Menu

HASIL PENINGGALAN KEBUDAYAAN INDONESIA

Mar
25
2015
loading...
by : PakdheBudi Kayamara. Posted in : Post

Peninggalan Hasil Kebudayaan Peninggalan benda hasil kebudayaan dbagi berdasarkan periodesasi arkeologi yang telah dipaparkan sebelumnya. Pembagian tersebut menjadi dua zaman, yaitu zaman batu dan zaman logam.

                                 1.    Zaman Batu
             Disebut zaman Batu karena hasil-hasil kebudayaan pada masa itu sebagian besar terbuat dari batu, mulai dari yang sedernaha dan kasar sampai pada yang baik dan halus. Perbedaan itu merupakan gambaran usia peralatan tersebut. Semakin sederhana dan kasar, maka peralatan itu dikatakan berasal dari zaman yang lebih tua, dan sebaliknya. Zaman batu sendiri dibedakan menjadi 4 (empat), yaitu zaman batu tua (Paleolitikum), zaman batu tengah (Mesolitikum), zaman batu muda (Neolitikum), dan zaman Batu Besar (Megalitikum).
                                 a.    Zaman Batu Tua (Paleolitikum)
                          Beberapa hasil kebudayaan dari zaman Paleolitikum, di antaranya adalah kapak genggam, kapak perimbas, monofacial, alat-alat serpih, chopper, dan beberapa jenis kapak yang telah dikerjakan kedua sisinya. Alat-alat ini tidak dapat digolongkan ke dalam kebudayaan batu teras maupun golongan flake. Alat-alat ini dikerjakan secara sederhana dan masih sangat kasar. Bahkan, tidak jarang yang hanya berupa pecahan batu. Beberapa contoh hasil kebudayaan dari zaman Paleolitikum dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Choppermerupakan salah satu jenis kapak genggam yang berfungsi sebagai alat penetak. Oleh karena itu, chopper sering disebut sebagai kapak penetak. Mungkin kalian masih sulit membayangkan bagaimana cara menggunakan chopper. Misalnya, kalian akan memotong kayu yang basah atau tali yang besar, sementara kalian tidak memiliki alat pemotong, maka kalian dapat mengambil pecahan batu yang tajam. Kayu atau tali yang akan dipotong diletakan pada benda yang keras dan bagian yang akan dipotong dipukul dengan batu, maka kayu atau tali akan putus. Itulah, cara menggunakan kapak penetak atau chopper. Contoh hasil kebudayaan dari zaman Paleolitikum adalah flake atau alat-alat serpih. Hasil kebudayaan ini banyak ditemukan di wilayah Indonesia, terutama di Sangiran (Jawa Tengah) dan Cabbenge (Sulawesi Selatan). Flake memiliki fungsi yang besar, terutama untuk mengelupas kulit umbi-umbian dan kulit hewan. Perhatikan salah satu contoh flake yang ditemukan di Sangiran dan Cabbenge.
                                 b.    Zaman Batu Tengah (Mesolitikum)
                    Pada Zaman Mesolitikum terdapat tiga macam kebudayaan yang berbeda satu sama lain, yaitu kebuadayaan: Bacson-Hoabin, Toale, dan Sampung. Ketiga kebudayaan itu diperkirakan datang di Indonesia hampir bersamaan waktunya. Kebudayaan Bascon-Hoabin ditemukan dalam gua-gua dan bukit-bukit kerang di Indo Cina, Siam, Malaka, dan Sumatra Timur. Daerah-daerah itu merupakan wilayah yang saling berkaitan satu sama lainnya. Kebudayaan ini umumnya berupa alat dari batu kali yang bulat. Sering disebut sebagai ‘batu teras’ karena hanya dikerjakan satu sisi, sedangkan sisi yang lain dibiarkan tetap licin. Sumatralith adalah salah jenis peralatan manusia pra aksara Indonesia yang berfungsi sebagai alat penetak, pemecah, pemotong, pelempar, penggali, dan lain-lain. Alat ini ditemukan di Sumatra dalam jumlah yang sangat banyak. Penemuan ini merupakan fenomena yang menarik karena berkaitan dengan kehidupan masyarakat pada waktu itu. Sekurang-kurangnya, penemuan itu merupakan bukti bahwa kehidupan masyarakat sudah semakin maju dengan kebutuhan yang semakin tinggi. Hasil kebudayaan Toale dan yang serumpun umumnya, berupa kebudayaan ‘flake’ dan ‘blade’. Kebudayaan ini mendapat pengaruh kuat dari unsur ‘microlith’ sehingga menghasilkan alat-alat yang berukuran kecil dan terbuat dari batu yang mirip dengan ‘batu api’ di Eropa.
                    Di samping itu, ditemukan alat-alat yang terbuat dari tulang dan kerang. Alat-alat ini sebagian besar merupakan alat berburu atau yang dipergunakan para nelayan. Kebudayaan-kebudayaan yang mirip dengan kebudayaan Toale ditemukan di Jawa (dataran tinggi Bandung, Tuban, dan Besuki); di Sumatra (di sekeliling Danau Kerinci dan gua-gua di Jambi); di Flores, di Timor, dan di Sulawesi.
