Menu

KEHIDUPAN MANUSIA PURBA

Mar
25
2015
by : PakdheBudi Kayamara. Posted in : Post
Kehidupan Manusia Purba pada Zaman Praaksara di Indonesia Manusia yang pernah hidup di dunia ternyata meninggalkan jejak. Jejak-jejak manusia purba telah ditemukan di berbagai negara oleh para ahli purbakala (arkeolog). Untuk mengetahui perkembangan kehidupan manusia purba pada zaman prasejarah

atau pada masa lampau, para ahli mengadakan penelitian dengan melakukan penggalian-penggalian. Dalam penelitian itu, mereka dibantu ilmu purbakala (arkeologi). Selain itu juga menggunkan ilmu stratigrafi (ilmu yang mempelajari umur benda berdsasarkan letaknya pada lapisan tanah). Dari berbagai hasil penggalian, para ahli purbakala menemukan fosil dan artefak.

1. Para Peneliti Manusia Purba di Indonesia
Setelah abad 18, banyak arkeolog dari luar negeri yang mengadakan penelitian tentang manusia purba di Indonesia. Para peneliti tersebut antara lain adalah sebagai berikut ini.
a.      Eugene Dubois
     Eugene Dubois adalah seorang dokter berkebangsaan Belanda yang pertama kali melakukan penelitian manusia purba di Indonesia. Ia tertarik melakukan penelitian di Indonesia setelah mendapat kiriman tengkorak manusia purba dari salah seorang koleganya, yaitu B.D. van Reitschoten pada tahun 1889. Van Reischoten menemukan tengkorak kepala tersebut di daerah Wajak, Tulungagung, Jawa Timur ketika berusaha menemukan tambang marmer.
     Eugene Dubois berhasil menemukan fosil berupa tulang tengkorak di Desa Trinil, Ngawi, Jawa Timur pada tahun 1890. Penemuan tersebut kemudian diberi nama Pitecanthropus erectus, artinya manusia kera berjalan tegak. Ternyata, hasil penemuan Eugene Dubois di kemudian hari sangat menggemparkan dunia ilmu pengetahuan. Hal itu disebabkan hasil penemuan itu mulai menguak sejarah panjang keberadaan manusia di bumi untuk pertama kalinya.
b.      Ter Haar, Oppernorth, dan G.H.R. von Koenigswald
     Ter Haar, Oppernorth, dan G.H.R. von Koenigswald melakukan penelitian di daerah Ngandong, Blora, Jawa Tengah. Mereka berhasil menemukan fosil yang kemudian disebut Homo soloensis. Disebut demikian, karena fosil tersebut ditemukan di sepanjang aliran Sungai Bengawan Solo. Von Koenigswald pada kurun waktu 1936–1941 berhasil menemukan fosil yang berupa rahang bawah berukuran besar. Fosil tersebut kemudian atas kesepakatan para ahli disebut Meganthropus paleojavanicus
c.      Cokrohandoyo dan Duifjes
            Cokrohandoyo adalah seorang ahli purbakala Indonesia yang bekerja pada tim purbakala yang dipimpin Duifjes. Tim tersebut telah berhasil menemukan dua fosil manusia praaksara. Fosil pertama ditemukan di Desa Perning, Mojokerto, Jawa Timur. Fosil kedua ditemukan di Sangiran, Sragen, Jawa Tengah.
d.      Prof. Dr. Teuku Jacob
     Ketika bangsa Indonesia berhasil memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, upaya penggalian fosil untuk kepentingan ilmu pengetahuan terus dilanjutkan. Salah seorang ahli purbakala Indonesia yang melakukan penelitian adalah Prof. Dr. Teuku Jacob. Dari penelitian yang lakukan di Desa Sangiran dan di sepanjang aliran Sungai Bengawan Solo, Prof. Dr. Teuku Jacob berhasil menemukan tiga belas fosil. Ia berhasil menemukan fosilnya yang ke-13 di Desa Sambung Macan, Sragen, Jawa Tengah pada tahun 1973.
                    2. Jenis-jenis Manusia Purba di Indonesia
