Menu

INTERAKSI SOSIAL

Mar
25
2015
loading...
by : PakdheBudi Kayamara. Posted in : Post

Standar Kompetensi 2. Memahami kehidupan sosial manusia. Kompetensi Dasar 2.1 Mendeskripsikan interaksi sebagai proses sosial. 2.2 Mendeskripsikan sosialisasi sebagai proses pembentukan kepribadian. 2.3 Mengidentifikasi bentuk-bentuk interaksi sosial. 2.4 Menguraikan proses interaksi sosial. Manusia tidak

bisa hidup sendirian, itulah mengapa disebut sebagai makhluk sosial. Manusia akan selalu membutuhkan manusia lain dalam memeuhi kebutuhan hidupnya. Setiap hari manusia selalu bertemu dengan manusia lain, dalam pertemuan tersebut terjadi komunikasi. Bertemunya antara manusia satu dengan manusia yang lain ini dikenal dengan interaksi. Inteaksi sosial merupakan hubungan antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok. Interaksi sosial akan menyebabkan hubungan timbal balik yang bersifat positif atau negatif. (siswa sedang belajar kelompok)

A. Pengertian Interaksi Sosial
             Interaksi sosial adalah hubungan-hubungan antara orang perorangan, antara kelompok manusia, maupun antara orang perorangan dan kelompok manusia. Apabila dua orang bertemu, interaksi sosial dimulai saat itu. Mereka saling menegur, berjabat tangan, dan saling berbicara. Aktivitas semacam itu merupakan bentuk interaksi sosial. Dalam interaksi sosial, hubungan yang terjadi harus secara timbal balik dilakukan oleh kedua belah pihak. Artinya kedua belah pihak harus saling merespon. Jika ditanya dia menjawab, jika diminta bantuan dia membantu, jika diajak bermain dia ikut main. Jika itu dilakukan, sebenarnya telah terjadi interaksi sosial.
             Berikut ini beberapa pengertian interaksi sosial menurut para ahli.
1.    Kimball Young, interaksi sosial adalah kunci dari semua kehidupan sosial. Tanpa interaksi sosial tidak akan mungkin ada kehidupan bersama. Oleh karena itu, interaksi sosial menjadi syarat utama terjadinya aktivitas sosial.
2.    Soerjono Soekanto, interaksi sosial adalah bentuk yang tampak ketika orang perorangan atau kelompok-kelompok manusia mengadakan hubungan satu dengan yang lain terutama mengetengahkan kelompok sosial serta lapisan-lapisan sosial sebagai unsur-unsur pokok dari struktur sosial.
             Interaksi sosial adalah hubungan-hubungan sosial yang dinamis, yang menyangkut hubungan antara individu dan individu, individu dan kelompok, serta kelompok dan kelompok dalam bentuk kerja sama, serta persaingan atau pertikaian.
              Wujud konkret dari interaksi sosial adalah bentuk tindakan-tindakan sosial yang diambil atau individu-individu ketika saling berhubungan, sedangkan yang dimaksud dengan tindakan sosial adalah perbuatan yang dipengaruhi oleh orang lain untuk mencapai maksud dan tujuan tertentu.
             Menurut Max Weber, tindakan sosial dibagi menjadi empat hal berikut ini.
1.    Rasionalitas instrumental yaitu suatu tindakan yang memperhitungkan kesesuaian antara cara yang digunakan dan tujuan yang akan dicapai. Tindakan ini bersifat masuka akal (rasional). Artinya, tindakan yang akan dilakukan didasari oleh adanya tujuan yang telah diperimbangkan dengan matang. Lalu, tujuan itu dicapai dengan cara yang juga telah diperhitungkan. Rasional instrumental merupakan tindakan individu yang mempunyai berbagai tujuan dan atas dasar kriteria tertentu. Individu memilih satu tujuan dengan tingkat rasionalitas tinggi, meliputi pertimbangan dan pilihan yang sadar dan berhubungan dengan tindakan itu dan alat yang digunakan untuk mencapainya.
2.    Rasionalitas yang berorientasi nilai yaitu tindakan yang dilakukan dengan memperhitungkan manfaatnya, tetapi tujuan yang dicapai tidak terlalu dipertimbangkan. Titik pada rasionalitas yang berorientasi nilai adalah bahwa alat-alat hanya merupakan objek pertimbangan dan perhitungan yang sadar, sedangkan tujuan-tujuannya sudah ada dalam hubungannya dengan nilai-nilai individu yang bersifat absolut.
3.    Tindakan tradisional merupakan tindakan yang dilakukan tanpa perhitungan yang matang, tetapi hanya karena adanya kebiasaan yang telah berlaku dalam masyarakat. Tindakan tradisional umumnya bersifat nonrasional. Perilaku individu merupakan kebiasaan, tanpa refleksi yang sadar atau perencanaan perilaku tersebut dapat digolongkan sebagai tindakan tradisional. Tipe tindakan ini lama-lama akan hilang karena meningkatnya rasionalitas instrumental.
