Info Jakarta

pusat informasi di kota jakarta

Menu

PENGARUH BUDAYA ASING PADA BUDAYA LOKAL

Mar
17
2015
by : PakdheBudi Kayamara. Posted in : Post

Budaya Lokal, Pengaruh Budaya Asing, dan Hubungan Antarbudaya
Standar Kompetensi
7. Memahami kesamaan dan keberagaman budaya
Kompetensi Daasar
7.1 mengidentifikasi berbagai budaya lokal, pengaruh budaya asing, dan hubungan

antarbudaya

Kehidupan manusia selalu menghasilkan kebudayaan, tidak ada masyarakat tanpa kebudayaan. Manusia sebagai makhluk sosial hidup bermasyarakat telah menghasilkan budaya yang beragam. Keberagaman budaya dipengaruhi oleh lingkungan alam tempat hidup manusia dan kepandaian manusia. Hal tersebut telah menciptakan keberagaman budaya di dunia.
            Indonesia adalah negara yang terdiri dari ribuan pulau dan bentang alam berupa pegunungan dan hutan hujan tropis. Selain itu Indonesia juga memliki ratusan suku bangsa. Kedua hal tersebut menciptakan keberagaman budaya yang ada di Indonesia. Kebudayaan tersebut dibagi dalam kebudayaan lokal dan nasional! Apa yang dimaksud budaya? Apa itu budaya lokal dan nasional? Apakah ada pengaruh budaya asing di Indonesia? Kita akan membahasanya dalam materi berikut ini.
(gambar upacara adat di Indonesia)
A. Budaya      
Pengertian kebudayaan amatlah luas, sehingga sukar mendifinasikan secara lugas dan rinci segala sesuatunya mengenai kebudayaan.
1.      Pengertian Budaya
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia budaya diartikan dengan hasil pikiran dan akal budi manusia. Kata budaya berasak dari kata buddhyah dalam bahasa Sanskerta, yang merupakan bentuk jamak dari kata buddhi yang berarti budi atau akal. Budaya dalam bahasa Inggris adalah culture, yang berarti segala daya dan aktivitas manusia dalam mengolah dan mengubah alam.
Bdanyak ahli telah mendifinisikan kebudayan. Pada umumnya difinisi kebudayaan dari para ahli menekankan pada pola tindakan (action) dan kelakuan (behavior). Berikut adalah beberapa difinisi dari kebudayaan yang dikemukakan para ahli.
a.      Sidi Gaazlba
            Budaya merupakan kependekan dari kata budi dan daya. Budidayaberasal dari bahasa Sanskerta. Dalam bahasa  Indonesia, susunannya berubah menjadi daya budi. Budi berarti tipu, godaan, ikhtiar, tenaga, dan muslihat.
b.      E.B. Taylor
sebagai sesuatu yang kompleks mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat, dan lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
c.      Dr. K. Kuyper
Kultur berasal dari kata cultura animi (Latin) yang berarti memelihara dan memperkembangkan jiwa.
d.      Dr. H. A. Enno Gelder
Kata budaya berasal dari bahasa Latincolore yang berarti mengerjakan, memelihara, dan memuja.
e.      Levi Strauss (1972)
Melihat kebudayaan dengan sudut  pandang strukturalisme. Strukturalismeadalah sudut pandang melihat kebudayaan dengan memeriksa struktur-struktur yang ada di dalam kebudayaan berikut perulangan-perulangan yang muncul di dalam kebudayaan.
f.        Linton (1936) dan A.L. Kroeber (1948)
Linton dan A.L. Kroeber melalui Hari Poerwanto mengatakan bahwa melihat kebudayaan melalui pemikiran historical particularisme, budaya, dan personalitas.
g.      Kroeber
Kebudayaan adalah keseluruhan gerak, kebiasaan, tata cara, gagasan, dan nilai-nilai yang dipelajari, diwariskan serta perilaku yang ditimbulkannya.
h.      C. Kluckhohn
Kebudayaan adalah pola perilaku eksplisit dan implisit yang dipelajari dan diwariskan melalui simbol yang merupakan prestasi khas manusia, termasuk perwujudannya dalam bentuk benda budaya.
i.         William H. Haviland
Kebudayaan adalah seperangkat peraturan dan norma yang dimiliki bersama oleh para anggota masyarakat, yang jika dilaksanakan oleh para anggotanya akan melahirkan perilaku yang dipandang layak dan dapat diterima oleh semua anggota masyarakat
j.         Soekmono
Budaya berasal dari kata budi (kata Sanskerta) yang berarti sadar atau bangun. Dengan demikian, kebudayaan  berarti hasil kebangunan manusia dalam arti kesadaran.
k.      Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi
Kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan atau kebudayaan jasmaniah (material culture) yang diperlukan oleh manusia untuk menguasai alam sekitarnya agar kekuatan serta hasilnya dapat diabdikan untuk keperluan masyarakat.
Rasa meliputi jiwa manusia mewujudkan segala kaidah-kaidah dan nilai-nilai sosial yang perlu untuk mengatur masalah-masalah kemasyarakatan dalam arti yang luas. Di dalamnya termasuk, misalnya saja agama, ideologi, kebatinan, kesenian, dan semua unsur yang merupakan hasil ekspresi jiwa manusia yang hidup sebagai anggota masyarakat.
