Menu

BENTUK INTERAKSI SOSIAL

Mar
25
2015
loading...
by : PakdheBudi Kayamara. Posted in : Post

Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial Secara garis besar dilihat dari prosesnya ada dua bentuk interaksi sosial yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, yaitu interaksi yang terwujud dalam proses asosiatif dan proses disosiatif.


1.    Proses-Proses Asosiatif
             Proses ini terjadi apabila seseorang atau sekelompok orang melakukan suatu interaksi sosial yang memiliki kesamaan pandangan dan tindakan sehingga mengarah kepada kesatuan pandangan. Proses ini terdiri atas tiga bentuk, yaitu sebagai berikut.
a.    Kerja Sama
             Kerja sama di sini dimaksudkan sebagai suatu usaha bersama antara seseorang atau kelompok dalam mencapai satu tujuan yang sama. Bentuk kerja sama ini dalam masyarakat Indonesia dikenal dengan istilah gotong royong. Gotong royong pada dasarnya mencerminkan suatu interaksi sosial masyarakat Indonesia dalam wujud kerja sama. Saat ini negara-negara di dunia saling bekerja sama untuk mencegah bencana yang diakibatkan oleh pemanasan global (global  warming).
b.    Akomodasi
             Akomodasi merupakan suatu cara untuk menyelesaikan pertentangan tanpa menghancurkan pihak lawan sehingga lawan tidak kehilangan kepribadiannya. Dalam pelaksanaannya, akomodasi memiliki beberapa bentuk. Bentuk-bentuk akomodasi ada sembilan, yaitu sebagai berikut.
1)    Koersi (coercion) adalah suatu bentuk akomodasi yang prosesnya dilakukan dengan paksaan.
2)    Kompromi (compromise) adalah suatu bentuk akomodasi dengan saling mengurangi tuntutannya agar tercapai suatu penyelesaian.
3)    Arbitrasi (Arbitration) adalah bentuk akomodasi yang menghadirkan pihak ketiga dalam penyelesaian perselisihan.         
4)    Mediasi (Mediation) adalah bentuk akomodasi yang menghadirkan pihak ketiga yang bersifat netral untuk menyelesaikan perselisihan secara damai.           
5)    Konsiliasi (Conciliation) adalah suatu usaha mempertemukan keinginan dari orang yang berselisih supaya terjadi tujuan bersama.
6)    Stalemateadalah bentuk akomodasi yang terjadi pada pihak-pihak yang berselisih mempunyai kekuatan yang seimbang sehingga perselisihan itu berhenti pada titik tertentu.
7)    Toleransi (Toleration) adalah bentuk akomodasi yang terjadi dengan sendirinya tanpa persetujuan formal.
8)    Ajudikasi adalah suatu upaya penyelesaian konflik melalui proses pengadilan atau jalur hukum.
9)    Rasionalisasi adalah suatu proses dalam membenarkan tindakan-tindakan yang memberikan keterangan secara rasional yang mana hal tersebut dapat mencegah konflik.
c.    Asimilasi
             Asimilasi merupakan suatu proses yang ditandai dengan adanya usaha-usaha mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat antara orang perorangan atau kelompok-kelompok manusia. Dalam proses asimilasi, setiap orang mengidentifikasi dirinya dengan kepentingan-kepentingan serta tujuan kelompok. Faktor-faktor yang mendorong terjadinya asimilasi adalah sebagai berikut.
1)    Adanya toleransi antarumat manusia yang memiliki kebudayaan yang berbeda.
2)    Adanya keseimbangan kesempatan di bidang ekonomi dalam masyarakat.
3)    Sikap saling menghargai orang lain dan kebudayaannya.
4)    Sifat terbuka dari golongan yang berkuasa dalam masyarakat.
5)    Adanya persamaan unsur-unsur kebudayaan yang berlainan.
6)    Adanya perkawinan campuran.
7)    Adanya musuh bersama dari luar.
             Adapun faktor-faktor yang menghambat asimilasi adalah sebagai berikut.
1)    Adanya golongan masyarakat yang terisolir.
