Menu
Dapatkan Produk Produk Snack Berkualitas KHAS SOLO yang dikirim ke JAKARTA

KONFLIK YOGOSLAVIA

Mar
17
2015
by : PakdheBudi Kayamara. Posted in : Post


Runtuhnya Uni Soviet yang mengakibatkan beridirnya negara merdeka bekas Uni Soviet memberi pengaruh terhadap Federasi Yugoslavia yang terletak berdekatan dengan negara-negara bekas Uni Soviet.
a.   Latar Belakang Terpecahnya Negara Yugoslavia
           Yugoslavia yang dibentuk sebagai negara sosialis oleh Joseph Broz Tito, terdapat unsur-unsur yang berbeda-beda yang hidup dalam setiap masyarakatnya. Yugoslavia terdiri atas berbagai suku bangsa dan

golongan sehingga ketika sistem dan rezim komunis dihapuskan muncul golongan-golongan yang saling bertentangan satu sama lainnya. Adapun golongan yang ada pada masyarakat Yugoslavia terdiri atas Serbia beragama Katholik Ortodok; Kroasia beragama Katholik Roma; Slovenia beragama Katolik Roma; Montenegro beragama Kristen Ortodok; Macedonia beragama Kristen Ortodok; Bosnia-Herzegovina beragama Islam.