Selanjutnya, cipta merupakan kemampuan mental, kemampuan berpikir orang-orang yang hidup bermasyarakat dan yang antara lain menghasilkan filsafat serta ilmu pengetahuan.Cipta merupakan baik yang berwujud teori murni, maupun yang telah disusun untuk langsung diamalkan dalam kehidupan masyarakat. Rasa dan cinta dinamakan pula kebudayaan rohaniah (spritual atauimmaterial culture). Semua karya, rasa, dan cipta dikuasai oleh karsa orang-orang yang menentukan kegunaannya agar sesuai dengan kepentingan sebagian besar atau dengan seluruh masyarakat.
l.         Koentjaraningrat
Dalam buku Pengantar Antropologi,Koentjaraningrat mengemukan kebudayaan  adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Menurut Koentjaraningrat pula, budaya berasal dari kata buddhayah bentuk jamak dari kata buddhi yang berarti budi atau akal jadi. Bu­daya adalah hal yang bersangkutan dengan akal.
2.      Karakteristik Kebudayaan
Dalam melakukan studi kebudayaan para ahli telah memperoleh karakteristik pokok kebudayaan. Studi tersebut dilakukan dengan membandingkan sejumlah kebudyaan yang ada pada masyarakat. Berikut adalah karakteristik kebudayaan tersebut.
a.       Kebudayaan Adalah Hasil Belajar
Semua kebudayaan adalah hasil belajar, bukan warisan biologis. Hal itu seperti tampak pada manusia yang berjalan, tidak menurut wujud organisme yang telah ditentukan oleh alam, melainkan merombak cara berjalannya dengan berbagai macam ragam gaya, misalnya gaya berjalan para prajurit, berjalan dengan gaya lemah lembut seperti peragawati.
b.      Semua Aspek Kebudayaan Berfungsi Sebagai Kesatuan yang Saling Berhubungan (Integrasi)
Para ahli antropologi sering menguraikan kebudayaan menjadi sejumlah bagian atau unsur yang kelihatannya berdiri sendiri-sendiri. Akan tetapi, sebenarnya unsur-unsur tersebut saling terkait satu dengan lainnya sehingga kebudayaan berfungsi sebagai kesatuan yang saling berhubungan. Kecenderungan semua aspek kebudayaan untuk berfungsi sebagai kesatuan yang saling berhubungan yang disebut integrasi. unsur tersebut saling terkait satu dengan lainnya sehingga kebudayaan berfungsi sebagai kesatuan yang saling berhubungan. Kecenderungan semua aspek kebudayaan untuk berfungsi sebagai kesatuan yang saling berhubungan yang disebut integrasi.
c.      Kebudayaan Didasarkan Pada Simbol
Manusia berkomunikasi satu sama lain menggunakan simbol-simbol yang disepakati bersama. Simbol adalah sesuatu yang nilai atau maknanya diberikan oleh mereka yang menggunakannya. Nilai dan makna tersebut tidak ditentukan oleh sifat-sifat yang secara intrinsik terdapat dalam bentuk fisiknya, melainkan dengan cara-cara simbolik. Makna atau nilai suatu simbol hanya dapat ditangkap melalui cara-cara yang bersifat non-indrawi. Misalnya, makna suatu warna tergantung pada mereka yang menggunakannya. Warna merah dapat berarti berani, dapat berarti komunis, dan juga dapat berarti bahaya.
d.      Kebudayaan Adalah Milik Bersama Masyarakat Manusia
Kebudayaan adalah sejumlah cita-cita, nilai-nilai, dan standar perilaku yang didukung oleh sebagian besar warga masyarakat. Dengan kata lain, kebudayaan adalah common denominator(sebutan untuk persamaan) yang menyebabkan perbuatan para individu dapat dipahami oleh individu lain dalam kelompok atau masyarakatnya. Karena memiliki kebudayaan yang sama, orang yang satu dapat meramalkan perbuatan orang yang lain dalam situsi tertentu, dan dapat mengambil tindakan yang sesuai.
e.      Kebudayaan Bersifat Superorganik
Herkovits dan Malinowski memberi sebutan kebudayaan sebagai suatu yang superorganik. Disebut demikian karena kebudayaan diwariskan turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya sehingga tetap hidup terus menerus secara berkesinambungan, meskipun orang-orang yang menjadi anggota masyarakat senantiasa silih berganti, karena kematian dan kelahiran. Dengan kata lain, suatu kebudayaan telah ada sebelum lahirnya suatu generasi dan masih tetap hidup meskipun generasi tersebut telah mati.
3.      Wujud Kebudayaan
Untuk mempelajari lebih lanjut tentang kebudayaan maka hal terpenting kalian harus mengerti tentang wujud-wujud kebudayaan yang nantinya dapat memberikan pengertian secara lebih jelas. Koentjaraningrat, membagi wujud kebudayaan menjadi 3, yaitu:
a. Sistem Budaya
Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks ide-ide, gagasan-gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya biasa disebut sistem budaya. Ini merupakan wujud ideal dari kebudayaan yang mempunyai ciri-ciri abstrak, tak dapat diraba, atau difoto. Misalnya sebuah hasil pemikiran yang tertuang dalam buku atau artikel maka keberadaan lokasi kebudayaan ideal ada pada buku atau artikel tersebut.
b. Sistem Sosial
Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat, disebut sistem sosial. Terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang berinteraksi, berhubungan, serta bergaul satu dengan lain menurut waktu dan pola tertentu berdasarkan adat tata kelakuan.
                                    c. Artefak
Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. Ini jelas sekali karena merupakan kebudayaan fisik, dapat terlihat, diraba seperti Candi  Borobudur.
4.      Fungsi Kebudayaan
Kebudayaan mempunyai fungsi yang besar bagi manusia dan masyarakat. Bermacam tantangan dan keperluan yang ada dalam alam, kebutuhan akan kepuasan, baik dibidang spiritual maupun materiil, dan masalah-masalah yang datang dari masyarakat itu sendiri, sebagian besar dipenuhi dengan kebudayaan yang bersumber dari masyarakat. Kebudayaan memungkinkan orang bertahan hidup dalam lingkungan fisik yang tidak ramah. Kita tidak dapat hidup tanpa kebudayaan dan kadang-kadang tidak mudah hidup dalam kebudayaan.
Pada masyarakat yang kompleks dan memiliki kebudayan yang tinggi, memberikan kemungkinan yang sangat luas untuk memanfaatkan hasil-hasil alam dan apabila mungkin, menguasai alam. Perkembangan teknologi di negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Jerman, Rusia, Inggris dan sebagainya merupakan contoh masyarakat yang aktif menghadapi tantangan dari alam. Berbeda pada masyarakat yang masih sederhana, yang taraf kebudayaannya masih rendah. Masyarakat ini bersifat pasif terhadap alam. Masyarakat ini hanya menyesuaikan bahkan bersikap menyerah dalam menghadapi alam.
B. Kebudayaan Lokal, Kebudayaan Nasional, dab Budaya Asing
            Indonesia terkenal dengan kekayaan kebudayaanya. Pada setiap daerah memiliki dan mengembangkan kebudayaan masing-masing. Kebudayaan yang dikembangkan daerah masing-masing dikenal dengan kebudayaan lokal. Sedangkan kebudayaan nasional adalah kebuduyaan yang timbul sebagai buah usaha budi dari rakyat Indonesia seluruhnya.
1.      Budaya Lokal
Budaya lokal adalah hasil cipta, rasa, dan karsa yang khusus berkembang di daerah-daerah di Indonesia. Kebudayaan lokal sering juga disebut dengan kebudayaan daerah. Contohnya adalah budaya daerah Jakarta, budaya daerah Makassar, budaya daerah Medan, budaya daerah Samarinda, budaya daerah Bandung, budaya daerah Semarang, budaya daerah Surabaya, dan sebagainya. Kebudayaan daerah adalah kebudayaan yang tumbuh dan berkembang di suatu daerah dengan didukung oleh anggota masyarakat yang lebih luas yang terdiri dari berbagai suku bangsa.
Menurut Koentjaraningrat, macam-macam budaya lokal di Indonesia dilihat dalam tiga sistem, yaitu sistem religi, sistem pengetahuan, dan kesenian.
a.         Sistem Religi
Orang Jawa khususnya yang hidup dalam pengaruh ajaran Jawa asli percaya akan adanya kasekten (kesaktian), arwah leluhur, dan makhluk halus. Untuk itu, orang Jawa sering melakukan selamatan atau sesaji untuk dapat terhindar dari bencana. Selamatan artinya sesuatu upacara meminta selamat yang umumnya dengan menyajikan makanan tertentu. Apabila sudah didoakan makanan tersebut dapat dibagikan atau dimakan bersama.             Upacara selamatan itu, di antaranya:
1)         selamatan kelahiran bayi;
2)         selamatan perkawinan;
2)         selamatan bersih desa;
4)         selamatan menempati rumah baru. 
b.         Sistem Pengetahuan
Sistem pengetahuan, misalnya pengetahuan mengenai alam sekitarnya, flora fauna, tubuh manusia, sifat-sifat, dan kelakuan manusia.
c.         Kesenian
                                   Kesenian terdiri atas seni rupa dan seni suara.
1)      Seni rupa bentuknya dapat berupa seni patung, relief, lukis, rias.
2)      Seni suara bentuknya dapat berupa seni musik, seni sastra
Indonesia memiliki banyak sekali kebudayaan lokal, hal tersebut dikarenakan Indonesia memiliki banyak sekali suku bangsa yang tersebar di selutuh wilayah Indonesia. Berikut adalah beberapa contoh budaya lokal di Indonesia.
a.      Kebudayaan Suku Jawa
Suku Jawa adalah suku terbesar yang ada di Indonesia. Suku Jawa memiliki kebudayaan yang cukup tinggi. Suku ini menempati Pulau Jawa, tepatnya di Provinisi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Suku Jawa telah menyebar di seluruh daerah di Indonesia.
1)      Sistem Kepercayaan/religi
Agama mayoritas dalam suku bangsa Jawa adalah Islam. Selain itu juga terdapat penganut agama Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Masyarakat Jawa percaya bahwa hidup diatur oleh alam, maka ia bersikap nrimo(pasrah). Masyarakat Jawa percaya keberadaan arwah/ roh leluhur dan makhluk halus seperti  lelembut,  tuyul, demit, dan  jin.
Suku Jawa memiliki berbagai upacara yang dikenal dengan selamatan. Contoh dari upacara selamatan suku Jawa adalah, selamatan lingkaran hidup, selamatan bersih desa, selamatan yang berhubungan dengan hari besar Islam dan selamatan yang berhubungan dengan peristiwa khusus.
