Menu

PENYEBARAN NENEKO MOYANG INDONESIA

Mar
25
2015
loading...
by : PakdheBudi Kayamara. Posted in : Post

Penggunaan bahasa Melayu Austronesia sangat berkaitan dengan proses persebaran penduduk yang menggunakan bahasa tersebut. Berdasarkan catatan linguistik dan pendapat arkeolog, disebutkan bahwa penggunaan bahasa Austronesia di Indonesia
dimulai sekitar 4.000–2.500 tahun yang lalu. Hal ini dimulai ketika adanya kedatangan suatu kelompok masyarakat dari wilayah lain yang datang ke Indonesia. Merekalah yang memperkenalkan bahasa tersebut. Akar bahasa Austronesia kemungkinan berasal dari Pantai Cina Selatan. Namun, sejarah bahasa Austronesia sendiri dimulai di Taiwan. Para ahli berpendapat bahwa bahasa Melayu Austronesia dipakai di Taiwan sejak 5.000 tahun yang lalu. Penduduk dari Taiwan inilah yang diasumsikan melakukan migrasi ke wilayah Indonesia dan memperkenalkan bahasa tersebut pada penduduk setempat bahkan mengajarkan juga cara bercocok tanam.

                                  Sebelum bangsa Melayu Austronesia masuk ke Indonesia, di wilayah Indonesia sudah ada suku Wedoid dan Negrito. Kedua suku tersebut menurut penyelidikan Madeline Colani berasal dari daerah Tonkin. Pendapat ini diperkuat dengan penemuan tulang belulang jenis Papua Melanesoid (termasuk suku Negrito) dan Europacide (termasuk suku Wedoid). Dari Tonkin kemudian menyebar ke Hindia Belakang dan ke Indonesia sampai dengan ke pulau-pulau di Samudra Pasifik.
                          Dengan kedatangan bangsa Melayu Austronesia ke Indonesia, kedua suku tersebut terdesak dan melarikan diri. Mereka mendiami tempat-tempat terasing dan menutup diri. Sisa-sisa suku bangsa tersebut yang sekarang masih bertahan hidup seperti berikut.
1.    Sisa-sisa suku Wedoid adalah suku Sakai di Siak, suku Kubu di Jambi, dan suku Lubu di Palembang.
2.    Sisa-sisa suku Negrito boleh dikatakan sudah lenyap dari Indonesia.
                    Penduduk awal Kepulauan Indonesia yang menurunkan generasi paling banyak sekarang ini diduga berasal dari Benua Asia. Menurut Van Heine Geldern, penduduk awal bangsa Indonesia berasal dari Yunan, Cina Selatan.
                     Pendapat Geldern didukung oleh bukti berupa kesamaan benda-benda daerah antara Yunan dan Indonesia. Benda-benda yang sama itu berupa kapak lonjong dan kapak persegi.  Teori ini didukung oleh pendapat dari H. Kern yang melakukan perbandingan terhadap rumpun bahasa Austronesia.  Berdasarkan penyelidikan Van Heine Gelderen, kedatangan masyarakat awal Indonesia terbagi dalam dua gelombang pelayaran berikut ini.
                           1.    Gelombang Pertama Kedatangan (2000 SM–500 SM)
                    Masyarakat awal Kepulauan Indonesia diduga berasal dari daratan Yunan di Cina Selatan. Mereka datang ke pulau-pulau di wilayah selatan Asia secara bergelombang. Gelombang pertama perpindahan terjadi pada 2000 SM dan berkahir pada 500 SM. Pulau-pulau yang berada di selatan daratan Asia ini kemudian disebut Austronesia (austro = selatan, nesos= pulau). Selanjutnya, penduduk yang mendiaminya disebut bangsa Austronesia. Mereka mendiami pulau-pulau yang membentang dari Madagaskar (barat) sampai dengan ke Pulau Paskah (timur) dan Formosa (utara) sampai dengan Selandia Baru (sebelah selatan).
                    Pendapat yang menguatkan adanya kedatangan dan persebaran bangsa Austronesia ini adalah bukti berupa kesamaan benda-benda daerah antara Yunan dan Indonesia. Benda-benda yang sama itu berupa kapak lonjong dan kapak persegi. Mereka berpindah ke Nusantara karena terdesak oleh bangsa lain yang lebih kuat. Selain itu, mereka hidup di alam yang tidak banyak memberikan kesejahteraan hidup.
                           2.    Gelombang Kedua Kedatangan (400 SM–300 SM)
                    Perpindahan gelombang kedua masyarakat yang diduga menjadi nenek moyang bangsa Indonesia membawa kebudayaan Dong Son atau kebudayaan Perunggu. Kebudayaan yang dimaksud meliputi kapak sepatu, nekara, moko, dan berbagai macam perhiasan perunggu. Masyarakat yang berpindah pada gelombang kedua ini juga termasuk rumpun Austronesia.
                          Dengan demikian  rumpun Austronesia yang masuk ke wilayah Indonesia dapat kita bedakan menjadi dua kelompok suku bangsa, yaitu bangsa Melayu Tua (Proto Melayu) dan bangsa Melayu Muda ( Deutro Melayu).
