketika terjadi letusan gunung api adalah dalam bentuk material padat yang disebut eflata/piroklastik, sedangkan dalam bentuk cair berupa lava dan lahar, serta dalam wujud gas, seperti belerang, nitrogen, gas asam arang, dan gas uap air.
a)    Ekstrusi sentral, yaitu magma keluar melalui sebuah saluran magma (pipa kawah) dan membentuk gunung-gunung yang letaknya tersendiri. Ekstrusi melahirkan beberapa tipe letusan gunung api. Misalnya, Gunung Krakatau dan Gunung Vesuvius.
b)    Ekstrusi linier, yaitu magma keluar melalui retakan atau celahan yang memanjang sehingga mengakibatkan terbentuknya deretan gunung api yang kecil-kecil di sepanjang retakan itu. Misalnya, Gunung Api Laki di Pulau Eslandia serta deretan gunung api di Jawa Barat dan Jawa Timur.
c)    Ekstrusi areal, yaitu magma keluar melalui lubang yang besar, karena magma terletak sangat dekat dengan permukaan bumi sehingga magma menghancurkan dapur magma yang menyebabkan magma meleleh keluar ke permukaan bumi. Misalnya, Yellow Stone National Park di Amerika Serikat yang luasnya 10.000 km².
              Bentuk, ukuran, dan sifat gunung api di permukaan Bumi banyak sekali macamnya. Ada gunung yang puncaknya sangat tinggi sehingga selalu diselimuti salju, ada pula gunung yang puncaknya di bawah permukaan laut. Ini menyebabkan gunung api memiliki banyak tipe. Menurut bentuknya gunung api dapat dikelompokkan menjadi 3 jenis yaitu sebagai berikut.
a)    Gunung api kerucut (strato)
             Gunung api strato terjadi sebagai akibat tumpukan berlapis-lapis bahan yang dikeluarkan oleh gunung selama beraktivitas. Ciri gunung api strato adalah puncak gunung yang berbentuk runcing atau lancip seperti kerucut. Jenis ini banyak terdapat di Indonesia. Contoh: Gunung Merapi terjadi, di Jawa Tengah, Gunung Semeru di Jawa Timur.

 

 

                                                         
b)    Gunung api corong (maar)
             Gunung api jenis maar terjadi karena adanya letusan yang besar sekali saja, dan membentuk kepundan. Ciri gunung api maar adalah memiliki puncak yang kepundannya lebar berbentuk corong dan dikelilingi dinding yang tebal. Contoh: Gunung Lamongan Jawa Timur, Gunung Effel di Jerman.

 

 
                                                         
c)    Gunung api perisai (tameng/perisai)

 

             Gunung api perisai terjadi karena pada saat gunung api meletus mengeluarkan material melalui lubang kepundan yang bentuknya cair, suhunya  tinggi dan dengan gerak cepat. Ciri gunung api perisai ialah memiliki puncak yang lebar atau rata. Contoh: Gunung Maona Loa dan Gunung Maona Kea di Kepulauan Hawai.
                                   