2)      Sistem Kekerabatan
Sistem kekerabatan suku bangsa Jawa adalah bilateral (garis keturunan ayah dan ibu). Dalam sistem kekerabatan masyarakat Jawa, digunakan istilah-istilah sebagai berikut.
a)    Ego menyebut orang tua laki-laki adalah bapak/rama.
b)    Ego menyebut orang tua perempuan adalah simbok/ biyung.
c)    Ego menyebut kakak laki-laki adalah  kang mas, kakang mas.
d)    Ego menyebut kakak perempuan adalah mbakyu.
e)    Ego menyebut adik laki-laki adalah adhi, dhimas, dik, atau  le.
f)       Ego menyebut adik perempuan adalah ndhuk, denok, atau di.
3)      Sistem Politik
Desa di Jawa disebut kelurahan yang dikepalai oleh lurah. Dalam pekerjaannya lurah dan pembantu-pembantunya mempunyai tugas pokok memelihara keamanan desa. Pembantu-pembantu lurah, meliputi:
a)      carik: pembantu umum/sekretaris desa,
b)      sosial: memelihara kesejahteraan penduduk,
c)      kaum: mengurusi soal nikah, rujuk, talak, dan kematian.
4)      Sistem Ekonomi
Bertani merupakan mata pencaharian utama. Bertani dilakukan di ladang dan sawah. Selain dari pertanian, masyarakat Jawa juga menjalankan usaha sambilan, seperti mencetak batu bata, membatik, tukang kayu, dan menganyam tikar.
5)      Sistem Kesenian
a)      Seni Bangunan
Rumah adat Suku Jawa dikenal dengan Joglo.
b)      Suku Jawa memiliki banyak sekali tarian, berikut adalah beberapa contoh adalah, Tari Gambyong, Tari Srimipi, Bedoyo, Reog dan Tayuban.
c)      Seni Musik
Gamelan merupakan seni musik Jawa yang terkenal. Gamelan terdiri atas gambang, bonang, gender, saron, rebab, seruling, kenong, dan kempul.
d)      Seni Pertunjukan
Seni pertunjukan yang terkenal adalah wayang, selain itu juga kethoprak, ludruk, dan kentrung.
b.      Kebudayaan Suku Sunda
Suku Sunda adalah suku yang mendiami daerah Jawa Barat. Suku ini juga memiliki kebudayaan yang cukup tinggi.
1)      Sistem Kepercayaan/Religi
Pada saat ini sebagian besar masyarakat Sunda menganut agama Islam. Selain Islam juga terdapat penganut Katolik, Kristen, Hindu, dan Buddha.
Dalam masyarakat Sunda mengenal tahap kehidupan seseorang yang ditandai dengan berbagai upacara dan selamatan, seperti: acara perkawinan, turun tanah, kelahiran, dan sunatan. Selamatan dipimpin oleh modin desa (guru ngaji) yang diawali dengan al-Fatihah dan diakhiri juga dengan pembacaan surah al-Fatihah. Hidangan selamatan tidak jauh berbeda dengan adat Jawa, yaitu berupa tumpeng
2)      Sistem Kekrabatan
Sistem kekerabatan masyarakat Sunda adalah bilateral  (garis keturunan ayah ataupun ibu). Sistem kekerabatan dan perkawinan dilakukan secara Islam. Bentuk keluarga yang terkenal adalah keluarga batih, yaitu suami, istri, dan anak-anak.
Di Sunda mengenal tujuh generasi ke atas dan ke bawah sebagai berikut.
a)      Tujuh generasi ke atas: kolot, embah, buyut, bao, jangga wareng, udeg-udeg, dan gantung siwur.
b)      Tujuh generasi ke bawah: anak, incu, buyut, bao, jangga wareng, udeg-udeg, dan gantung siwur.
3)      Sistem Politik
Istilah kepala desa di beberapa tempat di Sunda berbeda-beda, misalnya di desa Bojongloa dikenal dengan kuwu, yang bertugas mengurus kepentingan warga desa. Kuwu dipilih oleh rakyat. Dalam menjalankan tugas kuwu dibantu oleh:
a)      seorang juru tulis, bertugas mengurusi pajak dan memelihara arsip;
b)      tiga orang  kokolot, bertugas menjalankan perintah/
c)      menyampaikan pengaduan rakyat kepada pamong desa;
d)      seorang kulisi, bertugas menjaga keamanan desa;
e)      seorang ulu-ulu, bertugas mengatur pembagian air irigasi;
f)        seorang amil, pertugas mengurusi kematian, kelahiran, rujuk, dan nikah;
g)      tiga pembina desa yang terdiri atas satu orang kepo- lisian dan dua orang dari angkatan darat.
4)      Sistem Ekonomi
Mata pencaharian saat ini beraneka ragam, antara lain dari sector perkebunan, perdagangan, dan pertanian. Dalam sektor perdagangan mengalami kemajuan yang pesat. Perkebunan banyak terdapat di daerah ini, seperti perkebunan teh, kelapa sawit, kina, dan tebu. Pertanian dikembangkan di Jawa Barat antara lain padi, jagung, ketela, kacang tanah, dan kedelai.
5)      Sistem Kesenian
a)      Seni Bangunan
Rumah adat di Sunda bermodel Keraton Kasepuhan Cirebon yang memiliki empat ruang, yaitu sebagai berikut.
1)         Pendopo: tempat untuk penjaga keselamatan sultan.
2)         Pringgondani: tempat sultan memberi perintah kepada adipati.
3)         Prabayasa: tempat sultan menerima tamu.
4)         Panembahan: ruang kerja dan tempat istirahat sultan.
b)      Seni Tari
