Menu

Sejarah perdagangan dan penjajahan VOC ke Indonesia

Jan
07
2015
loading...
by : PakdheBudi Kayamara. Posted in : Post
BAB 1 Pengantar Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah (Jas Merah). Begitulah pesan dari Sang Proklamator sekaligus Presiden pertama kita, Ir. Soekarno dalam pidato kenegaraan 17 Agustus 1966. Beliau selalu menekankan kalimat tersebut kepada seluruh rakyat Indonesia, terutama generasi muda agar tidak melupakan sejarah bangsanya. Dengan mengetahui sejarah, para generasi muda akan mengerti jerih payah para pendahulunya dalam membangun negeri ini. Selain itu, generasi muda juga dapat meningkatkan
semangat nasionalisme dan patriotisme sehingga segala bentuk perpecahan dapat dihancurkan. Setiap orang tentu mengenal istilah sejarah. Ya, sejarah ada peristiwa atau kejadian yang terjadi pada masa lalu. Masa lalu merupakan waktu yang tidak dapat diulang kembali, akan tetapi masa lalu dijadikan sebuah cermin kehidupan dalam suatu perubahan. Sejarah, baik yang berupa kesuksesan maupun kegagalan, dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi bagi diri dan motivasi. kegagalan di masa lampau jangan sampai terulang di masa sekarang dan mendatang. Keberhasilan di masa lampau, harus mampu ia pertahankan dan dilipatgandakan di masa sekarang dan yang akan datang. A.Konsep Manusia yang Terbatas dalam Ruang dan Waktu, Perubahan dan Keberlanjutan, dan Pengaruhnya terhadap Kehidupan Manusia di Masa Kini Mengamati Lingkungan Setiap hari manusia selalu dihadapkan dengan berbagai peristiwa yang datang silih berganti. Peristiwa yang dialami manusia ada yang membuat sedih dan kecewa karena mengalami kegagalan; adapula yang membuat bangga dan bahagia karena mengalami keberhasilan. Kegagalan dan keberhasilan manusia dalam hidupnya ini tentu mengalami proses yang panjang. Ada serentetan peristiwa yang membuat manusia bisa berhasil atau gagal dalam hidupnya. Peristiwa-peristiwa ini saling berkaitan dan mengalami perubahan sejalan dengan waktu. Bagaimana dengan Anda, apakah Anda pernah mengalami peristiwa penting yang tidak akan pernah Anda lupakan? Bagaimana perjalanan hidup Anda sehingga bisa mengalami keberhasilan atau kegagalan? Memahami Teks Manusia diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa sebagai makhluk yang sempurna dan berbeda dengan makhluk lain. Manusia diberikan akal untuk membedakan dengan makhluk lain. Manusia merupakan pelaku peristiwa sosial atau sejarah. Sejarah dibuat oleh manusia, sejarah dipelajari oleh manusia, dan hanya manusialah yang bersejarah. Sejarah mempelajari proses dinamis dari kehidupan manusia yang didalamnya terlihat hubungan sebab akibat yang cukup rumit. 
Sejarah mempelajari sesuatu gerakan dan perubahan yang terjadi pada kehidupan manusia. Lebih lanjut, sejarah mempelajari motivasi yang mendorong terjadinya perubahan bagi pelaku sejarah (manusia). Dengan mempelajari sejarah manusia dapat mengambil pelajaran di masa lalu untuk digunakan menghadapi masalah di masa kini dan masa yang akan datang. Dalam sejarah terdapat tiga konsep yang tidak dapat dipisahkan, yaitu waktu, ruang, dan manusia. Ketiga konsep ini merupakan kesatuan tiga unsur penting yang tidak dapat dipisahkan dalam suatu peristiwa dan perubahannya. Suatu kejadian dapat diamati berdasarkan dimensi ruang, dimensi waktu dan dimensi manusia. Berdasarkan dimensi ruang, suatu peristiwa memiliki