4.    Tindakan afektif merupakan tindakan irrasional. Tindakan afektif ditandai oleh dominasi perasaan atau emosi tanpa refleksin intelektual atau perencanaan yang sadar. Tindakan ini benar-benar tidak rasional karena kurangnya pertimbangan logis, ideologis, atau kriteria rasionalitas lainnya.
       Dalam hidup bersama dan berkelompok dengan manusia lainnya, setiap orang akan selalu melakukan interaksi dengan manusia lainnya. Hal itu merupakan sebauh proses sosial yang terjadi seiring adanya hubungan antarmanusia. Interaksi merupakan hal yang pasti ada dalam setiap kehidupan bersama, sehingga interaksi sosial akan berpengaruh terahadap keselarasan sosial. Interaksi merupakan kunci dari segala  kehidupan sosial.
       1.    Interaksi Sosial sebagai Proses Sosial
             Inti kehidupan sosial adalah interaksi sosial. Tanpa interaksi sosial, tidak mungkin ada kehidupan sosial (masyarakat). Karena ada interaksi sosial, terbentuklah kehidupan bersama. Dari adanya kehidupan bersama itulah timbul proses sosial. Proses sosial adalah hubungan timbal-balik antara bidang-bidang kehidupan dalam masyarakat melalui interaksi antarindividu masyarakat. Proses sosial merupakan cara-cara berhubungan dalam kehidupan masyarakat yang dapat dilihat apabila individu atau kelompok manusia saling bertemu dan menentukan sistem serta bentuk-bentuk hubungan tersebut.
             Interaksi sosial dan proses sosial adalah dua hal yang tidak dapat saling dipisahkan. Interaksi sosial merupakan dasar terjadinya proses sosial. Proses sosial adalah pengaruh timbal balik antara berbagai segi kehidupan bersama. Proses sosial merupakan cara-cara berhubungan para individu maupun kelompok yang saling bertemu, kemudian terjadi perubahan-perubahan yang mampu menggoyahkan cara-cara hidup yang telah ada. Pergaulan dan hubungan yang terjadi di antara mereka memerlukan waktu untuk menyelesaikan sebuah proses.
             Proses sosial yang terjadi, berupa kerja sama, bahkan persaingan maupun pertikaian, karena adanya interaksi sosial. Adanya pertemuan sekelompok orang, adanya pergaulan hidup, saling berbicara, saling berpandangan, berjabat tangan, kemudian saling kerja sama dimaksudkan untuk mencapai tujuan bersama.
       2.    Pengaruh Interaksi Terhadap Keselarasan Sosial
             Manusia sebagai makhluk yang berbudaya selalu mewujudkan tata kehidupan yang lebih baik, bila ini dapat dipahami secara bersama-sama akan menimbulkan kesadaran sosial yaitu semua orang harus menyadari bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri dan mandiri tanpa bantuan orang lain. Dengan adanya kesadaran sosial solidaritas sosial dapat menjaga keselarasan hubungan antarwarga masyarakat. Hubungan sosial merupakan interaksi yang ada dalam masyarakat. Interaksi ini meliputi hubungan individu dengan individu, individu dengan kelompok individu, serta antar kelompok dengan individu.
             Adapun keselarasan sosial merupakan suatu keadaan di mana orang-orang sebagai warga masyarakat telah mampu berperilaku sebagaimana hak dan kewajibannya sesuai dengan norma sosial  yang berlaku dalam masyarakat. Keselarasan sosial yaitu kehidupan (berkeluarga, bermasyarakat) yang selaras serasi penuh persatuan tanpa adanya suatu pertentangan.
       a.    Syarat Terwujudnya Keselarasan
1)   Anggota  masyarakat sudah dapat menjalankan fungsi, peranan, dan kewajiban dengan baik dan menerima hak-haknya dengan wajar.
2)   Anggota masyarakat mematuhi nilai norma, atau tata kelakuan yang berlaku.
3)   Dalam kehidupan sosial (keluarga dan masyarakat) terdapat tata kelakuan yang bernilai, berpola, dan norma yang tidak membeda-bedakan.
       b.    Menentukan Sikap dalam Hubungan Sosial
                    Sebagai warga masyarakat, kita harus mampu melakukan penyesuaian dalam hubungan sosial dengan warga masyarakat yang lain. Kita harus bisa menempatkan diri pada status dan peran yang sebagaimana mestinya.
       c.    Langkah-Langkah yang Perlu Dilakukan untuk Tetap Menjaga Keselarasan
                      1)   Mampu menjalin hubungan baik terhadap struktur masyarakat yang berbeda-beda.
                      2)   Mampu mengintegrasi komponen-komponen masyarakat yang berbeda-beda menjadi satu kesatuan yang utuh sebagai satu bangsa yaitu bangsa Indonesia.