Tari yang populer di Sunda adalah tari jaipong, yaitu paduan tari ketuk tilu dan tari gendong pencok. Seni tari merupakan salah satu daya tarik di tanah parahiyangan. Tari yang lain, yaitu tari kuncoran, tari kupu-kupu, dan tari rimlong.
c)      Seni Musik
Alat musik tradisional Sunda adalah angklung, calung, kecapi, dan degung. Alat musik digunakan untuk mengiringi tembang dan kawih.  Tembang  adalah puisi yang diiringi kecapi dan suling. Kawih  adalah lagu bebas yang diiringi dengan angklung dan calung
d)      Seni Pertunjukan
Pertunjukan yang paling terkenal di Sunda adalah wayang golek. Wayang golek adalah boneka kayu dengan penampilan yang sangat menarik dan atraktif.
c.      Kebudayaan Suku Bali
Suku ini mediami Pulau Bali. Budaya suku Bali dikembangkan dengan sangat baik sehingga sangat terkenal di dunia, dibanding dengan kebudayaan suku lain di Indonesia.
1)      Sistem Kepercayaan
Masyarakat Bali sebagian besar menganut agama Hindu Bali. Mereka percaya adanya satu Tuhan dengan konsep Trimurti yang terdiri atas tiga wujud, yaitu:
a)      Brahmana : menciptakan;
b)      Wisnu : yang memelihara;
c)      Siwa : yang merusak.
Masyarakat Bali memiliki beberapa hari raya, diantaranya adalah Nyepi, Galungan, dan Kuningan. Selain itu juga digunakan upacara-upacaara sebagai berikut.
a)      Manusia yadnya: upacara siklus hidup masa anak-anak sampai dewasa.
b)      Dewa yadnya: upacara pada kuil-kuil umum dan keluarga.
c)      Resi yadnya: upacara pentahbisan pendeta
d)      Buta yadnya: upacara untuk kala dan buta yaitu roh-roh penunggu.
2)      Sistem Kekerabatan
Dulu perkawinan di Bali ditentukan oleh kasta. Wanita dari kasta tinggi tidak boleh kawin dengan laki-laki kasta rendah, tetapi sekarang hal itu tidak berlaku lagi. Perkawinan yang dianggap pantang adalah perkawinan saudara perempuan suami dengan saudara laki-laki istri (mak  dengan  ngad). Hal itu akan menimbulkan bencana (panes).
Cara memperoleh istri berdasarkan adat ada dua, yaitu:
a)      memadik, ngindih: dengan cara meminang keluarga gadis;
b)      mrangkat, ngrorod: dengan cara melarikan seorang gadis.
3)      Sistem Politik
Desa-desa di Bali dibuat berdasarkan kesatuan tempat. Desa-desa di daerah pegunungan mempunyai pola perkampungan memusat (banjar) yang dikepalai oleh khan boncor (khong). Selain itu di Bali juga dikenal kuil desa yang disebut  kayangan tiga. Kesatuan organisasi lain yaitu subak dan seka.
Subak merupakan organisasi irigasi yang mempunyai kepala sendiri. Seka merupakan suatu organisasi yang bergerak dalam lapangan kehidupan khusus.  Seka berfungsi menyelenggarakan upacara-upacara desa seperti:  seka baris seka truna,   dan seka gong.
4)      Sistem Ekonomi
Sebagian besar masyarakat Bali memiliki mata pencaharian sebagai petani. Selain padi, pertanian yang lain yaitu palawija, kopi, dan kelapa. Peternakan di Bali juga maju, yaitu ternak babi dan sapi. Selain itu juga dikembangkan peternakan kambing, kerbau, dan kuda.
a)      Perikanan: dikembangkan perikanan darat dan laut, perikanan laut terdapat di pinggir pantai. Para nelayan menggunakan  jangkung  (perahu penangkap ikan) untuk mencari ikan tongkol, udang, dan cumi-cumi.
b)      Di Bali juga banyak terdapat industri kerajinan, kerajinan yang dibuat meliputi: benda-benda anyaman, kain tenun, pabrik rokok, dan tekstil. Selain itu juga banyak perusahaan yang menjual jasa, seperti biro perjalanan, hotel, rumah makan, taksi, dan toko kesenian. Tempat usaha terbesar terdapat di Gianyar, Denpasar, dan Tabanan.
5)      Sistem Kesenian
a)      Seni Bangunan Seni bangunan nampak pada bangunan candi yang banyak terdapat di Bali, seperti Gapura Candi Bentar.
b)      Seni Tari Tari tradisional Bali antara lain tari sanghyang, tari barong, tari kecak, dan tari gambuh. Tari modern antara lain tari tenun, tari nelayan, tari legong, dan tari janger.
d.      Kebudayaan Suku Minangkabau
Suku Minngkabau adalah suku yang mendiami daerah Sumatra.
1)      Sitem Kepercayaan
Sebagian besar masyarakat Minangkabau beragama Islam. Masyarakat desa percaya dengan hantu, seperti kuntilanak, perempuan menghirup ubun-ubun bayi dari jauh, dan menggasing (santet), yaitu menghantarkan racun melalui udara. Upacara-upacara adat di Minangkabau meliputi:
a)      upacara Tabuik adalah upacara peringatan kematian Hasan dan Husain di Padang Karabela;
b)      upacara Kitan dan Katam berhubungan dengan lingkaran hidup manusia.
c)      upacara Turun Tanah/Turun Mandi adalah upacara bayi menyentuh tanah pertama kali
d)      upacara Kekah adalah upacara memotong rambut bayi pertama kali.
e)      upacara selamatan orang meninggal pada hari ke-7, ke-40, ke-100, dan ke-1000.
2)      Sistem Kekerabatan