           Kehidupan politik Yugoslavia selalu diwarnai oleh konflik antara negara-negara bagian terutama antara Serbia dan Kroasia. Konflik tersebut pada dasarnya terfokus pada upaya untuk membagi kekuasaan antara pemerintah pusat yang didominasi Serbia dan negara-negara bagian lain. Secara umum timbulnya konflik di bekas negara Yugoslavia itu disebabkan oleh beberapa hal, antara lain sebagai berikut.
1)      Pengaruh perkembangan politik glasnost dan perestroika di Uni Soviet menimbulkan nasionalisme negara-negara bagian Yugoslavia.
2)      Adanya perbedaan agama di antara etnis-etnis.
3)      Perang yang terjadi di bekas negara Yugoslavia merupakan perang yang mengeksploitasi sentimen agama dan etnis.
4)      Adanya perbedaan penggunaan huruf. Huruf Latin dipakai Kroasia dan huruf Cyrillic dipakai di Serbia, Montenegro, dan Macedonia.
5)      Etnis Serbia merasa hak-haknya dikurangi selama bergabung dengan Yugoslavia.
6)      Keinginan negara-negara bagian untuk merdeka, tetapi ditentang oleh Serbia. Kroasia merdeka tanggal 25 Juni 1991, Slovenia merdeka tanggal 25 Juli 1991, dan Bosnia Herzegovina merdeka pada bulan Februari 1992.
7)      Ambisi Serbia untuk tetap mempertahankan negara Yugoslavia tidak dihiraukan oleh etnis-etnis lain sebab Serbia banyak mendapat kedudukan di Yugoslavia.
8)      Meninggalnya Presiden Yugoslavia Joseph Broz Tito (1980) menyebabkan etnis-etnis di negara bagian membubarkan diri.
b.   Bentuk Konflik di Yugoslavia
1)    Konflik Serbia dengan Kroasia dan Slovenia
                Perang saudara di Yugoslavia tidak dapat dihindarkan lagi. Kroasia dan Slovenia berhasil memproklamasikan kemerdekaan mereka pada tanggal 25 Juni dan 25 Juli 1991. Pada mulanya peperangan berkecamuk di pos perbatasan yang mendadak diambil alih oleh milisi Slovenia. Republik ini berbatasan dengan Italia, Austria, dan Hongaria.
                Melalui campur tangan masyarakat Eropa, gencatan senjata di Slovenia berhasil dicapai dan semua pasukan federal berhasil ditarik dari daerah Slovenia. Sementara itu, pertempuran di Kroasia tidak mudah untuk dipadamkan karena di daerah ini terdapat mayoritas etnis Serbia.
Slovenia dan Kroasia masih tetap mau menerima status Konfederasi Yugoslavia yang longgar. Hal ini sejalan dengan usulan mereka kepada pemerintah pusat. Akan tetapi, Serbia menolak pandangan tersebut. Bahkan, Presiden Milosevic menandaskan bahwa Yugoslavia tetap sebagai negara federasi yang anggota-anggotanya boleh menikmati kekuasaan yang lebih besar untuk mengurus rumah tangganya. Dengan demikian, kekuasaan pemerintah pusat harus dijalankan dengan lebih demokratis.
                Milosevic memberikan pernyataan agar bentuk konfederasi tidak dilaksanakan di Yugoslavia karena bentuk konfederasi akan dapat membubarkan negara di Yugoslavia. Untuk menghindarkan terjadinya pertentangan di Yugoslavia, Macedonia dan Bosnia-Herzegovina mencoba menjadi penengah yang baik. Menurut mereka, Yugoslavia sebaiknya menjadi Masyarakat Republik-Republik Yugoslavia (Uni Republik Yugoslavia atau Uni Negara-Negara Yugoslavia).
2)    Konflik Serbia dengan Bosnia-Herzegovina
                Pada bulan Februari 1992 Bosnia-Herzegovina mengikuti jejak rekan-rekannyaæ yaitu memproklamasikan Bosnia-Herzegovina sebagai negara yang merdeka lepas dari Yugoslavia. Pemisahan ini ditanggapi oleh Serbia dengan serbuan dan pembantaian warga Bosnia-Herzegovina. Di samping faktor politik, agama juga memegang peranan penting dalam konflik ini. Serbia yang beragama Katolik Ortodok tidak menginginkan Bosnia Herzegovina yang beragama Islam berdiri sebagai negara sendiri. Sikap demikian senada dengan negara-negara Barat lain yang tidak menginginkan Bosnia yang beragama Islam sebagai negara sendiri. Oleh karena itu, bulan April 1992 yang disebut “Ethnic Cleaning” atau pembersihan etnis, PBB maupun negara-negara Barat kurang bersemangat untuk mengakhiri pembantaian tersebut.
Hal ini tentu saja menimbulkan kemarahan negara-negara Islam terutama Turki yang mengancam akan segera mengirim tentaranya untuk membantu umat Islam di negara itu. Peristiwa pembantaian warga Bosnia oleh Serbia menarik perhatian dunia. PBB pun akhirnya menjatuhkan sanksi kepada Serbia, akan tetapi perang terus berlanjut. Jenderal Rodko Miadik yang ditempatkan oleh Serbia di Bosnia terus membantai rakyat. Desa dan kota dijarah serta dibumihanguskan oleh tentara Serbia.
c.   Penyelesaian Konflik di Yugoslavia
                Usaha-usaha untuk mengakhiri konflik di bekas negara Yugoslavia telah dilakukan oleh berbagai pihak antara lain sebagai berikut.
1)     PBB menyerukan kepada Serbia agar menarik tentaranya dari Bosnia dan menjatuhkan sanksi. Di samping itu, PBB mengirimkan utusan khususnya, Yasuki Akasi, ke bekas negara Yugoslavia sebagai mediator guna mencari jalan keluar untuk mengakhiri konflik.
2)    Negara-Negara Kelompok G-7 dalam pertemuannya di Texas, Amerika Serikat menyerukan penghentian aksi militer terhadap Kroasia dan mengutuk tindakan biadab Serbia.
3)    NATO mengirimkan tentaranya ke bekas negara Yugoslavia dengan tugas melindungi warga Bosnia dan menciptakan wilayah damai, bebas dari pepe­rangan. Tentara NATO juga melakukan serangan udara ke pihak Serbia yang tidak menaati seruannya.