                      3)   Menyadari kemajemukan dan Mampu menghargai terhadap  sifat-sifat kemajemukan itu sendiri. Apabila masing-masing unsur masyarakat Indonesia yang majemuk mampu me­nyadari dan menghargai perbedaan-perbedaan, akan tercipta hubungan saling pengertian. Dengan adanya sikap saling pengertian akan menjamin kelangsungan hidup hubungan antarmanusia dalam mewujudkan hubungan yang selaras antarkomponen manusia.
       d.    Upaya-upaya Mewujudkan Keselarasan Sosial
                    Keselarasan hubungan antarkomponen masyarakat akan terwujud apabila tercipta kondisi sebagai berikut.
                      1)   Adanya sistem tata nilai dan norma yang sesuai. Tata nilai dan norma berfungsi sebagai pedoman perilaku warga masyarakat.
                      2)   Adanya kesadaran dari saling pengertian di antara warga masyarakat tentang perlunya keselarasan hubungan itu sendiri.
       e.    Ciri-ciri Keselarasan Sosial
                    Untuk mewujudkan keselarasan harus ada partisipasi aktif dari seluruh anggota masyarakat, maka keselarasan sosial tidak terwujud. Ciri-ciri keselarasan sosial adalah sebagai berikut.
1)    Terdapat satu sistem nilai atau norma yang jelas
2)    Individu atau kelompok  dalam masyarakat mengetahui dan memahami norma dan nilai sosial yang berlaku.
3)    Individu atau kelompok masyarakat  mampu menyesuaikan  tindakan-tindakannya dengan  norma dan nilai sosial  yang berlaku.
       Keselarasan sosial  harus disosialisasikan dalam institusi-institusi yang berlaku di masyarakat, misalnya keluarga dan lingkungan  sekolah. Sosialisasi harus dapat menciptakan kesadaran dan tanggung jawab pada setiap anggota masyarakat untuk menciptakan keteraturan dan ketertiban.
       f.     Proses Terbentuknya Keselarasan
                          Proses terbentuknya keselarasan sosial melalui beberapa tahapan, yaitu sebagai berikut.
1)    Perilaku, yaitu sikap dan pola tindakan yang dianut seseorang.
2)    Pola, yaitu corak hubungan yang tetap dalam interaksi sosial yang dapat dijadikan model oleh anggota masyarakat yang lain.
3)    Order, yaitu sistem norma  dan nilai sosial yang berkembang, diakui dan dipatuhi  oleh seluruh anggota masyarakat.
4)    Keajegan, yaitu suatu kondisi keteraturan yang tetap dan tidak berubah.
              5)   Tertib sosial, yaitu kondisi kehidupan masyarakat yang aman, dinamis, dan teratur, sebagai hasil hubungan yang selaras antara tindakan, nilai, dan norma dalam interaksi sosial.
             Dari uraian di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa proses keselarasan sosial bermula dari adanya perilaku warga masyarakat yang menghasilkan pola perilaku tertentu yang diikuti oleh hampir sebagian anggota masyarakat, kemudian menjadi order yang berupa adat istiadat yang ajeg dalam masyarakat. Keajegan ini menimbulkan tertib sosial lalu terciptalah keselarasan sosial dalam kehidupan masyarakat.
             Dalam interaksi sosial setiap anggota masyarakat, keselarasan sosial sangat penting untuk diwujudkan. Setiap norma yang dipatuhi mempunyai peranan yang penting dalam mewujudkan keselarasan sosial. Jadi interaksi sosial mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam mewujudkan keselarasan sosial karena keselarasan sosial timbul dari hasil hubungan yang selaras dan serasi antara interaksi sosial, nilai sosial, dan norma sosial.
             Selain itu, interaksi sosial dapat menyebabkan keteraturan sosial berdasarkan hal-hal berikut.
a.    Kebutuhan nyata, baik kebutuhan lahir maupun batin.
b.    Efisiensi, yaitu sebagai alat mempererat dan mengatur pergaulan manusia.
c.    Keefektifan, yaitu untuk mencapai kebutuhan hidup berdasarkan nilai-nilai sosial.
d.    Penyesuaian diri pada kebenaran, yaitu mendekatkan diri pada kebenaran nilai-nilai di dalam masyarakat.
e.    Penyesuaian diri pada kaidah-kaidah yang berlaku, yaitu manusia dapat mengenal norma-norma sosial yang dijadikan pedoman tingkah laku.
f.     Sikap tidak memaksa kehendak terhadap orang lain secara mental dan fisik.

artikel lainnya INTERAKSI SOSIAL

Sunday 1 October 2017 | Post

Jakarta tidak serta merta menjadi kota megapolitan penuh polutan. Sang ibukota punya cerita di balik bilik-bilik…

Tuesday 30 May 2017 | Post

I have to learn to speak English more fluently. Otherwise….Geez…don’t you realize how cruel the world…

Wednesday 26 July 2017 | Post

The word Bahrain means ‘two seas’ in Arabic, indicating how the country’s geographic position as a…

Saturday 22 July 2017 | Post

“Pekerjaannya apa mas?” “PNS pak” “Wah hebat ya, dulu masuk bayar berapa?” “Bayar? Ndak bayar kok…