Sistem kekerabatan dalam masyarakat Minangkabau adalah matrilineal (garis keturunan ibu), sehingga sistem kekerabatan memerhitungkan dua generasi di atas ego laki- laki dan satu generasi di bawahnya. Urutannya sebagai berikut.
a)      Ibunya ibu.
b)      Saudara perempuan dan laki-laki ibunya ibu.
c)      Saudara laki-laki ibu.
d)      Anak laki-laki, perempuan saudara perempuan ibu ibunya ego.
e)      Saudara laki-laki dan perempuan ego.
f)        Anak laki-laki dan perempuan saudara perempuan ibu.
g)      Anak laki-laki dan perempuan saudara perempuan ego
h)      Anak laki-laki dan perempuan anak perempuan saudara perempuan ibunya ibu.
3)      Sitem Politik
Kepala suku masyarakat Minangkabau disebut penghulu,  dubalang, dan manti. Dubalang  bertugas menjaga keamanan kampung, sedangkan manti  berhubungan dengan tugas-tugas keamanan. Kesatuan dari beberapa kampung disebut nagari. Sistem pemerintahannya dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.
a)      Laras Bodi-Caniago berhubungan dengan tokoh Datuek Parapatiek nan Sabatang.
b)      Laras Koto-Piliang berhubungan dengan tokoh Datuek Katumenggungan.
Dalam sistem pemerintahan Laras Bodi-Caniago menunjukkan sistem yang demokratis, karena musyawarah
selalu diutamakan.
4)      Sistem Ekonomi
Mata pencaharian masyarakat Minangkabau sebagian besar sebagai petani. Bagi yang tinggal di pinggir laut mata pencaharian utamanya menangkap ikan. Seiring dengan perkembangan zaman, banyak masyarakat Minangkabau yang mengadu nasib ke kota-kota besar. Seperti yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia pada saat ini.
Masyarakat Minangkabau juga banyak yang menjadi perajin. Kerajinan yang dihasilkan adalah kain songket. Hasil kerajinan tersebut merupakan cenderamata khas dari Minangkabau.
5)      Sistem Kesenian
a)      Seni Bangunan
Rumah adat Minangkabau disebut rumah gadang. Rumah gadang terdiri atas biliek sebagai ruang tidur, dan didiehsebagai ruang tamu. Ciri utama rumah itu adalah bentuk lengkung atapnya yang disebut gonjong yang artinya tanduk rebung. Antara atap dan lantai terdapat pegu. Di desa Balimbing lebih kurang 10 km dari timur kota Batu Sangkar banyak dijumpai rumah gadang yang berumur 300 tahun.
b)      Seni Tari
Tari-tarian yang ada adalah tari silat kucing dan tari silat tupai malompek yang masih dijumpai di daerah-daerah Payakumbuh. Lagu yang digunakan dalam tari itu adalah Cak Din Din, Pado-Pado, Siamang Tagagau, Si Calik Mamenjek, Capo, dan Anak Harimau dalam Gauang. Selain itu juga terdapat tari piring, tari Lilin, tari payung, dan tari serampang dua belas.
c)      Seni Musik
Alat-alat musik tradisonal dari suku bangsa Minangkabau adalah saluang dan talempong. Saluang biasa dikenal dengan seruling, sedangkan talempong mirip dengan gamelan yang dibunyikan dengan pemukul.
e.      Kebudayaan Suku Dayak
1)      Sistem Kepercayaan/Religi
Masyarakat Dayak terbagi menjadi beberapa suku, yaitu Ngaju, Ot, Danum, dan Ma’anyan di Kalimantan Tengah. Kepercayaan yang dianut meliputi: agama Islam, Kristen, Katolik, dan Kaharingan (pribumi). Kata Kaharingan diambil dari Danum Kaharingan yang berarti air kehidupan. Masyarakat Dayak percaya pada roh-roh:
a)      Sangiang nayu-nayu (roh baik);
b)      Taloh, kambe (roh jahat)
Dalam syair-syair suci suku bangsa Ngaju dunia roh disebut negeri raja yang berpasir emas.
Upacara adat dalam masyarakat Dayak meliputi:
a)      upacara pembakaran mayat,
b)      upacara menyambut kelahiran anak, dan
c)      upacara penguburan mayat.
Upacara pembakaran mayat disebut tiwah dan abu sisa pembakaran diletakkan di sebuah bangunan yang disebut tambak.
2)      Sistem Kekerabatan
Sistem kekerabatan masyarakat Dayak berdasarkan ambilineal yaitu menghitung hubungan masyarakat melalui laki-laki dan sebagian perempuan.
Perkawinan yang ideal adalah perkawinan dengan saudara sepupu yang kakeknya saudara sekandung (hajanen dalam bahasa Ngaju). Masyarakat Dayak tidak melarang gadis-gadis mereka menikah dengan laki-laki bangsa lain asalkan laki-laki itu tunduk dengan adat istiadat.
3)      Sistem Politik
Pemerintahan desa secara formal berada di tangan pembekal dan penghulu. Pembekal bertindak sebagai pemimpin administrasi. Penghulu sebagai kepala adat dalam desa. Kedudukan pembekal dan penghulu sangat terpandang di desa, dahulu jabatan itu dirangkap oleh patih. Ada pula penasihat penghulu disebut mantir. Menurut A.B. Hudson hukum pidana RI telah berlaku pada masyarakat Dayak untuk mendampingi hukum adat yang ada.
4)      Sistem Ekonomi
Bercocok tanam di ladang adalah mata pencaharian masyarakat Dayak. Selain bertanam padi mereka menanam ubi kayu, nanas, pisang, cabai, dan buah-buahan. Adapun yang banyak ditanam di ladang ialah durian dan pinang. Selain bercocok tanam mereka juga berburu rusa untuk makanan sehari-hari. Alat yang digunakan meliputi dondang,  lonjo  (tombak), dan ambang  (parang). Masyarakat Dayak terkenal dengan seni menganyam kulit, rotan, tikar, topi, yang dijual ke Kuala Kapuas, Banjarmasin, dan Sampit.