                    Salah satu hasil kebuadayaan Toale dari Sulawesi Selatan yang memiliki ukuran lebih kecil, tetapi tampak lebih tajam dibandingkan dengan kapak genggam, kapak perimbas, atau jenis kapak lainnya.
                    Di samping alat-alat yang terbuat dari batu, juga ditemukan alat-alat yang terbuat dari tulang dan tanduk. Kedua jenis alat ini termasuk dalam hasil kebudayaan Toale. Sementara, kebudayaan Sampung merupakan kebudayaan tulang dan tanduk yang ditemukan di desa Sampung, Ponorogo. Barang yang ditemukan berupa jarum, pisau, dan sudip. Pada lapisan yang lain telah ditemukan ‘mata panah’ yang terbuat dari kapur membatu. Tentang persebaran kebudayaan Toale tidak diketahui secara pasti. Namun, beberapa penelitian telah membuktikan bahwa kebudayaan ini telah berkembang di Sulawesi dan Flores. Kira-kira 1000 tahun SM, telah datang bangsa-bangsa baru yang memiliki kebudayaan lebih maju dan tinggi derajatnya. Sedangkan peralatan yang mereka pergunakan masih terbuat dari batu, tulang, dan tanduk. Meskipun demikian, peralatan itu telah dikerjakan lebih halus dan lebih tajam.
                                 c.    Zaman Batu Muda (Neolitikum)
                    Pola umum kebudayaan dari masa Neolitikum adalah pahat persegi panjang. Alat-alat perkakas yang terindah dari kebudayaan ini ditemukan di Jawa Barat dan Sumatra Selatan karena terbuat dari batu permata. Di samping itu, ditemukan beberapa jenis kapak (persegi dan lonjong) dalam jumlah yang banyak dan mata panah. Berbagai jenis kapak yang ditemukan memiliki fungsi yang yang hampir.
                    Pada masa Neolitikum, perkembangan kapak lonjong dan beliung persegi sangat menonjol. Konon kedua jenis alat ini berasal dari daratan Asia Tenggara yang masuk ke Indonesia melalui jalan barat dan jalan timur. Persebaran kapak lonjong dan beliung persegi dapat dilihat dalam peta di bawah ini. Berdasarkan hasil penelitian, peralatan manusia purba banyak ditemukan di berbagai wilayah, seperti daerah Jampang Kulon (Sukabumi), Gombong (Jawa Tengah), Perigi dan Tambang Sawah (Bengkulu), Lahat dan Kalianda (Sumatra Selatan), Sembiran dan Trunyan (Bali), Wangka dan Maumere (Flores), daerah Timor Timur, Awang Bangkal (Kalimantan Timur), dan Cabbenge (Sulawesi Selatan). Beberapa peralatan yang penting dan banyak ditemukan, di antaranya adalah kapak perimbas, kapak penetak, kapak genggam, pahat genggam, alat serpih, alat-alat dari tulang, serta blade, flakes dan mikrolith.
                                     1)    Kapak perimbas
              Kapak perimbas tidak memiliki tangkai dan digunakan dengan cara menggenggam. Kapak ini ditemukan hampir di daerah yang disebutkan di atas dan diperkirakan berasal dari lapisan yang sama dengan kehidupan Pithecanthropus. Kapak jenis juga ditemukan di beberapa negara Asia, seperti Myanmar, Vietnam, Thailand, Malaysia, Filipina sehingga sering dikelompokkan dalam kebudayaan Bacson-Hoabinh.
                                     2)    Kapak penetak
              Kapak penetak memiliki bentuk yang hampir sama dengan kapak perimbas, tetapi lebih besar dan kasar. Kapak ini digunakan untuk membelah kayu, pohon, dan bambu. Kapak ini ditemukan hampir di seluruh wilayah Indonesia.
                                     3)    Kapak genggam
              Kapak genggam memiliki bentuk yang hampir sama dengan kapak perimbas, tetapi lebih kecil dan belum diasah. Kapak ini juga ditemukan hampir di seluruh wilayah Indonesia. Cara menggunakan kapak ini adalah menggenggam bagian yang kecil. Pahat genggam. Pahat genggam memiliki bentuk lebih kecil dari kapak genggam. Menurut para ahli, pahat ini dipergunakan untuk menggemburkan tanah. Alat ini digunakan untuk mencari ubi-ubian yang dapat dimakan.
                                     4)    Alat serpih
              Alat ini memiliki bentuk yang sederhana dan berdasarkan bentuknya alat diduga sebagai pisau, gurdi, dan alat penusuk. Alat ini banyak ditemukan di gua-gua dalam keadaan yang utuh. Di samping itu, alat ini juga ditemukan Sangiran (Jawa Tengah), Cabbenge (Sulawesi Selatan), Maumere (Flores), dan Timor.