batas-batas tertentu. Dalam suatu ruang akan berlangsung berbagai peristiwa atau kejadian pada waktu bersamaan. Berdasarkan dimensi manusia, manusia adalah menjadi objek dan subjek dari peristiwa tersebut. Setiap peristiwa membawa pengaruh terhadap perubahan pada dimensi manusia, baik sebagai objek maupun subjek. Perubahan tersebut diharapkan adalah perubahan ke arah yang lebih baik. Untuk itu diperlukan kesadaran manusia dalam memaknai setiap peristiwa. Berdasarkan dimensi waktu, suatu peristiwa merupakan suatu proses artinya, peristiwa tersebut mengalami perubahan sejalan dengan waktu. Waktu itu ada dan terus berjalan (continuity). Waktu dapat dimanfaatkan oleh setiap orang yang memiliki kesadaran bahwa waktu itu terus berjalan. Jadi, hanya manusia yang dapat memanfaatkan waktu yang dapat mengalami perubahan kearah yang lebih baik. 1.Konsep Aktivitas Manusia dalam Ruang dan Waktu Ruang (dimensi spasial) merupakan tempat terjadinya berbagai peristiwa sejarah dalam proses perjalanan waktu. Ruang adalah sela-sela yang terbatas atau tidak terbatas diantara beberapa bidang. Secara konsep, ruang merupakan tempat terjadinya berbagai peristiwa, alam maupun sosial dan peristiwa sejarah dalam perjalanan waktu. Sebuah peristiwa tidak hanya dilihat dari segi lokasi kejadian peristiwa, tetapi juga pada luasnya dampak yang ditimbulkannya menempatkan sejarah lokalitasnya baik secara regional, nasional, maupun internasional. Sehingga berdasarkan unsur ruang, kita mengenal pembagian sejarah secara regional atau kewilayahan. Contohnya; sejarah Eropa, sejarah Asia, sejarah Timur Tengah, sejarah Amerika Latin, sejarah Timur-Jauh, sejarah Asia Tenggara, sejarah Afrika Utara, dan sebagainya. Dalam hal ini sejarah regional juga bisa menyangkut sejarah dunia, tetapi ruang-lingkupnya lebih terbatas oleh persamaan karakteristik baik fisik maupun sosial-budayanya. Adapun waktu (dimensi temporal) memiliki dua makna yakni makna denotatif dan makna konotatif makna waktu secara denotatif adalah satu kesatuan: detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, abad dan seterusnya. Makna waktu secara konotatif adalah waktu sebagai suatu konsep. Berdasarkan kamus umum Bahasa Indonesia waktu adalah seluruh rangkaian saat ketika proses perbuatan atau keadaan berlangsung. Apabila kita membahas tentang waktu sebagai suatu rangkaian saat ketika proses berlangsung, maka berarti yang dibahas adalah peristiwa atau kejadian yang lalu atau yang akan datang. Konsep waktu dalam sejarah meliputi waktu atau tempo (time) yaitu proses kelangsungan suatu peristiwa dan waktu merupakan kesatuan dari kelangsungan tiga dimensi yaitu masa lalu, sekarang dan masa yang akan datang. Begitu pentingnya mengenai ”waktu”, yang digunakan dengan riset historis dan empiris dalam perspektif kronologis, fungsionalis, strukturalis maupun simbolis, secara alternatif ilmuwan/sejarawan bisa menggunakan penempatan subyektif dari saat kemarin, sekarang, dan akan datang, di mana selalu spesifik-person ataupun kejadian itu selalu memiliki nilai keunikan bagi pengalaman pribadi bahkan nilai kolektifnya sebuah komunitas. Di dalam waktu terdapat rentetan-rentetan kejadian atau peristiwa. Karena berupa rentetan kejadian maka kejadian atau peristiwa kemarin akan memberikan pengaruh pada saat ini dan rentetan atau peristiwa saat ini akan memberikan pengaruh pada masa yang akan datang. 
