Sekilas Tentang jendral Wiranto

1.   Sekilas tentang Dr. Wiranto
I    .. selalu mengatakan bahwa ‘saya bukan siapa- siaPa» tanPa risih sedikitpun ia juga selalu me- ngatakan, “Saya hanya anak orang biasa saja, -<‘»rang guru SD yang kehidupannya sangat hcrsahaja. Saya kebetulan dapat peluang untuk «erus mengikuti pendidikan dan menjalani berbagai penugasan, dipercaya rakyat dan mendapat karunia Allah Yang Maha Kuasa untuk menjadi pimpinan ABRI (sekarang TNI) intrangkap Menteri Pertahanan Keamanan (sekarang Menhan), Menkopolkam (Menteri Koordinator Politik dan Keamanan) serta ber- •mluiig dapat mendampingi tiga dari enam I’reslden Republik Indonesia yang pernah menjabat sampai saat ini.”
“»lah yang selalu dikatakannya, walaupun kita semua tahu bahwa seseorang untuk meniti ^ T^r di militer harus menjalani persaingan yang I’ukan main ketatnya. Menjadi pimpinan puncak
1
di militer bukan pekerjaan mudah, membutuhkan kesungguhan, ketekunan, kegigihan, dan keisti- mewaan dibandingkan perwira Iainnya. Sungguh karier yang sangat gemilang, namun itulah Wiranto, ia tak pernah merasa istimewa dan tidak meng- istimewakan jabatannya itu.

Pada awal jabatannya sebagai Menhankam/ Pangab, ia sempat membekukan kompi pengawal Mabes ABRI (TNI), setelah mengikuti sidang kabinet di Istana Presiden, Cerita lengkapnya begini, pada saat sidang berlangsung, presiden bertanya kepada panglima tentang kemanan nasional, maka Wiranto menjawab dengan penuh keyakinan, “Situasi nasional aman dan terkendali.” Namun setelah selesai sidang, pada saat perjalanan kembali ke Mabes ABRI, Wiranto melihat di belakang mobilnya ada pengawalan satu Jeep pasukan lengkap dengan senjata, dan itu sudah merupakan prosedur tetap yang berlaku sejak dulu. Dalam hati Wiranto me¬rasa ini salah, laporan kepada presiden aman dan terkendali, kok panglima masih dikawal pasukan bersenjata. Maka sesampainya di Mabes ABRI, Wiranto memerintahkan Kompi Pengawal dibe- kukan, dan selanjutnya panglima tidak perlu lagi

2
pengawalan. Cukup satu sepeda motor yang ada di belakang mobil panglima dan tanpa sirine, boleh maju ke depan atas perintah.
Jenderal Wiranto diangkat menjadi Panglima ABRI di masa Orde Baru, pada 17 Februari 1998, dan kemudian dipercaya menjadi Menteri Per- cahanan Keamanan pada 17 Maret 1998. Jabatan di masa Orde Baru itu hanya dipangkunya selama nga bulan, karena pada 21 Mei 1998, Orde Baru berakhir dan diganti dengan era reformasi, di ana Jenderal Wiranto masih dipercaya untuk :etap menjabat sebagai Menhankam/Pangab pada -e.-enntahan yang baru, dipimpin Presiden BJ. -ribie. Pada masa awal reformasi inilah Wiranto
    rmiliki peran yang sangat menentukan masa Jepan Indonesia. Kesadarannya tentang nasib -ygsaaya. pengendalian dirinya yang sangat : ana telah menyelamatkan bangsa Indonesia dari Mttmnpahan darah seperti halnya negara-negara :-ery.embang Iainnya seperti Mesir, Libya, dan Syria,
: saat terjadinya pergantian rejim. Sebagai pimpin-
    –i-inggi militer, ia memilih untuk mengaman- GC pergantian rejim dapat berlangsung secara
■fas danpada ikut memperebutkan kekuasaan,
3
walaupun hal itu sangat mungkin dilakukannya. Selain itu masih banyak lagi terobosan dan lang- kah-Iangkah Iainnya yang mengembalikan posisi militer benar-benar kembali ke jati dirinya “Dari rakyat, bersama rakyat dan untuk rakyat”.