5)      .Sistem Kesenian
Seni tari Dayak adalah tari tambu dan  bungai  yang bertema kepahlawanan, serta tari  balean dadas, bertema permohonan kesembuhan dari sakit. Rumah adat Dayak adalah rumah betang yang dihuni lebih dari 20 kepala keluarga. Rumah betang terdiri atas enam kamar, yaitu kamar untuk menyimpan alat perang, kamar gadis, kamar upa-cara adat, kamar agama, dan kamar tamu.
f.        Kebudayaan Suku Bangsa Makassar (Bugis)
1)      Sistem Kepercayaan/Religi
Masyarakat Bugis banyak tinggal di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Mereka penganut Islam yang taat.   Masyarakat Bugis juga masih percaya dengan satu dewa tunggal yang mempunyai nama-nama sebagai berikut.
a)      Patoto-e : dewa penentu nasib.
b)      Dewata Seuwa-e : dewa tunggal.
c)      Turie a’rana : kehendak tertinggi.
2)      Sistem Kekerabatan
Perkawinan yang ideal di Makassar sebagai berikut.
a)      Assialang Marola adalah perkawinan antara saudara sepupu sederajat kesatu baik dari pihak ayah/ibu.
b)      Assialanna Memang adalah perkawinan antara saudara sepupu sederajat kedua baik dari pihak ayah/ ibu.
Perkawinan yang dilarang adalah perkawinan anak dengan ayah/ibu dan menantu dengan mertua.
Kegiatan-kegiatan sebelum perkawinan, meliputi:
a)      Mappuce-puce: meminang gadis,
b)      Massuro : menentukan tanggal pernikahan,
c)      Maddupa : mengundang dalam pesta perkawinan.
3)      Sistem Politik
Masyarakat Bugis Makassar kebanyakan mendiami Kabupaten  Maros dan Pangkajene. Mereka tinggal di sebuah kampung yang terdiri atas 10 – 20 buah rumah. Kampung pusat ditandai dengan pohon beringin besar yang dianggap keramat dan dipimpin oleh kepala kampung disebut matowa. Gabungan kampung disebut wanua samadengan kecamatan.
Lapisan masyarakat Bugis Makassar sebelum kolonial
Belanda adalah:
a)      ana’ karung yaitu lapisan kaum kerabat raja,
b)      to-maradeka yaitu lapisan orang merdeka,
c)      ata yaitu lapisan budak.
4)      Sistem Ekonomi
Mata pencaharian masyarakat Bugis-Makassar yaitu pertanian, pelayaran, dan perdagangan. Masyarakat Bugis Makassar juga telah mewarisi hukum niaga. Ammana Gappa dalam bukunya Ade’allopiloping Bicaranna Pabbalue yang ditulis pada abad ke-17, menyebutkan sambil berlayar mereka berdagang di pulau-pulau di Indonesia. Selain itu mereka juga membuat kerajinan rumah tangga seperti tenunan sarung.
5)      Sistem Kesenian
Rumah adat suku bangsa Bugis Makassar berupa panggung yang terdiri atas 3 bagian sebagai berikut.
b)      Kalle balla: untuk tamu, tidur, dan makan.
c)      Pammakkang: untuk menyimpan pusaka.
d)      Passiringang: untuk menyimpan alat pertanian.
2.      Budaya Nasional/Bangsa
Menurut pasal 32 UUD 1945, kebudayaan bangsa/nasional ialah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budinya rakyat Indonesia seluruhnya. Kebudayaan- kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia, terhitung sebagai kebudayaan bangsa. Usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab, budaya dan persatuan dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat mengembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia.
Oleh karena itu, sangat penting artinya bagi perkembangan masyarakat bangsa yang memerhatikan keberagaman kebudayaan nasional. Ada empat ketentuan arah dan tujuan pengembangan kebudayaan nasional Indonesia.
a.      Kebudayaan nasional merupakan perwujudan hasil upaya dan tanggapan aktif masyarakat Indonesia dalam proses adaptasi terhadap lingkungannya dalam arti luas.
b.      Kebudayaan nasional merupakan perpaduan puncak-puncak kebudayaan daerah, sehingga mewujudkan konfigurasi budaya bangsa.
c.      Pengembangan kebudayaan nasional itu harus menuju ke arah kemajuan adab yang dapat memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.
d.      Tidak menutup kemungkinan untuk menyerap unsur-unsurkebudayaan asing yang dapat mengembangkan dan memperkaya kebudayaan nasional, serta mempertinggi kemanusiaan bangsa Indonesia.
Koentjaraningrat menjelaskan bahwa suatu unsure kebudayaan dapat berfungsi menjadi unsur kebudayaan nasional, jika memiliki tiga syarat sebagai berikut.
a.      Hasil karya rakyat Indonesia atau hasil karya zaman lampau yang berasal dari daerah-daerah yang sekarang termasuk wilayah Indonesia.
b.      Hasil karya rakyat Indonesia dengan tema pikirannya harus mengandung ciri-ciri khas Indonesia.
c.      Hasil karya rakyat Indonesia yang menjadi kebanggaan banyak orang dan oleh karena itu mereka mengidentifikasikan dirinya pada unsur-unsur kebudayaan tersebut.