Menurut Piotr Sztompka terdapat enam fungsi waktu. Keenam fungsi tersebut adalah. a.sebagai penyelaras tindakan; b.sebagai koordinasi; c.sebagai bagian dalam pentahapan/rentetan peristiwa; d.menepati ketepatan; e.mentukan ukuran; f.untuk membedakan suatu masa tertentu dengan lainnya. Dengan demikian waktu tidak sekedar alat atau instrumen yang menakjubkan, tetapi waktu sebagai nilai pada dirinya sendiri, menjadi variabel independen, variabel utama, faktor diterminan dalam kehidupan sosial kita. Begitulah pentingnya waktu dalam kehidupan manusia. Jika waktu telah berlalu maka sudah dipastikan tidak dapat bisa diganti. Pemahaman akan sejarah sangat penting bagi manusia karena manusia hidup dalam dimensi waktu. Dengan belajar sejarah manusia bisa belajar dari pengalaman masa lalu, menecermati dan menggunakan pengalam masa lalu di masa kini, dan merencanakan kehidupan yang lebih baik dan menghindari kesalahan-kesalah di masa yang akan datang. Masa yang akan datang merupakan hal yang sangat penting dari kehidupan manusia. Pengalaman masa lalu yang perlu dipelajari tidak hanya masa lalu diri sendiri, tetapi juga orang lain terutama orang-orang yang sukses dan pemimpin besar. Adanya ruang dan waktu tanpa arti jika tidak adanya manusia. Manusia merupakan pelaku sebuah peristiwa, manusia yang memaknai adanya waktu, dan manusia yang menempati ruang-ruang. Manusialah yang mempelajari ruang, waktu, dan peristiwa. Hal itu dapat terjadi karena rahmat yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa. Konsep tentang ruang dan waktu yang melekat dalam eksistensi manusia. Pemahaman tentang konsep ruang dan waktu akan memberikan pandangan realitas kehidupan manusia. Hal tersebut memunculkan pemikiran-pemikiran kontemporer. Pemikiran-pemikiran tersebut dituangkan manusia dalam berbagai karya tertulis sehingga manusia lain atau manusia di masa yang akan datang dapat mempelajarinya. Karya tersebut juga bisa menjadi media eksitensi dari si penulis sehingga si penulis dapat diketahui bahwa dia ada pada suatu masa. Dengan memahami konsep ruang dan waktu melalui penyingkapan suatu peristiwa dalam kehidupan manusia memberikan inspirasi hidup untuk berani mengambil keputusan terhadap berbagai kemungkinan alternatif dan kemungkinan masa depan. Hal ini penting sebagai sikap hidup yang bertanggung jawab atas segala keputusan yang telah menjadi pilihan hidup manusia, walaupun secara eksistensial, manusia sebelumnya tak pernah tahu dari mana, mau kemana dan mengapa manusia harus hidup dan kemudian mati. Pentingnya pembahasan tentang hakekat hidup dalam konsep ruang dan waktu memiliki dua pengaruh yaitu eksternal dan internal. Pengaruh eksternal, yaitu sebagai suatu landasan sikap hidup manusia di tengah hiruk pikuknya kehidupan di era global yang penuh dengan benturan berbagai nilai humanistik dalam berhadapan dengan komunitas yang serba plural. Kesadaran akan keberadaan manusia dalam komunitas yang plural ini akan menumbuhkan sikap toleransi yang tinggi, sehingga diharapkan dapat mengurangi berbagai konflik dalam hidup bersama sebagai anggota masyarakat dalam suatu Negara, maupun dalam konteks yang universal, yaitu sebagai bagian dari umat manusia seluruh dunia. Sedangkan pengaruh intrisik adalah kearifan seseorang dalam memandang dan menghadapi setiap kejadian, peristiwa, dan masalah dalam hidupnya. Halaman 12 Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat diambil pengertian sejarah secara umum, yaitu sejarah adalah peristiwa yang terjadi akibat aktivitas manusia yang memberikan pengaruh pada keadaan manusia pada masa itu dan masa sekarang dan disusun menggunakan metodologi ilmiah dan kronologis. Halaman 24 Kronologis dibuat lurus sejalan dengan waktu. Di dalam sejarah Indonesia kronologis dimuali dari awal kehidupan manusia di Indonesia hingga sekarang. Awal kehidupan manusia disebut dengan masa Praaksara