2.   Apa Pendapatnya Tentang Pemimpin
P alam berbagai ceramah dan sambutan me- ngenai pemimpin, Wiranto mempunyai pen- dapat bahwa pemimpin itu dipilih untuk memim- pm karena memiliki kelebihan. Memimpin itu ananah, memimpin itu kepercayaan, memimpin xu suatu tanggung jawab. Jadi memimpin itu bu- fan lagi berorentasi pada dirinya, keluarganya, fe&xnpoknya, tetapi apa yang dilakukannya terfo- “ ?ada yan8 memilihnya, yang mengangkatnya, -emben mandat padanya, dan yang percaya racir. a. Kalau dipilih dan diangkat rakyat, ya seaarusnya di situlah ia berkhidmat, mengabdi, ■nea^-ani, ;a harus menjadi pemimpin rakyat.
sangat disayangkan kalau pada masa kini aasc a pemimpin rakyatyangkemudian berubah sfcc serasa menjadi penguasa, raja-raja kecil atau 3mc«ar seperti pada jaman penjajahan dulu yang ‘■suit dkenal sebagai Pangreh Praja. Dahulu di masa
penjajahan memang seperti itu, karena mereka wakil dari penjajah, mereka mengatasnamakan Gubernur Jenderal yang merupakan pelaksana penjajahan dari kerajaan Belanda. Maka perilaku- nyapun seperti raja, minta dilayani, suka protokoler, suka dipuji-puji, merekayasa pencitraan agar terlihat hebat, menyenangi hadiah, tak suka pe- rubahan, dikelilingi ABS (asal bapak senang], dan sangat nepotisme, membangun politik dinasti yang mengarahkan keluarganya jadi penerusnya, tanpa peduli berkualitas atau tidak.
Perilaku pemimpin bergaya penguasa atau pem- besar, sangat bertolak belakang dengan pemimpin rakyat, yang melayani rakyat, tidak suka protoko¬ler, sangat inovatif karena menyukai perubahan, tidak menyukai pujian dan hadiah, dan tidak ada kehendak membangun politik dinasti, karena ia mengedepankan kualitas dan kompetensi. Model pemimpin semacam inilah yang seharusnya menjadi standar pemimpin masa kini dan yang akan datang.
6
3.   KEPEMIMPINAN STMJ (susu, telor, madu dan jahe)
Ada satu jenis minuman khas Malang-Jawa Timur yang diberi istilah STMJ, campuran kombina- 5 bahan susu, telor, madu dan jahe. Biasanya —ssiikan panas-panas dan memiliki khasiat mem- :_i: :rang yang meminumnya merasa bugar, dan apalagi kalau diminum malam hari, sangat
    ssa «iiasiatnya itu. Disini kita tidak akan mem- micuman tersebut lebih jauh lagi, namun da- —• – = – ak kesempatan Wiranto menggunakan isti- sn S7*fJ ini untuk memberikan bimbingan kepada “its–cider Pemimpin masa depan tentang prin- *b~israsp kepemimpinan yang seharusnya dimili- Indonesia. Istilah ini muncul berdasarkan psogpta—an Wiranto memimpin berbagai organisa- *. tarii . tar pemerintahan, olahraga, organisasi •aisasTirajcatan, dan partai politik, maupun hasil yo* spa.—va saat mendampingi tiga Presiden pne jieraah memimpin Republikini.
Segala persyaratan tersebut mengarahkan pencari- an pemimpin yang bersih, memiliki kepedulian dan ketegasan. Untuk mencapai kualitas seperti itu, le- bih lanjut Wiranto mengatakan : “pemimpin pari- purna adalah pemimpin yang sudah selesai dengan urusan dirnya. Ia tak lagi berburu kekayaan, kete- naran, kebanggaan, kenikmatan, ataupun atribut protokolerlainnya, karena yang dikejar hanya bagaimana rakyat bisa tersenyum bahagia”.