              Dari hasil penelitian Indonsia memiliki jenis-jenis manusia yang cukup banyak. Bahkan Pithecanthropus Palaeojavanicus dianggap manusia paling tua di dunia yang diperkirakan hidup antara 700.000 hingga 1.200.000 tahun lalu. Berikut adalah manusia purba yang ditemukan di Indonesia.
a. Meganthropus palaeojavanicus.
Text Box: Sangiran adalah situs warisan dunia. Di Sangiran terdapat banyak sekali fosil-fosil peninggalan purbakala. Diperkiran masih banyak fosil yang terdapat di daerah Sangiran yang belum diketemukan.        Pada kurun waktu tahun 1936 dan 1941, Ralph von Koenigswald menemukan fosil yang berupa rahang bawah dan atas serta gigi lepas di daerah Sangiran, Sragen, Jawa Tengah. Fosil tersebut ditemukan pada lapisan Pleistosen Tengah. Para ahli memberi nama fosil tersebut Meganthropus palaeojavanicus. Meganthropus palaeojavanicus, artinya manusia besar dari Jawa kuno. Ciri-ciri Meganthropus Palaeojavanicusadalah sebagai berikut.
1)   Berbadan tegap.                                                                          
2)   Bertulang pipi tebal, tonjolan kening yang menyolok, dan tonjolan belakang kepala yang tajam.
3)   Tidak adanya dagu.
4)   Permukaan kunyah terdapat banyak kerut, tetapi bentuk giginya adalah hominin.
5)   Otot kunyahnya kokoh dan geraham besar.
7)   Gerahamnya menunjukkan ciri manusia, tetapi mendekati ciri-ciri kera.
8)   Hidup pada 1 juta sampai dengan 2 juta tahun yang lalu.
b.  Pithecanthropus
            Fosil manusia purba jenis Pithecanthropuspaling banyak ditemukan di Indonesia. Fosil Pithecanthropus ditemukan di lapisan Pucangan dan Kabuh di daerah Mojokerto, Kedung Brubus Trinil Ngawi, Sangiran, Sambung Macan, dan di Ngandong Blora. Berdasarkan umur lapisan tanah, diperkirakan fosil Pithecanthropus berumur 30 ribu sampai dengan 2 juta tahun yang lampau. Pithecanthropus mempunyai ciri, an­tara lain sebagai berikut.
1)   Berbadan tegap, tetapi tidak setegap Meganthropus.
2)   Bertinggi badan kurang lebih 165–180 cm.
3)   Otot pengunyah tidak sekuat Meganthropus.
4)   Berhidung lebar dan berdagu.
5)   Diduga makanannya berupa daging binatang buruan dan tumbuhan.
6)   Tonjolan kening tebal dan melintang sepanjang pelipis.
Pithecanthropus, artinya manusia kera. Jenis Pithecanthropus yang ditemukan di Indonesia, antara lain Pithecanthropus mojokertensis, Pithecanthropus erectus, dan Pithecanthropus soloensis.
1) Pithecanthropus mojokertensis (Manusia Kera dari Mojokerto)
Fosil Pithecanthropus mojokertensis ditemukan pada tahun 1936 oleh G.H.R. von Koenigswald di Perning, Mojokerto, Jawa Timur. Fosil tersebut karena ditemukan di Mojokerto maka dinamakan Pithecanthropus mojokertensis. Fosil yang ditemukan berupa tengkorak anak-anak pada lapisan Pleistosen Bawah. Fosil yang ditemukan tergolong Pithecanthropusyang paling tua.
2) Pithecanthropus Erectus
Fosil Pithecanthropus erectus ditemukan di DesaTrinil, Ngawi, Jawa Timur (berada pada lembah aliran Sungai Bengawan Solo) pada tahun 1890 oleh ahli purbakala Belanda, Dr. Eugene Dubois. Fosil yang ditemukan berupa tulang rahang, bagian atas tengkorak, geraham, dan tulang kaki. Fosil tersebut setelah diteliti dan direkonstruksi ternyata membentuk kerangka manusia yang mirip kera. Pithecanthropus erectus,artinya manusia kera berjalan tegak.
3) Pithecanthropus Soloensis