sedangkan kehidupan sekarang termasuk dalam masa sejarah Indonesia Kontemporer. Berikut kronologis sejarah Indonesia. a.Masa Praaksara Masa Praaksara adalah masa di mana manusia belum mengenal tulisan. Pada masa ini manusia yang hidup disebut dengan manusia purba. Masa ini diungkap dengan peninggalan arkeologis karena manusia belum meninggalkan peninggalan berupa tulisan. Berdasarkan benda peninggalannya, masa ini dibagi dalam zaman Paleolitikum, Mesolitikum, Neolitikum, dan Megalitikum. Masa Praaksara berakhir ketika penduduk di Indonesia saat itu berhubungan dengan bangsa India. Adanya hubungan tersebut menyebakan dikenalnya tulisan oleh penduduk di Indonesia saat itu. Masa ini berakhir pada tahun 1 Masehi. b.Masa Sejarah Hubungan perdagangan dengan India membuat Indonesia memasuki masa sejarah. disebut masa sejarah karena sudah mengenal tulisan dan meninggalkan peninggalan tulisan. Peninggalan tulisan tertua adalah Yupa yang menjadi bukti sejarah Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. Masa sejarah di Indonesia dibagi dalam Zaman Indonesia Kuno, Zaman Indonesia Madya, dan Zaman Indonesia Baru. 1)Zaman Indonesia Kuno Zaman Indonesia Kuno dimulai dengan masuknya pengaruh Kebudayaan Hindu – Buddha di Indonesia. Zaman ini ditandai dengan adanya Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur dengan peninggalan berupa Yupa. Berdasarkan penelitian Yupa dibuat pada abad ke-3 Masehi. zaman ini diakhiri dengan runtuhnya Kerajaan Majapahit akibat desakan dari masuknya Islam di Indonesia. 2)Zaman Indonesia Madya Zaman Indonesia Madya ditandai dengan masuknya Islam di Indonesia. Masuknya Islam di Indonesia diperkirakan terjadi pada abad ke-7 Masehi. masuknya islam di Indonesia memunculkan kerajaan Islam pertama, yaitu Samudra Pasai di Sumatra Utara. Zaman ini berakhir pada abad ke-16 ketika bangsa-bangsa Eropa masuk ke Indonesia dan mengambil alih kekuasaan. 3)Zaman Indonesia Baru Zaman Baru di Indonesia dimulai ketika bangsa Barat berdatangan ke Indonesia. Zaman ini diwarnai dengan kolonialisme, kebijakan-kebijakan pemerintah kolonial, keadaan sosial dan politik di Indonesia pada masa kolonial, dan perlawanan-perlawanan terhadap penindasan Belanda. Zaman ini diakhiri dengan masa pendudukan Jepang di Indonesia. 3)Zaman Indonesia kontemporer Zaman Indonesia kontemporer dimulai ketika bangsa Indonesia berjuang memperjuangkan kemerdekaan dari rongrongan penjajah yang ingin kembali ke Indonesia. Zaman ini dimualai pada tahun 1945 hingga yang terakhir adalah Reformasi 1998. Tambahan halaman 27 5. Interpretasi Interpretasi merupakan penafsiran terhadap suatu peristiwa atau memberikan pandangan secara teoritis terhadap suatu peristiwa sejarah. Peristiwa sejarah terjadi di masa lalu dan diungkapkan oleh para ahli dengan berbagai sumber. Sumber tersebut dijadikan sarana pendukung untuk mengungkapkan peristiwa sejarah. Sumber-sumber harus diinterpretasikan dan ditafsirkan sehingga bisa mengungkap kebenaran dan kronologi terjadinya peristiwa sejarah di masa lampau. Dalam memberikan penafsiran, biasanya sejarawan akan melihat berbagai faktor yang menjadi faktor penentu perubahan. Secara garis besar, faktor penentu perubahan dalam sejarah dapat ditentukan oleh manusia sendiri dan faktor di luar manusia. Faktor didalam manusia bisa berupa pemikiran, ilmu pengetahuan, ketrampilan yang berkembang, dan sikap. Faktor di luar manusia misalnya lingkungan fisik atau alam di mana manusia itu hidup, seperti iklim, tanah, dan sumber-sumber daya alam lainnya. Dalam interpretasi diperlukan teori-teori untuk memberikan pandangan pada suatu peristiwa sejarah. teori-teori tersebut diambil dari ilmu bantu sejarah, sepeti antropologi, sosiologi, geografi, ekonomi, dan arkeologi. Karena itulah penginterpretasi atau sejarawan harus menguasai beberapa disiplin ilmu. Jika tidak menguasai beberapa disiplin ilmu sejarawan