                    Pulau-pulau yang berada di selatan daratan Asia ini kemudian disebut Austronesia (austro = selatan, nesos = pulau). Selanjutnya, penduduk yang mendiaminya disebut bangsa Austronesia. Mereka mendiami pulau-pulau yang membentang dari Madagaskar (barat) sampai dengan ke Pulau Paskah (timur) dan Formosa (utara) sampai dengan Selandia Baru (sebelah selatan).
                    Pendapat yang menguatkan adanya kedatangan dan persebaran bangsa Austronesia ini adalah bukti berupa kesamaan benda-benda daerah antara Yunan dan Indonesia. Benda-benda yang sama itu berupa kapak lonjong dan kapak persegi. Mereka berpindah ke Nusantara karena terdesak oleh bangsa lain yang lebih kuat. Selain itu, mereka hidup di alam yang tidak banyak memberikan kesejahteraan hidup.
                    Dengan demikian  rumpun Austronesia yang masuk ke wilayah Indonesia dapat kita bedakan menjadi dua kelompok suku bangsa, yaitu bangsa Melayu Tua (Proto Melayu) dan bangsa Melayu Muda ( Deutro Melayu).
                           1.    Bangsa Melayu Tua (Proto Melayu)
                    Bangsa Melayu Tua (Proto Melayu) merupakan rumpun Austronesia yang datang dan tinggal di Kepulauan Indonesia pada masa perpindahan yang pertama. Mereka datang ke Indonesia melalui jalur barat dan jalur timur. Jalur barat yang dimaksud adalah masuk ke Indonesia melalui Malaysia selanjutnya ke Sumatra. Sebaliknya, jalur timur yang dimaksud adalah masuk ke Indonesia melalui Filipina dan Sulawesi. Suku bangsa Indonesia sekarang ini diduga yang masih ada kaitan atau keturunan dari bangsa Proto Melayu adalah suku Dayak dan suku Toraja.
                           2.    Bangsa Melayu Muda (Deutero Melayu)
                    Bangsa Melayu Muda (Deutero Melayu) merupakan rumpun Austronesia yang datang dan tinggal di Kepulauan Indonesia pada masa perpindahan yang kedua. Bangsa Deutro Melayu yang datang pada gelombang kedua akhirnya berbaur (berasimilasi) dengan bangsa Proto Melayu yang telah lebih dahulu datang dan mendiami wilayah Kepulauan Indonesia. Bangsa Deutro Melayu masuk ke Indonesia diduga menempuh rute dari Yunan (Teluk Tonkin), Vietnam, Semenanjung Malaysia, dan sampailah ke Indonesia. Suku bangsa di Indonesia yang sampai saat ini masih keturunan bangsa Deutro Melayu adalah suku Jawa, Melayu, dan Bugis.
                          Bangsa Melayu memiliki ciri-ciri Mongoloid lebih dominan, selain juga terdapat ciri  Austromelanesoid. Bangsa Melayu sebagian besar mendiami wilayah Indonesia bagian barat dan bagian tengah. Sebaliknya, wilayah Indonesia bagian timur dan tenggara banyak didiami oleh manusia dengan ciri Austromelanesoid lebih dominan. Ciri-ciri Mongoloid yang banyak mendominasi bangsa Melayu Tua dan bangsa Melayu Muda, antara lain  kulit kuning sampai kecokelatan; rambut lurus; kepala bulat; mata agak sipit; hidung sedang; muka lebar dan datar; gigi seri menembilang; pada punggung bayi terdapat bercak warna biru atau kelabu.
                          Ras Austromelanesoid banyak mendominasi penduduk Indonesia bagian timur dan tengah. Mereka mempunyai ciri-ciri, antara lain: warna kulit hitam; rahang agak menonjol ke depan; warna rambut hitam; bentuk rambut keriting;kepala lonjong atau sedang.
                          Sejak masa bercocok tanam dan masa Perundagian sampai sekarang, perubahan komposisi ras penduduk Indonesia tidak banyak mengalami perubahan mencolok. Ras yang paling dominan adalah ras Mongoloid dan ras Austromelanesoid. Ciri-ciri biologis manusianya sama seperti ciri-ciri manusia sekarang.
                          Manusia purba di Indonesia jenis Homo sapiens menurunkan ras-ras bangsa Indonesia sekarang ini. Homo sapiens yang bermukim di Indonesia terdiri atas dua ras, yaitu sebagai berikut.
                                        1.    Ras Mongoloid, khususnya subras Melayu Indonesia, tersebar di sebagian besar wilayah Indonesia terutama di Indonesia bagian barat dan selatan, antara lain di Sumatra, Jawa, dan Bali.
                                        2.    Ras Austromelanesoid tersebar di wilayah Indonesia bagian timur, terutama Papua dan pulau-pulau sekitarnya. Kedua ras itu adalah bagian dari induk bangsa Austronesia.