4)    Indonesia sebagai Ketua Gerakan Nonblok merasa ikut bertanggung jawab untuk menyelesaikan konflik di bekas negara Yugoslavia tersebut. Dalam misinya ke bekas negara Yugoslavia, Presiden Soeharto yang saat itu bertindak sebagai Ketua Gerakan Nonblok menyampaikan beberapa usulan, seperti konflik hendaknya diselesaikan melalui perundingan pihak-pihak yang bertikai secara langsung; masalah di bekas Yugoslavia hendaknya dilihat secara menyeluruh dan integral; menyelenggarakan konferensi internasional yang dihadiri pihak-pihak yang bersengketa dan Dewan Keamanan PBB. Indonesia juga mengirimkan pasukan perdamaian dengan mengirim 25 orang perwira ABRI dengan nama Kontingen Garuda XIV yang tergabung dalam UNPROFOR (United Nations Protection Forces). Kontingen Garuda XIV dipimpin oleh Letkol. Infantri Edi Budianto.
                 Untuk menyelesaikan konflik di bekas Yugoslavia juga diadakan perundingan di Dayton, Amerika Serikat pada tanggal 1 November 1995. Perundingan di Dayton diikuti oleh pihak-pihak yang bertikai di bawah pengawasan NATO dan Amerika Serikat. Tokoh-tokoh yang hadir adalah Bosnia diwakili Alisa Izet Begovic; Kroasia diwakili Franko Tujman; Serbia diwakili Slobodan Milosevic. Kesepakatan yang dicapai dalam perundingan Dayton yang ditandatangani di Paris pada tanggal 14 Desember 1995 isinya sebagai berikut.
1)   Bosnia-Herzegovina tetap sebagai negara tunggal secara internasional.
2)   Ibu kota Sarajevo tetap bersatu di bawah Federasi Muslim Bosnia-Kroasia dan beberapa wilayah administrasi otonom kontrol Serbia-Bosnia.
3)   Radovan Karadzic dan Jenderal Miadic yang dianggap sebagai penjahat perang oleh Mahkamah Internasional tidak boleh memegang jabatan.
4)   Pengungsi berhak kembali ke tempatnya.
5)   Pemilu akan diselenggarakan antara 6–9 bulan sesudah penandatanganan Perjanjian Paris.
7. Tragedi 11 September dan Invasi Amerika Serikat
Pada tanggal 11 September 2001 terjadi peristiwa runtuhnya gedung World Trade Centre yang menjadi lambang kekuatan ekonomi Amerika Serikat. Gedung tersebut runtuh akibat ditabrak oleh pesawat yang dibajak oleh teroris. Selain gedung WTC ada pesawat yang dibajak dan ditabrakan ke gedung Pentagon. Hal tersebut menimbulkan kebijakan politik baru Amerika Serikat. Preiden George Bush kemudian menyatakan perang terhadap terorisme di dunia. Sebagai langkah awal adalah penangkapan tokoh Al Qaeda, Usama bin Laden dan menghancurkan seluruh jaringannya di dunia yang dianggap bertanggung jawab atas Tragedi 11 September.
Kampanye Amerika Serikat yang menyatakan memerangi terorisme di dunia memberikan dampak mendiskreditkan umat Islam di seluruh dunia. Hal tersebut terjadi karena AS menuduh Islam bertanggung jawab atas berkembangnya gerakan terorisme dunia. Kampanye tersebut didukung media masa Amerika Serikat, yang membentuk opini publik yang memberikan kesan bahwa Islam merupakan agama yang militan, fundamentalis, radikal, ekstrem,dan penuh kekerasan yang membahayakan stabilitas dunia. Akibat kampanye antiterorisme Amerika Serikat, menyeret Amerika Serikat dan sekutunya untuk melakukan invasi ke Afghanistan dan Irak.
a.     Invasi Amerika Serikat ke Afghanistan
Afghanistan di bawah pemerintahan Taliban dituduh AS menyembunyikan dan melindungi dalang tragedi WTC Usama bin Laden. Ultimatum AS kepada Afghanistan untuk menyerahkan Usama bin Laden tidak dihiraukan oleh Afghanistan.  Pada tanggal 7 Oktober 2001 AS dan sekutunya menyerang Afghanistan. Meskipun Amerika Serikat gagal menemukan Usama bin Laden di Afghanistan, tetapi Amerika Serikat berhasil menjatuhkan rezim Taliban dan menggantikan dengan rezim baru yang pro terhadap Amerika.
Dunia menyadari serangan Amerika Sereikat ke Afghanistan guna memerangi terorisme dunia hanya kedok belaka. Tujuan sebenarnya adalah menanamkan hegemoni Amerika Serikat di Timur Tengah. Selain itu juga ada faktor ekonomi agar Amerika Serikat dapat mengeksplorasi sumber daya alam yang ada di Afghanistan. Berdasarkan fakta dan bukti, Amerika Serikat telah melakukan bentuk baru terorisme yang keji dan bertentangan dengan prinsip kemanusiaan.
b.     Invasi Amerika Serikat ke Irak
Kampanye antiterorisme Amerika Serikat kembali memakan korban. Melalui Wakil Menteri Pertahananan AS Paul Wolfowitz, AS menuduh Irak menyembunyikan dan melatih pelaku jaringan teroris. Karena tidak dapat memberikan bukti yang kuat bahwa rezim Irak yang dipimpin Saddam Husein melakukannya, Bush menuduh Irak secara illegal menyimpan dan memproduksi senjata pemusnah massal. Selain tuduhan memproduksi senjata pemusnah massal, pemerintahan Saddam Husein juga dituduh melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia. Amerika menuduh Saddam membunuh ribuan suku Kurdi dan ratusan warga Irak.
PBB mengirim tim Inspeksi untuk membuktikan tuduhan AS tersebut. Tim inspeksi PBB tidak menemukan adanya fasilitas produksi senjata pemusnah massal di Irak. Saddam Husein menganggap tim inspeksi tersebut merupakan kedok untuk memata-matai kekuatan militer Irak maka Saddam mengusir tim tersebut. Pengusiran tim inspeksi dijadikan alasan oleh AS menyerang Irak.
Meskipun tidak mendapat mandat dari PBB dan mendapat tentangan dari berbagai negara dunia. Amerika Serikat dan sekutunya tetap melakukan Invasi ke Irak. Invasi tersebut terjadi pada tanggal 20 Maret 2003, dan berhasil menumbangkan Saddam serta membunuh ribuan rakyat Irak.  Setelah melakukan invasi, Amerika Serikat dan sekutunya bertanggung jawab menyelenggarakan pemilu yang demokratis di Irak. Sama dengan invasi Amerika ke Afghanistan, semuanya itu hanya kedok untuk menanamkan hegemoni Amerika Serikat, menggantikan dengan rezim baru yang pro Amerika dan kepentingan untuk mengelola minyak Irak yang merupakan salah satu terbesar di dunia.