harus memahami berbgai teori yang ada dan bersangkutan dengan peristiwa sejarah yang dikajinnya. Penggunaan ilmu bantu tersebut juga berguna menambah kejelasan peristiwa sejarah. Dengan menggunakan teori-teori tersebut diharapkan penulisan sejarah akan bersifat objektif dalam lingkup keilmiahan. Misalnya adalah penggunaan teori ekonomi atau interpretasi ekonomi. Ekonomi merupakan salah satu faktor yang menentukan dalam sejarah atau kehidupan manusia. Hal ini dapat dilihat dari kolonialisme dan imperialisme Eropa di Indonesia. Bangsa Eropa yang memerlukan rempah-rempah harus mencari rempah-rempah dari sumbernya. Hal ini dikarenakan bangsa Eropa tidak dapat berdagang di Konstantinopel. Di dorong kebutuhan akan rempah-rempah bangsa Eropa melakukan penjelajahan samudra. Bangsa Eropa akhirnya tiba di Indonesia yang merupakan sumber rempah-rempah. Karena mendapatkan rempah-rempah langsung dari sumbernya keuntungan besar didapatkan bangsa Eropa. Akhirnya bangsa Eropa menjadi rakus dan berambisi ingin menguasai seluruh sumber rempah-rempah dan memonopoli perdagangannya. Hal itu mendorong terjadi perang antara bangsa Eropa dengan Kerajaan dan masyarakat Indonesia pada saat itu. Akhirnya kejadian itu yang mewarnai sejarah Indonesia yang dikenal dengan masa kolonial. Dalam interpretasi juga diperlukan imajinasi. Data-data yang dikumpulkan tidak bisa mengungkap kejadian masa lalu secara detail. Tidak semua kejadian direkam atau ditulis secara detail oleh saksi atau orang yang hidup dan menyaksikan kejadian itu berlangsung. Data-data yang dikumpulkan di rangkai dan dihubungkan sehingga menjadi kesatuan yang masuk akal. Perisitwa-peristiwa yang satu dengan yang lain yang berhubungan dimasukkan sehingga menjadi peristiwa yang utuh. Disitu akan muncul bagian yang memisahkan bagian satu dengan yang lain. Imajianasi sejarawan diperlukan untuk menghubungkan bagian satun dengan yang lain. Tetapi tidak sembarang imajinasi yang digunakan, imajinasi tersebut harus memiliki sifat logis dan didasarkan pada teori-teori yang ada. Karena didasarkan pada imajinasi yang muncul dari pemikiran logis sejarawan, maka interpretasi ini akan memberikan unsur subjektifitas. Subjektivitas terjadi disebabkan penulis sejarah memiliki pandangan dan imajinasi tersendiri terhadap sumber yang ia temukan. Jika semua sudah terhubung akan menjadi satu kisah sejarah yang menyatu dan utuh. Ketrampilan bahasa juga diperlukan dalam melakukan interpretasi. Hal ini dikarenaka sumber sejarah yang ada sering dalam bahasa lain, misalnya Sanskerta dan Belanda. Ketrampilan bahasa digunakan untuk membaca sumber tersebut, terutama sumber tertulis. Bahasa kuno atau lama sering memiliki struktur kalimat yang berbeda dengan bahasa sekarang. Untuk itulah jika ketrampilan bahasa tidak dimiliki akan menyebabkan kesalahan dalam interpretasi. Tambahan halaman 28 Banyak periodisasi yang bisa dilakukan pada sejarah Indonesia. Hal tersebut bergantung pada bagaimana cara memandang seorang sejarawan mengenai rentang waktu dan penitikberatan sejarah yang mereka inginkan. Berikut contoh periodisasi yang bisa dilakukan pada sejarah Indonesia. a.Zaman Indonesia Baru Zaman Baru Indonesia dibagi menjadi beberapa periode, yaitu: 1) Zaman VOC (1602–1799) 2) Zaman pemerintahan Hindia-Belanda (1800–1942) 3) Zaman Jepang (1942–1945) b.Zaman Indonesia Kontemporer Zaman Indonesia Kontemporer di Indonesia, bisa diperiodisasikan atau dibabakan sebagai berikut. 