Fosil Pitecanthropus soloensis ditemukan oleh G.H.R. Von Koenigswald dan Oppernorth di Ngandong, Blora dan Sangiran, Sragen. Kedua daerah tersebut berada di Lembah Sungai Bengawan Solo. Penemuan fosil tersebut berlangsung pada kurun waktu 1931–1933. Fosil yang ditemukan meliputi tulang tengkorak dan tulang kering. Pithecanthropus soloensis, artinya manusia kera dari Solo.Temuan pertama di Indonesia yang boleh dikata menjadi pangkal penyelidikan-penyelidikan selanjutnya adalah temuanPithecanthropus erectus. Pada tahun 1890 oleh E. Dubois berhasil menemukan fosil yang diduga sebagai Pithecanthropus erectus di dekat Trinil, sebuah desa di pinggir Bengawan Solo, tidak jauh dari Ngawi, Jawa Timur.
c. Homo
                    Fosil manusia purba jenis ini adalah paling muda dibandingkan dengan fosil manusia purba lainnya. Ciri-ciri manusia purba jenis homo adalah sebagai berikut.
1)   Volume tengkorak berkisar 1000–2000 cc.
2)   Badannya lebih tinggi, yaitu berkisar 130 – 210 cm dan berat badannya berkisar 30 – 150 kg.
3)   Otaknya lebih berkembang.
4)   Alat pengunyah sudah menyusut, gigi mengecil, rahang serta otot kunyah dan muka tidak begitu menonjol lagi ke depan.
5)   Mempunyai ciri ras Mongoloid dan Austra-melanosoid.
           Fosil manusia praaksara jenis Homo yang ditemukan di Indonesia, antara lain Homo wajakensis, Homo soloensis, dan Homo sapiens
                                     1)    Homo wajakensis
              Pada tahun 1889 G.H.R. Von Koenigswald menemukan fosil yang berupa ruas tulang leher dan tengkorak di Wajak, Tulungagung, Jawa Timur. Temuan ini kemudian diselidiki oleh Eugene Dubois. Pada tahun 1890 Eugene Dubois menemukan fosil berupa tengkorak, rahang atas dan bawah, tulang kering, dan tulang paha di lokasi yang sama ketika ditemukan von Koenigswald.
              Fosil manusia purba tersebut kemudian dinamakan Homo wajakensis, artinya manusia dari Wajak. Homo wajakensis lebih tinggi tingkatannya daripada Pithecanthropus erectus. Manusia purba jenis Homo wajakensis diduga sudah mampu membuat peralatan dari batu dan tulang yang telah halushasilnya. Mereka juga diduga telah mengenal cara mengolah makanan.
                                     2)    Homo soloensis
              Fosil jenis Homo soloensis ditemukan pada sekitar tahun 1931–1934 oleh Ter Haar dan Oppennorth di Ngandong, Blora, Jawa Tengah pada Lembah Sungai Bengawan Solo. Fosil-fosil itu kemudian diselidiki oleh G.H.R. Von Koenigswald. Fosil yang ditemukan berupa tulang tengkorak.
              Dari volume otaknya dapat diketahui bahwa fosil yang ditemukan sudah termasuk jenis manusia (Homo) bukan lagi manusia kera (Pithecanthropus). Simpulannya bahwa manusia purba tersebut lebih tinggi tingkatannya daripada Pithecanthropus erectus. Manusia purba itu kemudian diberi nama Homo soloensis
                                     3)    Homo sapiens
      Homo sapiens, artinya manusia cerdik. Homo sapiens sudah mengalami proses pengecilan pada bagian kepala dan bagian tubuh yang lain. Homo sapiens sudah mempunyai kebudayaan yang lebih tinggi daripada manusia purba lainnya.
      Mereka sudah mengenal cara bercocok tanam secara sederhana. Mereka telah ada yang tinggal di rumah panggung, namun ada juga yang masih tinggal di gua-gua. Kebudayaan yang dimiliki Homo sapiens termasuk kebudayaan Mesolitikum. Manusia purba jenis Homo ini hidup pada masa Pleistosen Atas sampai dengan masa Holosen sekitar 40.000–25.000 tahun yang lalu. Berdasarkan penemuan fosil di Ngandong oleh Ter Haar dan Oppennorth serta penyelidikan oleh Von Koenigswald, disimpulkan bahwa manusia purba jenis homo ini lebih tinggi tingkatannya apabila dibandingkan dengan jenis Pithecanthropus. Manusia purba jenis homo yang ditemukan di Ngandong dekat Solo itu disebut Homo soloensis, artinya manusia dari Solo.