Invasi ini juga dipengaruhi oleh dendam lama dari keluarga Bush. Pada masa George Bush menjadi Presiden Amerika Serikat terjadi Perang Teluk II yang telah dijelaskan diatas. Keinginan George Bush pada saat terjadi Perang Teluk adalah menumbangkan Rezim Saddam Husein, tetapi dihentikan dengan Resolusi PBB. Saat Amerika Serikat dibawah pimpinan Bill Clinton menggantikan George Bush, urusan Irak ditinggalkan begitu saja. Pada masa kepemimipinan George W. Bush Jr (anak George Bush) masalah tersebut dibangkitkan kembali bersamaan dengan Invasi Amerika ke Afghanistan seperti yang telah dijelaskan diatas.
Perang Irak berakhir dengan ditangkapnya Saddam Husein di persembunyiannya. Pengadilannya diserahkan pada pemerintahan Irak yang baru yang dibentuk oleh Amerika dan sekutunya. Hingga kini situasi Irak masih tidak menentu. Pasukan militer Irak masih melakukan gerilya dan melakukan pengeboman terhadap pasukan Amerika Serikat dan sekutunya yang bertanggung jawab memulihkan keamanan Irak pasca invasi.
Uji Pemahaman Materi
Tugas Mandiri!
Kerjakan sesuai dengan tugasnya!
Carilah berbagi sumber yang relevan, baik dari buku materi, buku bacaan dan internet! Konflik di Timur-Tengah antara Israel dan Palestina, sering mendapat sebutan konflik abadi dikarenakan setiap upaya yang dilakukan untuk mendamaikan kedua pihak tidak berhasil. Apa yang menjadi penyebab yang menjadikan konflik tersebut tidak kunjung reda/belum dapat diselesaiakan hingga sekarang? Kerjakan dalam buku tugsamu!
Tugas Kelompok!
Kerjakan sesuai dengan tugasnya!
Dengan dalih perang terhadap terorisme global, Amerika Serikat melakukan Invasi ke Aghanistan dan Irak. Bahkan tanpa persetujuan dari PBB Amerika Serikat tetap melakukannya. Menjelang berakhirnya Invasi tersebut dunia mengetahui perang terhadap terorisme global hanya kedok belaka.
1.      Apa saja yang menjadi tujuan dari Invasi Amerika Serikat ke Afghanistan dan Irak? Jelaskan!
2.      Bagaimana posisi dan peran PBB dalam mengatasi Invasi tersebut? Jelaskan!
Buatlah kelompok berdasarkan arahan dari gurumu! Diskusikan mengenai masalah diatas! Tulislah kesimpulan dari diskusi kelompokmu!
B. Globalisasi dan Perubahan Tata Dunia Baru
Ilmu pengetahuan terus berkembang. Berbagai teknologi di bidang informasi, komunikasi dan transportasi ditemukan. Hal tersebut membuat dunia memasuki era baru yang disebut dengan era global. Era global adalah suatu masa/rentang waktu dimana dunia sekan-akan tidak memiliki batas pemisah dan semua menjadi satu.
1. Proses Globalisasi
Kemajuan teknologi seperti televisi, satelit, radio, pesawat terbang, internet, satelit dan masih banyak lagi membuat seolah-olah dunia tidak memliki batas dan negara seperti tidak ada, segalanya menjadi mendunia sehingga lahir istilah globalisasi. Globalisasi membuat perubabahan yang sangat besar diberbagai bidang dan aspek kehidupan.
a. Bidang Politik
                  Proses globalisasi di bidang politik mengalami hambatan, bahkan saat ini globalisasi di bidang politik belum bisa dilaksanakan dengan baik. Setiap negara di suatu kawasan masih memiliki banyak perbedaan dalam menjalankan politik pemerintahan negaranya. Perbedaan tersebut berdasarkan pada perjalanan sejarah suatu bangsa/adat-istiadat dari suatu daerah yang berbeda satu dengan yang lain. Masalah politik sangat rawan peperangan. Amerika sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB sekaligus salah satunya negara adikuasa menerapkan standar ganda, dengan menjalankan kebijakan yang hanya menguntungkan kepentingan negaranya saja.
b.   Bidang Ekonomi
                  Menjelang akhir abad ke-20 kegiatan ekonomi masyarakat dunia meningkat pesat. Persaingan ekonomi tampak jelas dalam bidang industri. Masing-masing negara industry berusaha untuk mendapatkan psar bagi barang-barang hasil industrinya. Pelaksanaan ekonomi global diawali adanya kesepakatan pelaksanaan ekonomi secara regional. Dalam rangka kerja regional maupun global banyak terkandung nilai-nilai yang bermanfaat berikut ini.
1).  Nilai Persahabatan Antarbangsa
           Merupakan masalah yang sangat penting karena melalui persahabatan antarbangsa akan tercipta kehidupan yang harmonis dan penuh kedamaian.
2).  Nilai Kemanusiaan
           Masalah kemanusiaan atau hak-hak asasi manusia (HAM) telah menjadi sorotan yang tajam bagi masyarakat dunia.
3).  Nilai Musyawarah dan Mufakat
           Setiap masalah yang dihadapi memerlukan jalan keluar, setiap bangsa/masyarakat dunia selalu berhadapan dengan masalah-masalah, baik yang menyangkut aktivitas bangsanya maupun aktivitas kehidupan bangsa-bangsa lain di dunia. Setiap masalah yang dihadapi oleh setiap bangsa/antarbangsa hendaknya dapat diselesaikan dengan musyawarah untuk mencapai mufakat.
4).  Nilai Kerja Sama
Setiap bangsa di dunia tidak akan bisa memenuhi kebutuhan hidupnya dan bangsanya sendiri. Mereka perlu mendapat bantuan dari negara lain, maka perlu adanya kerja sama dalam segala kehidupan masyarakat. Melalui hubungan kerja sama itu setiap negara dapat memperoleh pinjaman luar negeri untuk membiayai pembangunan.
5).  Nilai Saling Menghargai
           Apabila suatu bangsa dapat menghargai kedudukan bangsa lainnya maka peperangan tidak akan terjadi. Dengan demikian, kehidupan setiap bangsa di dunia akan penuh dengan sikap saling pengertian yang mendorong perdamaian, ketenteraman, dan kesejahteraan dunia.
6).  Nilai Cinta Perdamaian
    Perdamaian merupakan faktor utama dalam menciptakan kehidupan dunia yang tenteram dan sejahtera. Dengan demikian, nilai-nilai kerja sama, baik regional atau global bangsa itu tidak akan berkembang dan tidak akan pernah maju. Nilai-nilai itu sampai saat ini masih tetap dibutuhkan oleh bangsa-bangsa dunia.