1) Zaman Perang Kemerdekaan (1945–1949) 2) Zaman Demokrasi Liberal (1949–1959) 3) Zaman Orde Lama (1959–1965) 4) Zaman Orde Baru (1965–1998) 5) Zaman Reformasi (1998–sekarang). Halaman 45 Contohnya adalah runtuhnya gedung World Trade Center di Amerika Serikat. Kejadian yang terjadi pada 11 September 2011 ini mengakibatkan banyak korban berjatuhan. Ketika peristiwa tersebut terjadi, masyarakat sekitar berlari ketakutan menyelamatkan diri. Masyarakat yang terkena serpihan dan reruntuhan menangis dan berteriak-teriak. Petugas keamanan berusaha melakukan evakuasi, mengarahkan masyarakat ke tempat yang aman, dan menenangkan masyarakat. Setelah kejadian teratasi, kejadian ini meninggalkan trauma yang mendalam. Hal tersebut merupakan sedikit fakta mental ketika peristiwa runtuhnya gedung World Trade Center. Rangkuman bab 1 Manusia hidup di dalam ruang, waktu, dan perubahan. Ruang merupakan tempat manusia menjalani kehidupan dan melahirkan peristiwa-peristiwa. Waktu merpakan hal penting sekaligus karakteristik unik yang dimiliki sejarah. Konsep ”perubahan” merupakan istilah yang mengacu kepada sesuatu hal yang menjadi berbeda. Manusia selalu berkembang menuju sempurna atau ke arah yang lebih baik. Sejarah merupakan suatu ilmu pengetahuan tentang rangkaian kejadian yang berkualitas pada masyarakat manusia dengan segala aspeknya serta proses gerak perkembangan yang kontinue dari awal searah hingga saat ini yang berguna bagi pedoman kehidupan masyarakat manusia masa sekarang serta arah cita-cita masa depan. Sejarah memiliki ciri-ciri peristiwanya abadi, peristiwanya unik, dan peristiwanya penting. Sehingga tidak semua peristiwa bisa dijadikan sejarah. Sejarah bisa dipandang sebagai peristiwa, sebagai kisah, sebagai ilmu, dan sebagai seni. Sejarah memiliki kegunaan intirisik dan ekstrinsik. Secara umum mempelajari sejarah memberi manfaat memberikan kesadaran waktu, memberi pelajaran, membina identitas kolektif, dan sumber inspirasi (ilham). Diakronis, sinkronis, generalisasi, kausalita, interpretasi, dan periodisasi merupakan cara berpikir sejarah dalam mempelajari peristiwa-peristiwa sejarah. Di dalam sejarah perlu mengenal prinsip kausalita (sebab-akibat) dan generalisasi. Sumber sejarah beradasarkan tingkat keabsahannya terdiri dari sumber primer (pertama), sekunder (kedua), dan tersier (ketiga). Sumber sejarah dapat diklasifikasikan dalam sumber benda, sumber tertulis, sumber lisan, dan sumber rekaman. Dari metode memperolehnya sumber sejarah dibagi dalam sumber sejarah primer dan sekunder. Berdasarkan isi atau materi sumber, sumber sejarah politik, ekonomi, sosial, dan kebudayaan. Bukti sejarah dibedakan menjadi bukti tertulis dan tidak tertulis. Fakta sejarah dikelompokkan menjadi fakta seni (artefak), fakta mental (mentifact), dan fakta sosial (sosiofact). Bab 2 Halaman 62 Sumber merupakan pusat informasi baik berupa keterangan tertulis maupun keterangan lisan. Sumber sejarah dapat berupa dokumen, catatan, prasasti, berita, arsip dan lain sebagainya. Didalam sumber itu sendiri terdapat bukti dan fakta yang berhubungan dengan terjadinya peristiwa. Bukti sejarah adalah keterangan yang diperoleh dari jejak-jejak dan sumber-sumber sejarah setelah diadakan uji atau kritik secara kritis. Fakta sejarah adalah kesimpulan-kesimpulan dari sejarawan terhadap kejadian sejarah yang terjadi di tempat tertentu dan waktu tertentu. Misalnya seorang peneliti sejarah sudah mendapatkan sumber dari wawancara berbagai saksi sejarah. Terkadang uraian para pelaku atau saksi peristiwa sejarah ada yang lemah, karena meninggalkan unsur objektifitasnya dilakukan verifikasi oleh sejarawan. Setelah di verifikasi sumber yang didapatkan adalah benar atau valid. Sejarawan kemudian mencari bukti-bukti lain untuk mendukung sumber tersebut. Hasil verifikasi ini menjadikan sumber tersebut menjadi sebuah fakta. Untuk lebih jelasnya mengenai kedudukan sumber, bukti, dan fakta, berikut simulasi sederhananya. Seorang sejarawan akan meneliti mengenai penyusunan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Sejarawan tersebut berhasil mewawancarai pelaku dan saksi dalam peristiwa tersebut. Dari hasil wawanacara didapatkan data-data mengenai kejadian penyusunan naskah proklamasi. Berdasarkan kesimpulan dan analisis sejarawan terdapat data yang subjektif dan kemudian disingkirkan. Sejarawan kemudian mecari bukti-bukti sejarah. Karena membahas penyusunan naskah proklamasi maka sejarawan mencari naskah proklamasi tersebut. Sejarawan berhasil mengakses naskah proklamasi dari pihak yang bersangkutan. Dari pencarian itu didapatkan naskah proklamasi konsep dan autentik. Dari situlah kemudian sejarawan melakukan kajian dan menghasilkan berbagai fakta sebagai berikut. 