3. KEPEMIMPINAN STMJ (susu, telor, madu dan jahe)
Ada satu jenis minuman khas Malang-Jawa Timur yang diberi istilah STMJ, campuran kombina- si dari bahan susu, telor, madu dan jahe. Biasanya disajikan panas-panas dan memiliki khasiat mem- buat orang yang meminumnya merasa bugar, dan hangat apalagi kalau diminum malam hari, sangat terasa khasiatnya itu. Disini kita tidak akan mem- bahas minuman tersebut lebih jauh lagi, namun da- lam banyak kesempatan Wiranto menggunakan isti¬lah STMJ ini untuk memberikan bimbingan kepada kader-kader pemimpin masa depan tentang prin- sip-prinsip kepemimpinan yang seharusnya dimili- ki bangsa Indonesia. Istilah ini muncul berdasarkan pengalaman Wiranto memimpin berbagai organisa- si, baik militer, pemerintahan, olahraga, organisasi kemasyarakatan, dan partai politik, maupun hasil penyerapannya saat mendampingi tiga Presiden yang pernah memimpin Republik ini.
7
5.   Mendorong Pemuda Untuk Berpolitik
Pada satu kesempatan Wiranto meresmikan dan melantik pemuda para pelajar dan mahasiswa sebagai pengurus Satma Hanura (Satuan Pelajar dan Mahasiswa Hanura) di Taman Monumen Proklamasi, Jakarta, ada pesan dalam sambutannya yang sangat menarik, “Saudara- saudara para pelajar dan mahasiswa, dengan tanpa memahami politik, maka sama dengan menyerahkan masa depanmu pada orang lain, maka berpolitiklah agar kamu semuanya dapat ikut menentukan masa depanmu sendiri.”
Kata-kata itu muncul tatkala Wiranto melihat banyak pelajar dan mahasiswa yang alergi ber¬politik, bahkan ada semangat untuk menolak politik masuk kampus. Wiranto tidak menolak sikap itu, setuju untuk tidak menjadikan kampus sebagai basis politik, yang dia koreksi adalah soal pemahamannya. Ia sangat setuju bahwa kampus harus steril dari kegiatan politik praktis, karena di
dan korupsi, itulah mengapa ada sebutan KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme], Wiranto satu di antara beberapa orang yang sudah sampai pada ketingkat kesadaran, bahwa melakukan nepotisme sama dengan mengkhianati sumpah jabatan, karena menyalahgunakan kewenangan dan dengan se- ngaja memanipulasi kebenaran. Oleh sebab itulah Wiranto sudah bertekad memerangi nepotisme yang dianggapnya merupakan sumber permasalahan ke-pemimpinan bangsa kita.
Untuk membuktikan tekadnya itu, ia telah memberikan contoh dengan membersihkan ling- karannya dari praktek nepotisme. Ia telah berani memulai yang pada posisinya sebagai ketua umum partai, untuk tidak memasukkan isteri, anak, maupun saudaranya sebagai pengurus partainya maupun sebagai calon anggota legislatif, walaupun pasti ada di antaranya yang memiliki kualitas dan kompetensi yang memadai. Ia memberi kesem¬patan siapapun memiliki kesempatan yang sama, untuk mengembangkan dirinya dalam organisasi yang dipimpinnya tanpa pengecualian.
13
12
kah S-l, S-2 atau S-3 disesuaikan dengan jenjang ja¬batannya.
Huruf M artinya MAMPU dan MAU untuk melakukan eksekusi atau tindakan-tindakan dari berbagai pe- luang dan solusi yang bermanfaat untuk rakyat dan negaranya. Dalam hal ini pemimpin harus memilki pengalaman (Experience). Dari pengalaman itulah akan membangun kebijakan serta perilaku terpuji (behavior) sebagai pemimpin yang dapat menjadi suri tauladan bagi masyarakatnya.