             Induk bangsa  Austronesia berasal dari Cina Selatan, yaitu Daratan Tinggi Yunan yang menjadi petunjuk adalah alat-alatnya, yaitu beliung persegi dan kapak lonjong. Beliung persegi persebarannya ke arah Indonesia bagian barat, sedangkan kapak lonjong ke arah Indonesia bagian timur.
             Menurut penyelidikan, masyarakat awal Indonesia telah memiliki unsur kebudayaan asli sebelum datangnya kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia. Kebudayaan tersebut adalah sebagai berikut.
                                        1.    Kemampuan Berlayar
                    Kemampuan berlayar telah dimulai jauh sebelum tahun 2000 SM. Dengan menggunakan perahu mereka berlayar ke barat sampai Madagaskar ke selatan sampai Selandia Baru, ke timur sampai Pulau Paskah, ke utara sampai Jepang. Kemampuan berlayar ini disertai pengetahuan astronomi yaitu ilmu tentang perbintangan.
                                        2.    Kepandaian Bersawah
             Dalam bidang pertanian pada awalnya dilakukan dengan sistem ladang, tetapi untuk lebih meningkatkan hasil pertanian (produksi padi) digunakan sistem sawah. Untuk itu tata pengaturan air (irigasi) sudah dilakukan dengan membuat saluran atau bendungan.
                                        3.    Mengenal Astronomi
                    Diperlukan untuk pelayaran malam hari, bintang yang dianggap penting adalah salib selatan yang digunakan untuk pelayaran. Selain itu mereka menggunakan rasi bintang pari (sebutan para nelayan) atau bintang gubug penceng (sebutan orang Jawa). Bintang-bintang juga diperlukan untuk mengenal atau mengetahui datangnya musim bagikeperluan pertanian.
       4.    Mengatur Masyarakat
                    Telah ada kehidupan demokratisasi. Misalnya seseorang yang dapat melindungi masyarakat dari gangguan dan ancaman dipilih sebagai pemimpin.
                                        5.    Sistem Macapat
                    Macapat artinya tata cara didasarkan pada jumlah empat. Pusat pemerintahan terletak di tengah wilayah. Di pusat tersebut terdapat alun-alun, di empat penjuru alun-alun terdapat bangunan penting.
                                        6.    Kesenian Wayang
                    Kesenian wayang berpangkal pada pemujaan terhadap nenek moyang. Boneka-boneka perwujudan nenek moyang dimainkan oleh dalang pada malam hari. Roh nenek moyang yang masuk ke dalam tubuh dalang memberikan petuah-petuah terhadap anak cucu. Setelah datang pengaruh Hindu wayang tadi diganti dengan cerita Ramayana dan Mahabharata.
                                        7.    Seni Gamelan
                    Seni gamelan untuk menambah suasana permainan wayang agar dapat dinikmati. Agar pertunjukan wayang dapat dimainkan, maka perlu dibantu oleh gamelan sebagai alat musik. Beberapa alat gamelan adalah gong, bonang, gambang, rebab, saron dan gendang.
                                        8.    Seni Batik
             Batik yang dikenal sekarang ini warsian nenek moyang. Bati merupakan kerajinan membuat gambar pada kain dengan alat yang disebut canting.
                                        9.    Membuat Kerajinan
                    Pada zaman ini di Indonesia dikenal dengan zaman Perunggu. Dengan adanya waktu luang saat menunggu hasil panen, ada upaya untuk membuat kerajinan tangan, misalnya gerabah, manik-manik, pakaiandari kulit kayu/kerang, anyaman dan perhiasan. Bahkan pada zaman logamusaha kerajinan perundagian makin berkembang.
                                        10.  Perdagangan
                    Barang-barang kehidupan yang dibuat di rumah atau hasil panen mereka banyak, tetapi ada beberapa kebutuhan yang tidak dapat mereka penuhi atau mereka tanam; maka mereka tukar menukar barang (barter). Dengan demikian terjadilah perdagangan.

artikel lainnya PENYEBARAN NENEKO MOYANG INDONESIA

Sunday 29 April 2018 | Post

Kata hubung DAN digunakan untuk menyatakan gabungan dari kata, klausa atau kalimat. Antara dua buah kata…

Monday 5 June 2017 | Post

MBATIK YUUUK SHARING @ ESTUBIZI 3 JUNI 2017 Motif Wahyu Tumurun, semoga kelak dikemudian hari memperoleh…

Sunday 7 January 2018 | Post

Absolute Shopping Festival Exhibition Blok M Plaza, 8 – 21 Januari 2018 29 Jan – 11…

Thursday 28 December 2017 | Post

PAMERAN KAIN & KEBAYA IBU di SILVERROAD GALERY , BANDUNG 14-28 desember 2017 : KEBAYA BU…