1.Tokoh-tokoh yang terlibat dalam penyusunan naskah proklamasi adalah Ir. Soekarno selaku penulis naskah, Ahmad Soebardjo sebagai penyumbang kalimat pertama, dan Mohammad Hatta sebagai penyumbang kalimat kedua. Selain itu juga terdapat Sajuti Melik dan Soekarni. 2.Peyusunan naskah dilakukan di ruang makan rumah Laksamana Muda Maeda, sekarang beralamat di Jalan Imam Bonjol No. 1, Jakarta. 3.Naskah proklamasi yang ditulis Ir. Soekarno disebut naskah konsep kemudian dilakukan perubahan dan diketik menjadi naskah autentik. 4.Tokoh yang mengetik naskah proklamasi adalah Sajuti Melik. 5.Terjadi perdebatan mengenai penanda tanganan naskah proklamasi. Akhirnya disepakati bahwa yang menanda tangani adalah Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta atas nama bangsa Indonesia. Halaman 63 Sejarah lisan adalah penggalian sumber sejarah dengan metodologi dan teknik wawancara terhadap saksi-saksi sejarah. Sejarah lisan sudah dikenal pada masa Herodotus. Dia menggunakan saksi mata dengan menanya secara silang. Hasil yang didapat langsung ditulis kemudian di analisa. Pada abad ke-20 sejarah lisan memasuki kejayaan karena ditemukannya alat perekam atau tape recorder. Bahkan saat ini sudah ada alat perekam digital yang terintegrasi dengan telepon genggam. Alat paling efektif adalah penggunaan kamera digital yang mampu merekam video. Adanya video tersebut membuat sejarawan mampu menganalisis bahasa tubuh saksi yang juga sangat penting bagi analisis sumber. Metodologi sejarah lisan yang bersifat tunggal tidak kalah penting dengan metode lainnya. Bahkan metode sejarah lisan memperkaya metode penelitian dan menambah sumber sejarah. Banyak masalah sejarah modern yang tidak bisa diugkap dengan dokumen-dokumen. Dokumen banyak diwarna unsur subjektif menurut kepentingan pembuat dokumen. Adanya teknik wawancara sebagai metode sejarah lisan memberikan jawaban atas hal tersebut. Adanya video membuat keterangan saksi sejarah dapat secara kongkret diabadikan. Teknik wawancara yang benar menjadi hal yang harus diperhatikan. Karena teknik wawancara yang benar inilah yang akan menentukan keabsahan keterangan sejarah lisan yang dapat dipertanggungjawabkan. Sejarah lisan memberikan sumbangan besar dalam pengembangan penulisan sejarah. hal itu dikarenakan sebagai berikut. Sejarah lisan memiliki sifat kontemporer sehingga memberikan kemungkinan yang hampir tak terbatas untuk menggali sejarah dan pelakunya. Sejarah lisan dapat mencapai pelaku sejarah yang tidak disebutkan dalam dokumen atau sumber tertulis. Sejarah lisan memungkinkan perluasan permasalahan sejarah, karena sejarah tidak lagi dibatasi kepada adanya dokumen tertulis. Halaman 73 Info Salah satu jenis penulisan sejarah yang terdapat pada masyarakat umum adalah biografi dan otobiografi. Biografi merupakan kisah atau riwayat hidup seseorang yang ditulis orang lain. Sumbernya berasal dari pengakuan tokoh itu sendiri, kesaksian keluarga serta orang yang mengenal tokoh tersebut, dan fakta-fakta perjalanan hidupnya. Sedangkan otobiografi adalah biografi yang ditulis tokoh itu sendiri. Halaman 77 Terdapat empat pendekatan pokok yang digunakan untuk mengkaji asal-usul keluarga, yaitu. 1) Pendekatan psikohistori, menyajikan perspektif yang jernih tentang motivasi, kesadaran dan kealpaan generasi lampau, namun banyak kesimpulan yang sulit diterima. 