Huruf I artinya JAMIN bahwa selama memimpin Ia adalah pemimpin rakyat yang dekat, peduli dan memperjuangkan nasib rakyatnya. JAMIN bahwa Ia tidak akan berubah menjadi penguasa atau pem- besar yang berkelakuan seperti raja-raja kecil yang berjarak dengan rakyatnta.
Kesimpulan dari semua itu, Wiranto menekan- kan bahwa pemimpin Indonesia kedepan, yang membawa 240 juta lebih rakyat Indonesia unggul dalam persaingan global yang sangat ketat ini, harus memiliki pengalaman memimpin, kecerdasan spiri¬tual, kecerdasan intelektual, kelakukan yang terpuji.
9
Prinsip-prinsip kepemimpinan STMJ itu sebe- narnya identik dengan istilah pupuler di kalangan akademisi yakni kepemimpinan yang memiliki in- tegritas dan kompetensi dalam jabatannya yang disederhanakan dan dijelaskan Wiranto sebagai berikut:
Huruf S artinya pemimpin harus SADAR bahwa ja- batan itu adalah amanat dari Tuhan Yang Maha Kua- sa, serta adanya mandat dari rakyat. Dalam hal ini pemimpin harus memiliki “keyakinan spiritual yang tinggi” (spiritual value), agar Ia selalu berkiblat ke¬pada kebenaran Illahi serta ingat kepada yang mem¬ber mandate yaitu rakyat. maka ada istilah “Suara Rakyat Suara Tuhan” ( Vox Populi Vox Dei),
Huruf T artinya pemimpin harus TAHU masalah dan TAHU solusinya. Untuk itulah pemimpin ha¬rus memiliki ilmu pengetahuan (knowledge) yang prima untuk dapat mengenali segala permasalahan yang sangat kompleks dan dapat menemukan solusi yang tepat. Ukuran tingkat pengetahuan yang dimi- liki adalah diploma, karena diploma atau ijazah itu adalah hasil proses belajar yang diakui umum. Apa-
8
situlah tempat pengembangan ilmu pengetahuan, namun bukan berarti pelajar dan mahasiswa lalu tidak memahami hak politiknya. Pada saat di kampus mereka belajar ilmu pengetahuan, namun di luar kampus mereka adalah para kader pemimpin masa depan yang harus memahami pilihan politik mereka. Mereka mempunyai hak politik, hak untuk memilih dan dipilih, hak untuk ikut menentukan pilihan yang sesuai dengan keyakinan dan hati nurani mereka.
Sejarah juga telah membuktikan bahwa setiap pergantian orde atau era, selalu pelajar dan ma¬hasiswa mengambil bagian yang sangat penting dalam rangka mewujudkan perubahan itu. Maka akan sangat janggal sebagai pendobrak kebuntuan politik para pemuda tidak paham politik, maka seruan Wiranto ada benarnya yaitu, “Berpolitiklah wahai para pemuda, pelajar, dan mahasiswa, guna menggapai masa depanmu sendiri!”
14
4. Anti Nepotisme Maupun Politik Dinasti
Semua orang tahu bahwa nepotisme itu me- rusak, karena dalam penentuan jabatan lebih mengutamakan perkerabatan ketimbang kompe¬tensi, akibatnya organisasi hancur dari dalam ka¬rena dikelola oleh pemimpin dan pejabat yang tidak bermutu. Maka sangat mengherankan, reformasi yang seharusnya melakukan koreksi terhadap Orde Baru yang dicap sebagai era yang sarat dengan nepotisme, justru terjebak pada pusaran nepotisme yang lingkaran pengaruhnya sudah meluas di semua jajaran birokrasi. Nepotisme sudah bagaikan wabah yang menerkam dan menjangkiti para pejabat yang lupa menggunakan hati nuraninya, sehingga tidak memiliki kekebalan terhadap penyakit tersebut.