               Berdasarkan aktivitasnya, gunung api dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu sebagai berikut.
a)    Gunung aktif, yaitu gunung api yang masih bekerja, kawahnya selalu mengeluarkan asap, serta menimbulkan gempa, dan letusan. Contohnya Gunung Stromboli.
b)    Gunung mati, yaitu gunung api yang sejak tahun 1600 sudah tidak meletus lagi. Contoh: Gunung Sumbing dan Gunung Pasuka.    
c)    Gunung istirahat, yaitu gunung yang sewaktu-waktu dapat meletus kemudian istirahat kembali. Contoh Gunung Kelud di Jawa Timur dan Gunung Cermai di Jawa Barat.
c.    Gempa Bumi (Seisme)
             Gempa bumi adalah getaran yang dirasakan di permukaan bumi yang berasal dari dalam lapisan-lapisan bumi. Alat untuk mengukur kekuatan gempa disebut seismograf. Hiposentrum adalah pusat gempa yang berada di dalam bumi. Daerah di permukaan bumi tepat tegak lurus di atas hiposentrum disebut episentrum. Episentrum merupakan pusat gempa di atas permukaan bumi.
             Gempa bumi terdiri atas beberapa macam berdasarkan kriteria tertentu, antara lain sebagai berikut.
1)    Berdasarkan terjadinya, gempa bumi dibagi menjadi tiga, yaitu sebagai berikut.
a)    Gempa bumi tektonik adalah gempa bumi yang terjadi karena adanya gerakan tektonik.
b)    Gempa bumi vulkanis adalah gempa bumi yang terjadi karena kegiatan gunung api atau peristiwa vulkanisme. Gempa bumi ini dapat terjadi sebelum, selama, dan sesudah terjadinya letusan gunung berapi.
c)    Gempa bumi runtuhan (terban) adalah gempa bumi yang terjadi pada gua-gua dan terowongan-terowongan, yang dikarenakan oleh beratnya dinding atau adanya getaran tenaga endogen yang menyebabkan runtuhnya dinding gua dan dinding terowongan. 
2)    Berdasarkan lokasinya, gempa bumi dibagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut.
a)    Gempa lautan (gempa tsunami) adalah gempa bumi yang episentrumnya terletak di dasar laut.
b)    Gempa daratan adalah gempa bumi yang episentrumnya terletak di darat.
3)    Berdasarkan kedalaman hiposentrumnya, gempa bumi dibagi menjadi tiga, yaitu sebagai berikut.
a)    Gempa dangkal adalah gempa bumi yang kedalaman hiposentrumnya kurang dari 50 km dari permukaan bumi.
b)    Gempa intermedier (sedang) adalah gempa bumi yang kedalaman hiposentrumnya adalah 50-300 km dari permukaan bumi.
c)    Gempa dalam adalah gempa bumi yang kedalaman hiposentrumnya 300-700 km dari permukaan bumi.
c)    Gempa dalam adalah gempa bumi yang kedalaman hiposentrumnya 300-700 km dari permukaan bumi.
4)    Berdasarkan kecepatan gelombang gempa, gempa bumi dibagi menjadi tiga, yaitu sebagai berikut.
a)    Gelombang primer adalah getaran gelombang gempa dari hiposentrum merambat ke segala arah dengan kecepatan 4-7 km/detik. Gelombang ini merambat secara longitudinal.
b)    Gelombang sekunder adalah getaran gelombang gempa dari hiposentrum merambat ke segala arah dengan kecepatan 2-5 km/detik. Gelombang ini disebut juga dengan gelombang transversal.
c)    Gelombang panjang adalah getaran gelombang gempa yang merambat di permukaan  bumi dengan kecepatan rambat yang lebih rendah. Gelombang ini sering disebut dengan gelombang permukaan.
5)    Jenis gempa menurut intensitasnya
        Menurut kekuatan/intensitasnya, gempa bumi dibedakan menjadi dua berikut ini.
a)    Gempa dengan intensitas tinggi (macroseisme)
        Gempa ini dapat diketahui tanpa menggunakan alat pengukur khusus.
b)    Gempa dengan intensitas kecil (microseisme)
        Gempa ini hanya dapat diketahui bila digunakan alat khusus.
6)    Jenis gempa menurut letak episentrum
        Menurut letak episentrumnya, dikenal beberapa jenis gempa berikut.
a)    Gempa laut, bila letak episentrum di laut. Gempa laut dapat mengakibatkan gelombang pasang yang sangat tinggi, disebut tsunami.
b)    Gempa daratan, bila letak episentrum di daratan.
Ingin Tahu?
Tsunami berasal dari bahasa Jepang “tsu” yang berarti pelabuhan dan “nami” yang berarti  gelombang. Tsunami merupakan dampak terjadinya gempa bumi yang mencapai diatas 6,5 SR dan bersumber di kedalaman laut dangka baik tektonik maupun vukanik.
Bagikan:Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Comment

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

artikel lainnya PROSES PEMBENTUKAN MUKA BUMI

Tuesday 13 March 2012 | Post

PERANGKAT PEMBELAJARAN Materi Bhs-Indonesia Kelas X Materi Bhs-Indonesia Kelas XI Materi Bhs-Indonesia Kelas XII Soal  Bhs-Indonesia…

Tuesday 28 February 2017 | Post

Received a glossy red box that says ‘Open Your Dream’ and when I opened it of…

Wednesday 25 March 2015 | Post

Kehidupan Manusia Purba pada Zaman Praaksara di Indonesia Manusia yang pernah hidup di dunia ternyata meninggalkan…

Wednesday 25 January 2017 | Post

Satu lagu dari band indie Payung Teduh. Video klipnya keren, sepertinya diambil di pasar Kebayoran Lama…