            Saat ini ada dua kawasan yang menjadi program kesepakatan dan pelaksanaan perdagangan bebas. Negara-negara Eropa yang diawali dengan penyatuan mata uang dengan Euro, saat ini kawasan Eropa teleah menerapkannya dan dikenal dengan EUROP (Uni Eropa). Kedua adalah negara-negara di kawasan Asia Pasifik akan dijadikan kawasan perdagangan bebas untuk semua anggota APEC (Asia Pasifik Economic Cooperation) pada tahun 2020.
2. Keberhasilan Jepang dan Pengaruhnya terhadap Tatanan Dunia
Setelah berakhirnya Perang Dunia II, Jepang dihadapkan pada permasalahan yang cukup gawat. Pada tahun 1947 penduduk Jepang masih sekitar 78 juta jiwa. Jumlah itu makin meningkat dan mencapai 100 juta jiwa. Untuk mengatasi ledakan penduduk, pada tahun 1948 Jepang mengeluarkan undang-undang yang mengizinkan dilakukannya pengguguran kandungan dalam keadaan tertentu dengan alasan kesehatan dan ekonomi. Semua permasalahan yang disebabkan kekalahan Jepang pada Perang Dunia II dapat diatasi berkat tingkat pendidikan dan pengajaran Jepang yang sangat maju, disiplin kesadaran nasional Jepang yang tinggi serta ketersediaan fasilitas kesehatan bagi rakyat.
      Semua permasalahan tersebut berhasil dilalui oleh Jepang, berkat tingkat pendidikan dan pengajaran Jepang yang sudah maju, disiplin kesadaran nasional yang tinggi, serta tersedianya cukup fasilitas kesehatan bagi rakyat. Perkembangan ekonomi Jepang bertambah maju, hubungan dengan negara-negara ASEAN makin erat.
Investasi modal Jepang di negara-negara ASEAN mengalami kemajuan. Investasi Jepang ini mengancam dunia bisnis negara-negara Barat. Supremasi dibidang teknologi dan ekonomi yang sudah berabad-abad didominasi oleh Barat mulai tergeserkan oleh Jepang. Dalam hubungannya dengan luar negeri pada tahun 1970 Jepang menjalin hubungan dengan Uni Soviet dan RRC, sedangkan AS tetap mengandalkan Jepang sebagai kekuatan untuk menahan pengaruh komunisme ke Asia.
a.     Jepang Menjadi Pelopor Ekonomi Global
            Kejayaan Jepang dalam bentuk kekuasaan ekonomi pada saat ini melebihi kekaisaran Asia Timur Raya. Kalau negara ingin maju, maka yang disiapkan bukan kekuatan militer dan politik, tetapi kekuasaan ekonomi pasarnya sehingga dapat berkiprah baik dalam internasionalisasi pasar. Dalam rangka memperkuat ekonomi pasarnya Jepang melakukan hal-hal, antara lain mengekspor barang-barang hasil produksinya dalam jumlah besar; membangun kekuatan pembelinya; mengajak pembeli berpartisipasi dalam produksi; membantu pembangunan negara-negara yang masih terbelakang.
            Meningkatnya intensitas kerja sama antarnegara dalam bermacam-macam bidang usaha ataupun kerja sama ekonomi sehingga muncullah ekonomi global. Sistem ekonomi global menyadarkan kaum politisi dan kaum militer dengan kegiatan spionase, berlomba-lomba membangun kekuatan militer, perlombaan senjata, dan mesin perang, serta perdagangan senjata.
Dalam ekonomi global diperlukan adanya kerja sama antarpengusaha dari berbagai bangsa dan diperlukan kerja sama di bidang ekonomi, budaya, sosial pendidikan antarnegara. Dengan demikian, pengalaman internasionalisasi pasar Jepang bisa dijadikan contoh sebagai landasan untuk membangun dunia baru yang alami.
b.     Pengaruh Ekonomi Jepang terhadap Tatanan Politik dan Ekonomi Dunia
Kemajuan ekonomi Jepang memiliki pengaruh besar terhadap tatanan politik dan ekonomi negara-negara lain di dunia. Jepang membuka hubungan dengan negara-negara lain di dunia karena dipengaruhi oleh faktor ekonomi. Jepang ingin mencari tempat pemasaran hasil-hasil produksi industrinya. Kemajuan ekonomi Jepang jelas besar pengaruhnya terhadap tatanan politik dan ekonomi dunia. Beberapa faktor yang menjadi pendukung berkembangnya perekonomian Jepang, misalnya mempunyai sumber daya manusia yang berkualitas; dukungan teknologi yang sangat maju; tersedianya sarana dan prasarana yang lengkap.
Negara-negara di dunia ingin berhubungan dengan Jepang dipengaruhi oleh faktor ekonomi. Tujuanya adalah memperoleh pinjaman agar dapat membangun perekonomian negara. Dengan meningkatnya ekonomi negara yang bersangkutan maka negara tersebut akan memasok barang-barang produksi Jepang ke negerinya.
3. Perubahan Kutub Konflik dari Timur-Barat Menjadi Utara Selatan
            Konflik Timur-Barat adalah perbutan hegemoni yang diwarnai dengan perlombaan senjata dan penggulingan kekuasaan di negara-negara Asia-Afrika yang terlibat dalam Perang Dingin. Konflik Timur-Barat berakhir sejak tahun 1991, dimana puncaknya adalah runtuhnya blok Timur Uni Soviet. Pada tahun 1980-an sudah bisa diprediksi bahwa konflik dunia akan berubah dari Timur–Barat menjadi Utara–Selatan. Pengertian Utara–Selatan berdasarkan suatu forum politisi internasional yang diketuai oleh Willie Brandt yang menghasilkan Brandt Report yang isinya adalah sebagai berikut.
a.   Kelompok Utara
Kelompok Utara adalah kelompok negara yang memiliki teknologi industri maju. Contonhya adalah Inggris, Amerika, Jepang, Jerman, Prancis dan lain-lain.
b.   Kelompok Selatan
                  Kelompok Selatan adalah kelompok negara yang termasuk negara berkembang. Contonhnya adalah Indonesia, Vietnam, Aljazair, Filipina dan lain-lain
Perbedaan kondisi sosial, ekonomi, budaya antara pihak Selatan-Utara mengggiring kepada keaadaan saling ketergantungan. Negara Utara memilik keunggulan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, namu kurang didukung sumber daya alam. Sedangkan negara Selatan memliki sumber daya alam yang melimpah, namun tidak didukung oleh penguasaan teknologi. Hal ini mendorong untuk adanya kerjasam Utar-Selatan.