                                     5)    Alat-alat dari tulang
              Tampaknya, tulang-tulang binatang hasil buruan telah dimanfaatkan untuk membuat alat seperti pisau, belati, mata tombak, mata panah, dan lain-lainnya. Alat-alat ini banyak ditemukan di Ngandong dan Sampung (Ponorogo). Oleh karena itu, pembuatan alat-alat ini sering disebut kebudayaan Sampung.
                                     6)    Blade, flake, dan microlith
              Alat-alat ini banyak ditemukan di Jawa (dataran tinggi Bandung, Tuban, dan Besuki); di Sumatera (di sekeliling danau Kerinci dan gua-gua di Jambi); di Flores, di Timor, dan di Sulawesi. Semua alat-alat itu sering disebut sebagai kebudayaan Toale atau kebudayaan serumpun.
                                 d.    Zaman Batu Besar (Megalitikum)
                    Sebenarnya, zaman megalitikum bukan kelanjutan dari zaman Batu sebelumnya. Megalitikum muncul bersamaan dengan zaman Mesolotikum dan Neolitikum. Pada zaman batu pada umumnya, muncul kebudayaan batu besar (Megalitikum) seperti menhir, batu berundak, dolmen, dan sebagainya.
                                 2.    Zaman Logam
            Pada zaman Logam, semua peralatan yang digunakan terbuat dari logam. Zaman Logam menurut perkembanganya dibedakan menjadi tiga yaitu sebagai berikut.
a.    Zaman Perunggu
                    Disebut zaman Perunggu karena hasil kebudayaannya terbuat dari perunggu antara lain adalah:
1)    nekara, adalah genderang besar yang terbuat dari perunggu, digunakan sebagai alat upacara untuk mengundang hujan,
2)    moko, adalah genderang kecil yang dibuat dari perunggu digunakan sebagai alat upacara keagamaan atau sebagai mas kawin,
3)    kapak corong, disebut juga kapak sepatu dan terdiri atas berbagai ukuran,
4)    arca perunggu, adalah arca yang terbuat dari perunggu dan bentuknya seperti orang atau binatang,
5)    bejana perunggu, bentuk bejana perunggu mirip gitar Spanyol tetapi tanpa tangkai,
6)    perhiasan, berupa gelang tangan, gelang kaki, cincin, dan kalung.
                                              b.    Zaman Tembaga
                    Indonesia tidak mengalami zaman Tembaga, setelah zaman Perunggu, Indonesia langsung memasuki zaman Besi.
                                              c.    Zaman Besi
                    Zaman ini banyak menghasilkan benda yang berupa peralatan hidup dan senjata, antara lain tombak, mata panah, cangkul, sabit, dan mata bajak.
                    Di samping kebudayaan material, masyarakat pra aksara telah memiliki atau menghasilkan kebudayaan rohani. Kebudayaan rohani mulai muncul dalam kehidupan manusia, ketika mereka mulai mengenal sistem kepercayaan. Sistem kepercayaan telah muncul sejak masa kehidupan berburu dan mengumpulkan makanan. Kuburan merupakan salah satu bukti bahwa masyarakat telah memiliki anggapan tertentu dan memberikan penghormatan kepada orang telah meninggal. Masyarakat percaya bahwa orang yang meninggal, rohnya akan tetap hidup dan pergi ke suatu tempat yang tinggi. Bahkan, jika orang itu berilmu atau berpengaruh dapat memberikan perlindungan atau nasihat kepada mereka yang mengalami kesulitan. Sistem kepercayaan masyarakat terus berkembang. Penghormatan kepada roh nenek moyang dapat dilihat pada peninggalan-peninggalan berupa tugu batu seperti pada zaman Megalitikum. Peninggalan pada masa Megalitikum lebih banyak ditemukan pada tempat-tempat yang tinggi. Hal itu sesuai dengan kepercayaan bahwa roh nenek moyang bertempat tinggal pada tempat yang lebih tinggi.

artikel lainnya HASIL PENINGGALAN KEBUDAYAAN INDONESIA

Friday 8 September 2017 | Post

Cara Membuat Website Sendiri Untuk Pemula – Saya telah beruntung untuk menjadi sangat sukses dalam bekerja dalam…

Monday 7 August 2017 | Post

Gw termasuk orang yang percaya bahwa manusia itu terlahir dengan celengan keberuntungan masing masing. Yang beda…

Sunday 3 September 2017 | Post

“The best camera is the one you have with you” – this old adage cannot be…

Friday 5 May 2017 | Post

Batik cap ondel-ondel Rp.200.000 Bahan Katun 200×115 cm Request motif dan warna tersedia