C. Perkembangan Kebudayaan pada Zaman Praaksara
             Perkembangan Kebudayaan pada zaman praaksara di Indonesia dibagi dalam tiga babak, yaitu masa Berburu dan Meramu, masa Bercocok Tanam, dan masa Perundagian.
                    1.    Masa Berburu dan Meramu
                    Kehidupan manusia pada masa berburu dan meramu sangat bergantung pada alam. Hal inilah yang menyebabkan kehidupan manusia pada masa ini berpindah-pindah (nomaden). Pada masa Berburu dan Meramu jenis manusia yang hidup, antara lain Me­ganthropus paleojavanicus, Pithecanthropus, dan Homo wajakensis. Alat-alat yang digunakan pada masa ini, antara lain sebagai berikut.      
a.    Kapak Perimbas
                    Kapak perimbas adalah sebuah alat dari batu yang bentuk seperti kapak. Cara pembuatannya masih kasar dan belum diasah. Kapak perimbas digunakan dengan cara digenggam karena tidak memiliki tangkai. Wilayah Nusantara tempat penemuan kapak perimbas, antara lain Pacitan (Jawa Timur), Sukabumi (Jawa Barat), Bengkulu, Lahat Sumatra, Bali, Flores, dan Timor.
b.    Kapak Penetak
Kapak penetak memiliki bentuk yang hampir sama dengan kapak perimbas. Hanya saja yang membedakan, bentuk kapak penetak lebih besar daripada kapak perimbas. Cara pembuatan kapak penetak juga masih kasar. Kapak penetak digunakan untuk menebang pohon, membelah kayu, atau untuk memotong benda lainnya. Wilayah persebaran kapak penetak hampir di seluruh Nusantara.
c.    Kapak Genggam
                    Bentuk kapak genggam hampir sama dengan kapak perimbas dan kapak penetak. Bentuk kapak genggam lebih kecil dibandingkan kapak perimbas dan dan kapak penetak. Kapak  genggam dibuat sa­ngat sederhana dan belum diasah. Cara meng­guna­kannya dengan menggenggamnya pada bagian ujung­nya yang lebih kecil. Wilayah penemuan kapak genggam juga hampir di seluruh Nusantara.
d     Pahat Genggam
                    Bentuk pahat genggam lebih kecil dibanding­kan kapak genggam. Alat ini diduga berfungsi untuk menggemburkan tanah guna mencari umbi-umbian.
                    2.    Berburu dan Meramu Tingkat Lanjut             
             Manusia yang hidup pada masa Berburu dan Meramu Tingkat Lanjut di­duga dari jenis Australomelanosoid dan Mongoloid. Pada masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan Tingkat Lanjut, manusia purba di Indonesia sudah berupaya untuk bertempat tinggal secara  tetap di gua-gua alam, terutama di gua-gua payung yang setiap saat mudah untuk ditinggalkan jika dianggap sudah tidak memungkinkan lagi. Gua-gua payung itu letaknya dekat dengan sumber air atau sumber makanan. Makanan manusai purba dapat berupa ikan, kerang, siput, dan sebagainya. Mereka tinggal di pinggir pantai (kjokkenmoddinger) dan di dalam gua-gua (abris sous roches).   
                           a.    Kjokkenmoddinger
       Salah satu bukti adanya kehidupan manusia pada masa  Prasejarah adalah ditemukannya kjokkenmoddinger suatu istilah yang berasal dari bahasa Denmark (kjokken = dapur, modding = sampah). Secara harfiah kjokkenmoddinger diartikan sebagai sampah-sampah dapur. Biasanya sampah dapur tersebut berupa kulit kerang, siput, dan sejenisnya. Kjokkenmoddinger ditemukan di sepanjang pantai Pulau Sumatra Timur Laut (Aceh, Langsa, Medan).