Hubungan tersebut pada awalnya cenderung ke pemerasana oleh pihak Utara, yang menjadikan hubungan anatar Utara-Selatan bersifat dominasi-subordinasi. Negara Utara cenderung untuk memaksakan model pembangunan terhadap negara Selatan. Pemaksaan ini dilakukan dengan perundingan dalam lembaga keungan internasional. Bank Dunia dan IMF mengeluarkan Program Penyesuaian Struktural yang intinya memaksa negara-negara yang mendapatkan bantuan utang untuk membuka pasar dalam negeri mereka, menekankan kegiatan ekonomi yang menghasilkan barang-barang yang bisa diekspor, dan mengurangi subsidi terhadap sector publik. Program ini banyak menciptakan kemiskinan di kalangan rakyat jelata.
Tahun 1990-an sampai 2000 kesenjangan ekonomi Utara–Selatan berusaha dipecahkan dengan cara membuka forum North South Dialogue. Tujuannya untuk memberikan pelunakan utang negara Selatan terhadap Utara. Utara sangat tergantung pada bahan mentah, tenaga kerja besar, dan pasaran dari Selatan. Selatan sangat tergantung pada pinjaman dari Utara untuk mengatasi kemiskinan. Namun, hubungan ini sedikit terganggu dengan munculnya aksi-aksi terorisme yang tidak ingin negara Utara mengeksploitasi negara Selatan.
Negara-negara Selatan dengan kecenderungan untuk memperoleh posisi tawar menawar yang seimbang dengan negara-negara Utara, terkonsentrasi dalam organisasi seperti Kelompok  77 dan Gerakan Nonblok. Dalam wadah itulah negara Selatan menyalurkan aspirasinya.
4. Ikatan dan Kerjasama Regional Maupun Global
Globalisasi telah mendorong dunia untuk menjalin kerja sama baik secara regional maupun internasional. Kerjasama tersebut menciptakan berbagai organisasi kerja sama berdasarkan kesamaan tujuan. Berikut beberapa organisasi yang muncul akibat adanaya globalisasi.
a.     Gerakan Nonblok (GNB)
Gerakan Nonblok (GNB) merupakan suatu organisasi dari negara yang tidak memihak Blok Barat dan Blok Timur. Kelompok negara-negara ini bertujuan untuk mengusahakan adanya pendekatan antara kedua blok yang saling bertentangan dan mencegah timbulnya peperangan. Gagasan pembentukan Gerakan Nonblok datang dari  Presiden Soekarno (Indonesia); Presiden Yoseph Bros Tito (Yugoslavia); Presiden Gamal Abdul Nasser (Mesir); PM J. Nehru (India); PM Kwame Nkrumah (Ghana).
Sejak berdirinya Gerakan Nonblok, para tokoh tersebut telah mempunyai komitmen untuk memajukan perdamaian dunia. Adapun yang menjadi tujuan Gerakan Nonblok adalah sebagai berikut.
a.   Pengurangan ketegangan antara Blok Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan Blok Timur pimpinan Uni Soviet.
b.   Pendukung perjuangan dekolonisasi dan memegang teguh perjuangan melawan imperialisme, kolonialisme, neo-kolonialisme, rasionalisme, Apartheid, dan zionisme.
c.   Sebagai wadah perjuangan negara-negara yang sedang berkembang.
d.   Tidak membenarkan usaha penyelesaian sengketa dengan kekerasan.
e.   Memajukan kerja sama di bidang ekonomi, sosial, dan politik antara sesama anggota dan memelihara keamanan dan perdamaian dunia.
Gerakan Nonblok memiliki corak politik tersendiri. Corak politik yang dijalankan oleh negara-negara anggota Gerakan Nonblok adalah politik bebas aktif. Karena memiliki pandangan yang sama maka diadakan pertemuan rutin bagi para anggotanya. Pertemuan negara anggota Gerakan Nonblok dikenal dengan nama Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Nonblok. Gerakan Nonblok sampai tahun 2011 telah mengadakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) sebanyak sebelas kali.
b.     ASEAN (Association of South east Asia Nations)
ASEAN adalah perhimpunan bangsa-bangsa di Asia Tenggara. ASEAN dibentuk oleh wakil lima negara (menteri luar negeri) di kawasan Asia Tenggara, yaitu Adam Malik (Indonesia); Tun Abdul Razak (Malaysia); Thanat Khoman (Muangthai); S. Rajaratnam (Singapura); Narcisco Ramos (Filipina).
            Kelima Menteri Luar Negeri itu menandatangani Deklarasi Bangkok pada tanggal 8 Agustus 1967 di Bangkok. Dalam Deklarasi Bangkok disebutkan maksud dan tujuan berdirinya ASEAN, antara lain sebagai berikut.
1)      Mempercepat pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial dan perkembangan kebudayaan di Asia Tenggara melalui usaha-usaha bersama.
2)      Memajukan perdamaian dan stabilitas regional di kawasan Asia Tenggara dengan menghormati hukum dan prinsip-prinsip yang tertuang dalam Piagam PBB.
3)      Meningkatkan kerja sama aktif dan memberikan bantuan bersama antarnegara anggota ASEAN dalam bidang ekonomi, sosial, budaya, teknologi, ilmu pengetahuan serta administrasi.
4)      Mengadakan pembahasan bersama tentang masalah-masalah yang terjadi di kawasan Asia Tenggara.
5)      Memajukan kerja sama antara negara-negara anggota ASEAN dalam bidang pertanian, industri, perdagangan, komunikasi dan berusaha meningkatkan kemakmuran masyarakat.
6)      Menyediakan bantuan dalam bentuk fasilitas latihan dan penelitian di bidang penelitian, teknik, profesi, dan administrasi.
7)      Meningkatkan kerja sama dengan organisasi regional dan organisasi internasional yang lain yang bermanfaat bagi negara-negara anggota ASEAN.
            Dalam upaya untuk mencapai maksud dan tujuan ASEAN diselenggarakan dengan menggunakan struktur organisasi. Struktur organisasi ASEAN telah mengalami pengem­bangan dan penyempurnaan sejak pembentukannya sampai sekarang. Struktur organisasi ASEAN sebelum KTT ASEAN I di Bali meliputi Sidang Tahunan Para Menteri; Standing Committee; Komite-komite Tetap dan Khusus; Sekretariat Nasional ASEAN pada setiap ibu kota negara-negara anggota ASEAN.
            Setelah berlangsungnya KTT ASEAN I di Bali tahun 1976, struktur organisasi ASEAN mengalami perubahan sebagai berikut.