d.      Menunjukkan sikap toleransi dan empati sosial terhadap keberagaman budaya.
Kebudayan nasional dapat dilihat dalam bentuk abstrak dan konkret. Bentuk abstrak dari kebudayaan nasional adalah sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia. Sedangan bentuk konkretnya adalah sebagai beriktut ini.
a.      Cara Berbahasa
                   Wujud konkret budaya nasional yang paling jelas ialah cara berbahasa. Bahasa nasional kita adalah bahasa Indonesia sekaligus sebagai alat komunikasi nasional baik secara lisan maupun tulisan. Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar resmi, meskipun terdapat pula bahasa isyarat bagi kelompok tertentu. Dengan demikian, cara berbahasa dengan menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa lokal pada hakikatnya merupakan perwujudan konkret budaya nasional. Apabila menggunakan bahasa daerah sebagai komunikasi maka inilah perwujudan budaya lokal. lokal pada hakikatnya merupakan perwujudan konkret budaya nasional. Apabila menggunakan bahasa daerah sebagai komunikasi maka inilah perwujudan budaya lokal.
b.      Cara Berperilaku
            Pola sikap dan perilaku dipelajari dari kebudayaannya melalui proses internalisasi, sosialisasi, dan enkulturasi. Cara berperilaku warga masyarakat Indonesia berbeda dengan cara berperilaku warga masyarakat Jepang, Amerika Serikat, Afrika, China, dan Arab. Perbedaan pola sikap dan perilaku setiap masyarakat disebabkan oleh latar belakang budaya yang berbeda-beda. Contohnya, bangsa Indonesia berperilaku sopan, ramah, suka gotong-royong, dan bangsa Barat lebih individual, sekuler, dan materialistis.
c.      Cara Berpakaian  
            Cara berpakaian merupakan perwujudan/bentuk konkret dari budaya nasional. Setiap bangsa di dunia berbeda-beda dalam cara berpakaian sesuai dengan sistem budayanya. Di Indonesia terdapat berbagai macam jenis cara berpakaian sesuai dengan adat budaya daerah masing-masing.
d.      Peralatan hidup
            Peralatan hidup yang tumbuh dan berkembang di Indonesia merupakan hasil karya cipta masyarakat Indonesia. Peralatan hidup tradisional setiap daerah yang berbeda-beda memperkaya khasanah budaya nasional Indonesia.
3.      Budaya Asing
Kebudayaan asing adalah kebudayaan yang berkembang dan berasal dari luar wilayah Indonesia. Contohnya adalah kebudayaan India, Barat, Mesopotamia dan lain-lain. Kebudayaan asing dengan mudah masuk dan berkembang di Indonesia pada saat ini. Adanya kemjuan teknologi informasi, komunikasi dan transportasi telah membuat dunia seakan-akan tidak memiliki batas, sehingga ddikenal dengan era global. Adanya kebudayaan asing dapat memberi pengaruh baik dan buruk bagi kebudayaan nasional.
a.      Kebaikan bagi Kebudayaan Nasional
            Kebudayaan asing menjadi baik bagi kebudayaan nasional ketika kebudayaan asing mampu memberi masukan kebudayaan yang sesuai dengan kepribadian kebudayaan nasional. Selain itu, kebudayaan nasional menjadi menguntungkan bagi kebudayaan nasional ketika mampu menyumbangkan nilai lebih bagi kebudayaan nasional. Kebudayaan asing menjadi berguna bagi kebudayaan nasional manakala kebudayaan asing tersebut diterima di dalam insan pelaku kebudayaan nasional.Df
b.      Keburukan bagi Kebudayaan Nasional
Kebudayaan asing tidak selalu memberikan nilai positif bagi kebudayaan nasional. Banyak pula kebudayaan asing yang merugikan kebudayaan nasional. Bentuk kerugian tersebut dapat berupa kerusakan moral, kehancuran moral, keterlambatan berpikir, dan lain sebagainya. Kebudayaan asing yang membawa dampak buruk bagi kebudayaan nasional sering kali tidak disadari oleh pelaku kebudayaan sebagai penerima dan penyumbang kebudayaan. Kebudayaan asing yang membawa pengaruh buruk tersebut mampu menyusup secara perlahan ke dalam tubuh kebudayaan nasional sehingga kerugian baru akan terlihat setelah beberapa waktu.Fg
Bagikan:Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Comment

loading...


bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

artikel lainnya PENGARUH BUDAYA ASING PADA BUDAYA LOKAL

Sunday 11 June 2017 | Post

Kepada Yth. – Bapak/Ibu Pimpinan Perusahaan – Pemilik Usaha Fashion, Multi Produk/Kuliner Di Tempat. Dengan hormat,…

Wednesday 31 May 2017 | Post

Download FITUR : 1. Pembelian & penjualan tunai & tempo 2. Edit & pembatalan transaksi pembelian…

Wednesday 1 March 2017 | Post

Bagikan:Comment Related posts: Cantiknya Model Batik dengan Motif-Motif Terbaru Motif Terbaru Motif dan model terbaru MOTIF…

Friday 3 February 2017 | Post

Memberikan komentar adalah salah satu cara terbaik untuk mengapresiasi sebuah postingan. Komentar akan menciptakan hubungan timbal…