                           b.    Abris sous roches
                    Abris sous roche merupakan gua-gua yang menyerupai ceruk-ceruk di dalam batu karang. Gua tersebut berfungsi untuk memberikan perlindungan kepada manusia Praaksara dari hujan dan panas. Alat-alat yang juga ditemukan di abris sous rosche di antaranya alat-alat dari batu berupa ujung panah dan flakes, batu-batu penggiling, kapak-kapak yang sudah diasah, alat-alat dari tulang dan tanduk rusa, dan alat-alat dari logam (perunggu dan besi). Tulang belulang manusia pun ditemukan (jenis Papua-Melanesoide) dan binatang.
                    Abris sous roches banyak ditemukan di Gua Lawa dekat Sampung (Ponorogo, Madiun), Bojonegoro, dan Lamoncong (Sulawesi Selatan). Para peneliti yang mengadakan penelitian tentang hal ini, yaitu Stein Callenfels di Gua Lawa, van Heekeren di daerah Basuki, dan Fritz Sarasain dan Paul Sarasin di Lamoncong. Didalam Abris sous roches terdapat lukisan-lukisan sebagai berikut.
                                     1).   Lukisan babi rusa yang digambarkan sedang melompat dengan panah di bagian jantungnya di dinding Gua Patta-E . Lukisan ini menggambarkan harapan hidup mereka agar berhasil membunuh binatang itu.
2).   Lukisan cap-cap tangan yang dibuat dengan jalan merentangkan jari-jari tangan di permukaan dinding gua atau dinding karang, kemudian ditaburi dengan cat warna merah. Lukisan seperti itu ditemukan di Gua Leang-Leang , Sulawesi.
Di dalam lukisan-lukisan Praaksara pada dinding-dinding gua itu mengandung nilai-nilai estetika dan magis yang bertalian dengan totem (kepercayaan terhadap benda atau binatang yang dianggap suci dan dipuji) dan upacara-upacara yang belum diketahui dengan jelas. Cap-cap tangan dengan dasar warna merah, mengandung arti kekuatan atau simbol kekuatan pelindung untuk mencegah roh-roh jahat. Adapun cap tangan dengan jari yang tidak lengkap dianggap sebagai tanda adat berkabung. Para ahli ada yang menganggap bahwa lukisan-lukisan itu juga mengandung maksud sebagai upacara penghormatan nenek moyang, upacara kesuburan, upacara meminta hujan, dan sebagainya.
     Peralatan hidup masa berburu dan meramu tingkat lanjut yang sampai pada kita, antara lain kapak genggam sumatralith, alat dari tulang, alat serpih, dan mata panah.
                              1)    Kapak Genggam Sumatralith
                   Kapak genggam sumatralith sering disebut sumatralith saja. Cara pem­buatan kapak genggam sumateralith lebih halus daripada kapak perimbas. Ka­pak genggam sumateralit sesui namanya cara menggunakannya dengan digenggam karena tidak bertangkai. Pada kapak genggam sumateralith bagian yang tajam ada pada kedua sisinya. Kapak genggam sumateralith banyak ditemukan di wilayah Lhokseumawe (Aceh) dan Binjai (Sumatra Utara).
                              2)    Alat Serpih
           Alat serpih diduga merupakan batu pecahan sisa pembuatan kapak geng­gam yang dibentuk menjadi tajam. Alat serpih umumnya digunakan sebagai se­rut, gurdi, penusuk, dan pisau.
           Alat serpih banyak ditemukan di Sangiran, Ngandong, Gombong (Jawa Tengah), Punung (Jawa Timur), Lahat (Sumatera), Cabbenge (Sulawesi Selatan), dan Mengeruda (Flores).
                              3)    Alat-Alat dari Tulang