1)      Summit Meeting, yaitu pertemuan para kepala pemerintahan negara-negara anggota ASEAN yang merupakan kekuasaan tertinggi dalam ASEAN pertemuan ini diadakan bila dirasa perlu untuk memberikan pengarahan berkenaan dengan kegiatan dan masalah yang timbul dalam ASEAN. Tujuannya adalah untuk membahas masalah-masalah penting dalam negara-negara ASEAN dan menentukan garis-garis besar kebijaksanaan ASEAN.
2)      ASEAN Ministerial Meeting, yaitu sidang tahunan para menteri luar negeri negara-negara ASEAN. Setiap tahun para menteri luar negeri negara ASEAN mengadakan sidang guna merumuskan kebijakan dan koordinasi kegiatan-kegiatan ASEAN.
3)      Sidang Para Menteri Ekonomi ASEAN yang diselenggarakan dua kali dalam setahun bertujuan untuk merumuskan kebijakan ekonomi serta mengevaluasi hasil-hasil yang dicapai dari kerja sama ekonomi ASEAN.
4)      Sidang Para Menteri Nonekonomi, sidang para menteri nonekonomi diselenggarakan bila dipandang perlu yang meliputi bidang pendidikan, kesehatan, sosial budaya, penerangan, ilmu pengetahuan dan teknologi.
5)      Panitia Tetap/Standing Committee, dikembangkan dengan adanya Sekretaris Jenderal ASEAN. Badan ini bertugas membuat keputusan dan menjalankan keputusan-keputusan hasil sidang para menteri luar negeri ASEAN.
6)      Komite-komite ASEAN terdiri atas dua bidang, yaitu komite bidang ekonomi dan komite nonekonomi.
Ada lima komite ekonomi yang berkedudukan tetap di negara-negara yang ikut menandatangani Deklarasi Bangkok di bawah koordinasi para Menteri Ekonomi, yaitu sebagai berikut.
1)    Komite Perdagangan dan Pariwisata (Committee on Trade and Tourism/COTT) berkedudukan di Singapura.
2)    Komite Industri Pertambangan dan Energi (Committee on Industri, mineral, and energy/COIME) berkedudukan di Filipina.
3)    Komite keuangan dan perbangkan (Committee on Finance and Bank/COFAB) berkedudukan di Thailand.
4)    Komite pangan, pertanian, dan kehutanan (Committee on Food Agriculture and Foresty/COFAF) berkedudukan di Indonesia.
5)    Komite Transportasi dan Komunikasi (Committee on Transportation and Com­muni­cation/COTAC) berkedudukan di Malaysia.
           Adapun komite bidang nonekonomi dikategorikan dalam tiga komite yang tempat kedudukannya berpindah-pindah setiap tahun, yaitu sebagai berikut.
1)    Komite Kebudayaan dan Penerangan (Committee on Culture and Information/COST);
2)    Komite Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Committee on Science and Technology/COST);
3)    Komite Pembangunan Sosial (Committee on Social Development/COSD).
Seiring dengan makin meningkatnya kegiatan ASEAN maka dirasa perlu untuk memiliki sekretariat tetap. Pada KTT ASEAN tahun 1976 di Denpasar, Bali telah disepakati adanya Agreement on the Establishment of the ASEAN Secretariat. Dalam pertemuan tersebut ditetapkan pula Sekretariat Tetap ASEAN yang berkedudukan di Jakarta, Indonesia.
Sekretariat tetap ASEAN dipimpin oleh seorang sekretaris jenderal yang diangkat secara bergilir dari negara-negara anggota dengan masa jabatan 2 tahun dan dapat diperpanjang menjadi 3 tahun. H.R. Dharsono dari Indonesia adalah Sekjen ASEAN pertama. Dalam menjalankan tugasnya, sekretariat jenderal dibantu oleh staf regional dan staf lokal. Untuk melaksanakan tugas harian dibantu oleh tujuh orang staf sekretariat yang berasal dari negara-negara ASEAN.
Dalam perkembangan selanjutnya, kerja sama antara negara-negara ASEAN semakin bertambah mantap dan secara langsung berhasil meningkatkan semangat hidup setiap negara anggotanya. Bentuk-bentuk hubungan kerja sama dalam lingkungan negara-negara ASEAN meliputi bidang politik, ekonomi, dan sosial budaya.
c.     Kerjasama Utara-Selatan
1)         Kelompok Utara
Negara-negara industri di belahan bumi utara membentuk Kelompok Utara. Mereka terdiri atas Amerika Serikat, Kanada, Prancis, Inggris, Jerman, Italia, dan Jepang. Ketujuh negara tersebut dikenal dengan Group of Seven (G-7).
Untuk waktu-waktu tertentu diadakan pertemuan puncak guna membicarakan masalah-masalah yang dihadapi dengan teknologi yang makin canggih. Mereka juga waspada terhadap negara-negara berkembang yang tergabung dalam Kelompok Selatan.
2)         Kelompok Selatan
Kelompok Selatan terdiri atas negara-negara yang baru merdeka dan berkembang. Dalam menghadapi Kelompok Utara yang menguasai perekonomian dunia, Kelompok Selatan membentuk persekutuan yang dikenal dengan Kelompok 77. Kelompok 77 berjuang mendesak Kelompok Utara agar tata perekonomian lama yang hanya menguntungkan Kelompok Utara dirombak sehingga terjadi pemerataan dan keadilan dalam kemakmuran. Perjuangan Kelompok Selatan melawan kemiskinan mendapat dukungan dari organisasi OPEC.
Untuk menghindari terjadinya pertentangan antara Kelompok Utara dan Kelompok Selatan akibat perbedaan kemakmuran yang makin besar diadakan dialog. Akan tetapi, dialog itu belum memberikan hasil seperti yang diharapkan Kelompok Selatan karena Kelompok Utara berusaha mempertahankan kedudukannya yang menguntungkan.
3)   Kelompok Selatan–Selatan
Kerja sama Selatan-Selatan dirasakan makin perlu digalang, tokoh Kelompok Selatan adalah Yulius Nyerere, mantan Presiden Tanzania. Lima besar negara-negara Selatan mengadakan pertemuan tingkat tinggi di Kuala Lumpur tahun 1990. Delegasi Indonesia dipimpin oleh Presiden Soeharto. Keputusan yang diambil adalah mempererat kerja sama, seperti penurunan tarif perdagangan dan meningkatkan perdagangan.
d.         Developing-8 (D-8)
Atas prakarasa PM Turki Nec Mettin Erbakan dibentuk badan kerja sama delapan negara berkembang (1997) yang terdiri atas Indonesia, Pakistan, Bangladesh, Mesir, Turki, Iran, Malaysia, dan Nigeria.