2)    Adanya sifat sombong pada seseorang atau kelompok orang.
3)    Adanya perbedaan fisik manusia.
4)    Adanya kegoncangan antara masyarakat minoritas dan mayoritas.
2.    Proses-Proses Disosiatif
             Proses-proses disosiatif sering disebut sebagai proses yang bersifat oposisi. Oposisi dapat diartikan sebagai cara berjuang melawan seseorang atau kelompok untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Ada beberapa macam bentuk proses disosiatif, sebagai berikut.
a.    Persaingan atau Kompetisi (Competition)
       Persaingan adalah suatu proses sosial individu atau kelompok yang bersaing untuk mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan tertentu. Di dalam persaingan ini ada dua jenis, yaitu persaingan yang bersifat pribadi dan persaingan kelompok. Dalam pelaksanaannya, persaingan ini memiliki beberapa bentuk, yaitu persaingan ekonomi, persaingan kebudayaan, persaingan kedudukan dan peranan, persaingan ras, persaingan kekuasaan, dan lain sebagainya.
b.    Kontravensi (Contravention)
             Kontravensi adalah suatu bentuk proses sosial yang berada di antara persaingan dan pertentangan. Kontravensi ini ditandai oleh gejala-gejala adanya ketidakpastian mengenai diri seseorang dan perasaan tidak suka yang disembunyikan, kebencian, atau keraguan terhadap kepribadian seseorang. Dengan kata lain, kontravensi merupakan suatu sikap mental yang tersembunyi terhadap orang lain atau terhadap unsur-unsur kebudayaan suatu golongan tertentu. Adapun bentuk-bentuk kontravensi adalah sebagai berikut.
1)    Kontravensi umum, seperti penolakan, keengganan, perlawanan, perbuatan menghalangi, protes, gangguan-gangguan, kekerasan, dan pengacauan rencana pihak lain.
2)    Kontravensi sederhana, seperti menyangkal pertanyaan orang lain di muka umum, memaki-maki melalui surat selebaran, mencerca, menfitnah, dan melempar beban pembuktian pada orang lain.
3)    Kontravensi intensif, misalnya penghasutan, penyebaran desas-desus, mengecewakan pihak lain.
4)    Kontravensi rahasia, misalnya mengemukakan rahasia pihak lain, pengkhianatan.
5)    Kontravensi taktis, misalnya mengejutkan lawan, menggangu, atau membingungkan pihak lain.
             Sedangkan tipe-tipe kontravensi ada tiga yaitu:
1)    kontravensi generasi masyarakat;
2)    kontravensi seksual;
3)    kontravensi parlemen.
c.    Pertentangan (Pertikaian atau Conflict)
             Pribadi seseorang ataupun kelompok menyadari adanya perbedaan-perbedaan. Perbedaan itu dapat mempertajam perbedaan yang ada sehingga dapat menjadi suatu pertentangan atau pertikaian. Pertentangan adalah suatu proses di mana individu atau kelompok berusaha untuk memenuhi tujuannya dengan jalan menentang pihak lawan yang disertai dengan ancaman dan kekerasan. Faktor yang menyebabkan terjadinya pertentangan, antara lain perbedaan antara individu dan individu, perbedaan kebudayaan, perbedaan kepentingan, dan perubahan sosial.

artikel lainnya BENTUK INTERAKSI SOSIAL

Wednesday 29 March 2017 | Post

http://fajar.co.id/wp-content/uploads/2015/09/kebakaran9.jpg PENDAHULUAN Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia mencapai puncaknya pada tahun 1997/1998 ketika 10 juta…

Monday 25 September 2017 | Post

Keren nih seragam pesanan dari puskesmas Bunut. Kombinasi merah dengan batik hitam membuat seragam ini terlihat…

Friday 4 August 2017 | Post

Perempuan adalah makhluk yang mulia dan patut dimuliakan. Bukan karena adanya emansipasi wanita, tapi sudah sejak…

Wednesday 18 January 2017 | Post

Beku,kaku tanpa desahan nafas hanya kesunyian menemani diakhir cerita tanah merah menjadi alas tidurku pohon kamboja…