           Alat-alat dari tulang dibuat dari tulang binatang buruan. Peralatan yang dapat dibuat dari tulang, antara lain pisau, belati, mata tombak, dan mata panah. Peralatan dari tulang banyak ditemukan di daerah Ngandong, Blora, Jawa Tengah.
                              4)    Mata Panah
           Mata panah merupakan salah satu peralatan berburu yang sangat pen­ting. Fungsi lain dari mata panah adalah sebagai alat untuk menangkap ikan. Untuk menangkap ikan maka mata panah dibuat bergerigi. Mata panah yang pernah ditemukan selain terbuat dari batu juga dibuat dari tulang. Wilayah penemuan mata panah, antara lain di Gua Lawa, Gua Gede, Gua Petpuruh (Jawa Timur), Gua Cakondo, Gua Tomatoa Kacicang, Gua Saripa (Sulawesi Selatan).
                    3.    Masa Bermukim dan Berladang
                    Pada masa Bermukim dan Berladang, manusia pra-Aksara mulai mengenal bercocok tanam. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya fosil butiran padi di Gua Ulu (Gua Gong) di Sulawesi. Ciri kehidupan pada masa ini, antara lain sebagai berikut.
a.    Cara hidup meramu dan berburu berubah menjadi bercocok tanam di sawah.
b.    Cara hidupnya sudah menetap (sedenter).
c.    Peralatan hidup dari batu sudah mulai dihaluskan.
d.    Mulai berkembang adanya kepercayaan.
                    Peninggalan peralatan dari masa Bermukim dan Berladang yang sampai pada kita, antara lain sebagai berikut   
                              a.     Kapak Persegi atau Beliung Persegi
              Kapak persegi terbuat dari batu persegi yang digunakan untuk mengolah kayu, mengolah tanah, dan sebagai alat upacara. Kapak persegi banyak di­temukan di Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara.
                              b.     Kapak Lonjong
           Disebut kapak lonjong karena penampangnya berbentuk lonjong. Kapak lonjong ada yang berukuran besar dan ada pula yang berukuran kecil. Kapak lonjong biasanya digunakan sebagai cangkul dan kapak biasa. Kapak lonjong banyak ditemukan di Maluku, Papua, dan Sulawesi Utara.
                              c.     Mata Panah
           Mata panah umumnya digunakan untuk berburu dan masih digunakan sampai sekarang oleh masyarakat di Papua.
                              d.     Gerabah
           Gerabah adalah barang pecah belah yang terbuat dari tanah liat yang di­bakar. Fungsi gerabah umumnya sebagai alat memasak dan peralatan untuk upacara.
                    4.    Masa Bercocok Tanam dan Perudagian
                    Masa Perundagian merupakan perkembangan dari masa Bercocok Tanam. Sebenarnya, di beberapa bagian dunia dikenal zaman Tembaga, tetapi manusia praaksara di Indonesia tidak mengalami zaman ini. Pada masa ini muncul kelompok undagi, yaitu sekelompok orang yang memiliki keahlian menciptakan suatu barang. Munculnya undagi atau tukang inilah yang membuat masa ini dikenal dengan masa perundagian.
                     Pada kehidupan masyarakatnya telah terdapat pemimpin yang dipilih di antara mereka. Umumnya pemimpin tersebut terpilih karena mempunyai kemampuan yang lebih terutama dalam hal kekuatan dan kepandaian dibandingkan dengan yang lain. Jadi, kehidupan mereka telah mengarah pada bentuk de­mokratis.
                    Masa perundagian memiliki cara sebagai berikut:
a.    bertempat tinggal menetap, bercocok tanam, dan beternak;
b.    mereka yang tinggal di tepi laut/pantai melakukan pelayaran dan perdagangan;
c.    telah membentuk perkampungan dan desa.