INI DIA PRODUK YANG MENAMBAH DAN MEMPERTAHANKAN KECANTIKAN ANDA DARI DALAM, BADAN SEHAT DAN WAJAH CANTIK JADI IDAMAN

Merawat Kecantikan Kulit Kecantikan kulit sangat penting untuk diajaga khasiat sari kurma ternyata mampu membuat kulit anda senantiasa lembut dan halus. Mencegah Penuaan Dini Penuaan dini bisa dihindari dengan asupan sari kurma yang cukup dalam tubuh. Atasi Kulit Sensitif Vitamin B6 dan protein di dalamnya dapat mencegah infeksi kulit sekaligus membuat kulit tampak lebih segar, gunakan masker kurma untuk pemilik wajah yang sensitif atau kulit yang sedang iritasi. Caranya haluskan buah kurma dengan blender dan tambahkan yoghuart dingin kemuadian oleskan ke wajah diamkan bebrapa menit lalu bilas hingga bersih.

IklanSariKurmaAjwa

artikel lainnya KONFLIK YOGOSLAVIA

Monday 23 March 2015 | Post

Pengayaan (kegiatan bebas) Kerjakan sesuai dengan perintahnya! Buatlah tulisan yang berjudul kerja sama keluarga! Tulisan tersebut…

Friday 23 March 2012 | Post

KISI-KISI  GEOGRAFI SMA/MA (PROGRAM IPS)UJIAN NASIONAL 2011-2012 1. a. Mendeskripsikan , hakikatobjek, ruang lingkup, prinsip, konsep,…

Sunday 8 April 2018 | Post

“Yang saya lihat di desa ini adalah hampir semua petaninya golongan tua, sedangkan anak mudanya berbondong…

Monday 25 September 2017 | Post

Absolute Shopping Festival Exhibition Blok M Plaza,  18 Sept – 15 Okt 2017 The Darmawangsa Square;…

Rekening


BRI : 051201005742507 An/ : Budi Prihono, S.Sos
MANDIRI : 1380010506520 An/ : Budi Prihono, S.Sos
BNI : 0282198021 An/ : Budi Prihono, S.Sos
BCA : 0770538343 An/ : Budi Prihono, S.Sos
Info & Pemesanan : Kayamara Group, Perumnas Jl. Salak 5 No. 125 RT. 001/019, Ngringo, Jaten, Karanganyar 57772
0271-8202839
085647595948
085647595948