2) Pendekatan demografi, pendekatan ini lebih mementingkan data-data perjuangan hidup masa lampau. Fokus mereka tertuju pada bentuk struktur rumah tangga, usia pernikahan pertama, pola pengasuhan anak dan pola kehidupan sehari-hari. 3) Pendekatan sentimen keluarga, pendekatan ini mengemukakan tentang perasaan-perasaan kedekatan hubungan kelurga yang bersifat akrab, hangat, dan egaliter atau mungkin juga terbalik keadaannya. 4) Pendekatan ekonomi rumah tangga, pendekatan ini lebih menekankan penelaahan lingkungan mikro-ekonomi, pekerjaan, sampai hal-hal hubungan aspek ekonomi dengan non-ekonomi, seperti bagaimana hubungan antara perkawinan dan pola pewarisan harta keluarga. Rangkuman Materi Halaman 78 Untuk membantu penelitian sejarah diperlukan ilmu bantu sejarah, diantaranya paleontologi, arkeologi, paleoantropologi, paleografi, epigrafi, ikonografi, epigrafi, ikonografi, numanistik, ilmu keramik, genealogi, filologi, bahasa, statistik, dan etnografi. Ilmu bantu sejarah digunakan dalam mencari sumber sejarah, bukti sejarah, dan melakukan penelitian sejarah. Metodologi penelitian sejarah adalah proses menguji dan menaganalisa secara kritis rekaman dan penginggalan masa lampau. Langkah-langkah metodologi penelitian sejarah adalah pemilihan topik, heurtistik (pengumpulan sumber), verifikasi (validasi sumber), interpretasi, dan historiografi (penulisan sejarah). Dalam pemilihan topik harus mempertimbangkan what (apa), Who (siapa), Where (dimana), When (kapan), Why (mengapa), dan How (bagaimana). Penulisan sejarah merupakan perpaduan kerja seni (art) dan kemampuan berpikir kritis serta analisis (science). Penyajian penulisan sejarah mempunyai tiga bagian, yaitu pengantar, hasil penelitian, dan simpulan. Sumber, bukti, dan fakta sejarah yang valid sangat diperlukan dalam penelitian sejarah agar dihasilkan sejarah yang dapat dipertanggung jawabkan. Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam penelitian sejarah lisan adalah sumber berita dari pelaku sejarah; sumber berita dari saksi sejarah; tempat peristiwa sejarah; latar belakang munculnya peristiwa sejarah; dan pengaruh dan akibat dari peristiwa sejarah. Bentuk penulisan sejarah (historiografi) dibagi menjadi tiga, yaitu historiografi tradisional, historogarafi kolonial, dan historiografi modern. Historiografi tradisonal ditulis oleh para pujangga keraton yang terjadi pada zaman kerajaan. Historiografi ini bertujuan menganggungkan sang raja. Historiografi kolonial ditulis oleh bangsa asing yang terjadi pada zaman kolonial (penjajahan). Historiografi ini mendekati dengan historiografi modern. Historiografi ini bersifat subjektif karena bertujuan memberikan dukungan kepada kepentingan pemerintahan Belanda. Historiografi modern sangat mengutamakan penggunaan fakta. Historiografi modern Indonesia dibuat oleh sejarawan Indonesia dengan prinsip historiografi modern. Historiografi modern Indonesia dibuat dengan sudut pandang indonesiasentris. Berdasarkan geografisnya sejarah dibagi menjadi tiga, yaitu sejarah lokal, sejarah nasional, dan sejarah dunia. Berdasarkan tema penulisannya maka akan muncul berbagai jenis sejarah, diantaranya sejarah politik, sejarah kebudayaan, sejarah ekonomi, sejarah sosial, sejarah intelektual, sejarah etnis, sejarah pendidikan, dan sejarah keluarga.
Bagikan:Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Comment

artikel lainnya Sejarah perdagangan dan penjajahan VOC ke Indonesia

Sunday 13 May 2018 | Post

Juli Wicaksono, mahasiswa Departemen Ilmu Ekonomi Syariah, Institut Pertanian Bogor (IPB) berhasil mencatatkan dirinya dalam penghargaan…

Tuesday 16 May 2017 | Post

Dear Indonesia, You knew I was coming back, right? You must have. You must have known…

Friday 23 February 2018 | Post

Live Perform Three S Organ Tunggal Birthday Party Bapak Fauzi, 17 Februari 2018 di Hotel Crowne…

Wednesday 8 February 2017 | Post

Buah naga sekarang ini sedang membanjiri pasar. Buah naga merah atau buah naga putih sangat disukai,…