                    Benda-benda peninggalan pada masa ini adalah semua barang yang terbuat dari logam, seperti nekara, moko, kapak perunggu, bejana perunggu, perhiasan perunggu, dan patung perungu.      
                    Teknik pembuatan alat yang terbuat dari logam ada dua cara, yaitu sebagai berikut.
                             a. Teknik Bivalve
                       Dalam teknik yang pertama, yaitu dengan cara meng-gunakan cetakan-cetakan batu yang dapat dipergunakan berulang kali. Cetakan terdiri atas dua bagian yang diikat. Ke dalam rongga dalam cetakan dituangkan bijih besi yang sudah cair. Kemudian cetakan itu dibuka setelah logamnya mengering.
                             b. Teknik a Cire Perdue
                       Proses pencetakan cara ini yaitu dengan mem-buat model benda dari lilin. Model benda dari lilin ini kemudian ditutup dengan tanah liat sampai tidak terlihat bentuknya. Setelah tertutup seluruhnya dengan menyisakan lubang kecil di ujung-nya, tanah liat itu dibakar. Lilin akan mencair dan keluar dari lubang yang telah dibuat. Karena lilin mencair, tanah liat itu berongga. Bentuk rongga itu akan sama persis dengan bentuk lilin yang telah cair. Tanah liat yang berongga kemudian diisi dengan cairan logam melalui lubang kecil. Setelah cairan logam dingin, cetakan tanah liat dipecah. Keluarlah bentuk benda mirip dengan model benda yang terbuat dari lilin tadi.
          Pada tahap kehidupan Bercocok Tanam di Persawahan, manusia sudah mengenal sistem kepercayaan yang disebut animisme, dinamisme, dan totemisme.
                      a.     Animisme
              Animisme adalah suatu sistem kepercayaan yang menyatakan bahwa roh (jiwa) itu tidak hanya berada pada makhluk hidup saja, namun roh ada juga pada benda-benda tertentu. Roh-roh itu karena ada yang baik dan ada pula yang jahat agar hidup selaras dan tidak saling mengganggu perlu diberi sesajen.
                      b.     Dinamisme
              Dinamisme adalah suatu kepercayaan bahwa segala sesuatu mempunyai tenaga atau kekuatan yang dapat memengaruhi keberhasilan atau kegagalan usaha manusia dalam mempertahan­kan hidup.
                      c.     Totemisme
      Totemisme adalah kepercayaan adanya binatang-binatang jenis tertentu yang dianggap suci dan terpuji karena memiliki kekuatan gaib. binatang-binatang yang dimaksud diantaranya adalah lemnu (sapi), ular, dan buaya.
       Sebagai sarana untuk menghormati berbagai macam roh dan kekuatan gaib  lainnya maka manusia membuat bangunan untuk memujanya. Oleh karena itu, berkembang pembuatan bangunan dari batu besar (megalithikum) sehingga muncul ke­budayaan Megalithikum seperti yang dipaparkan sebelumnya. Bangunan itu biasanya dibuat dari batu inti utuh yang kemudian dibentuk dan dipahat.
Bagikan:Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Comment

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

artikel lainnya KEHIDUPAN MANUSIA PURBA

Friday 3 November 2017 | Post

Artis Strength and Fitness – Cross-Training Awesome group of kids for our Halloween workout! Thanks to…

Wednesday 2 August 2017 | Post

Bret Contreras is known as “The Glute Guy” and is one of my favorites to follow.…

Monday 25 September 2017 | Post

Absolute Shopping Festival Exhibition Blok M Plaza,  18 Sept – 15 Okt 2017 The Darmawangsa Square;…

Friday 14 July 2017 | Post

Jakarta Nightlife – Jakarta dikenal sebagai kota yang berkembang & hotel yang berkelas di entertainment kehidupan…