Kita harus bersyukur bahwa masih ada orang- orang yang menyadari bahwa nepotisme itu sa- lah, nepotisme itu memalukan dan merugikan. Nepotisme adalah saudara kandungnya kolusi
11
ABRI Manunggal Pertanian, suatu langkah inovasi yang sangat tepat, tatkala kita mengalami krisis pangan pada 1997.
Pada usia genap 50 tahun, Wiranto mendapat kepercayaan tertinggi di bidang militer sebagai Panglima ABRI. Satu bulan kemudian ia juga di¬percaya sebagai Menteri Pertahanan Keamanan dalam Kabinet Pembangunan. Pada posisi inilah ia mengambil keputusan yang sangat berani dan maju dengan melakukan reformasi di tubuh ABRI, melalui pemisahan Polri dari ABRI, membawa militer keluar dari politik praktis, bersikap netral terhadap semua kekuatan politik dan banyak lagi terobosan yang mengejutkan semua pihak di jaman itu.
Kariernya tidak berhenti di situ, pada pemerin- tahan Presiden Abdurrahman Wahid, Wiranto diminta menjadi salah satu formatur pembentukan kabinet baru serta diberi posisi sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam).
18
22
6.   Meniti Karier dengan Modal Ketekunan dan Kegigihan
Napoleon Bonaparte berujar, “Untuk meng- gapai sesuatu memang tidak mudah, namun tidak ada yang tidak mungkin kalau dilakukan dengan sungguh-sungguh.” Wiranto telah membuktikan kata-kata itu. Untuk menduduki posisi orang nomor satu di ABRI/TNI bukan per- kara mudah, namun kenyataannya ia mampu me- lakukannya. Ia bahkan mendapat kepercayaan tu- gas rangkap sebagai Menhankam/Pangab (Menteri Pertahanan Keamanan merangkap Panglima ABRI), jabatan yang hanya di miliki oleh dua jenderal se- lama Republik Indonesia berdiri, yaitu Jenderal M. Jusuf dan Jenderal Wiranto.
Untuk menduduki posisi Panglima ABRI, Wiranto lulusan AMN 1968, menggantikan posisi Jenderal Faisal Tanjung lulusan 1961. Apabila setiap angkatan rata-rata meluluskan 300 per- wira, maka sesungguhnya ia terpilih dari 2.100
15
7.   Mendukung, Mengawal, dan Turut Menyemai Reformasi 98
Ed Aspinal (1998) dalam bukunya The fall of Soeharto, terdapat tulisan yang bunyinya, “Wiranto menahan diri untuk tidak meme- rintahkan penggunaan kekerasan terhadap demonstrasi mahasiswa. Khusus ketika me- masuki saat-saat terakhir, mereka memberi¬kan sinyal dukungan untuk perubahan politik”. Dari kalimat tersebut sudah sangat jelas bahwa Wiranto memang tidak alergi terhadap perubahan. Yang diminta dari para penggerak perubahan adalah perubahan harus dilakukan secara konstitusional, konseptual, dan gradual agar semua tertata de¬ngan baik dan meminimalisasi ongkos politik, serta menghindari jatuhnya korban bagi masyarakat yang tidak berdosa. Untuk itulah Wiranto memberi perintah kepada jajarannya agar dalam mengha- dapi para demonstran menggunakan langkah-lang- kah komunikatif dialogis, persuasif, dan edukatif,
19
mengantarnya menjadi ajudan presiden di tahun 1989 mengalahkan 14 calon terbaik Iainnya dari seluruh jajaran TNI-AD. Setelah hampir empattahun mendampingi Presiden Soeharto, ia mendapat penugasan sebagai Kepala Staf Kodam Jaya, jenderal berbintang satu, yang dijabatnya selama 18 bulan. Kemudian diangkat sebagai Panglima Kodam Jaya dengan pangkat mayor jenderal, mendapat tambahan satu bintang yang diembannya selama
15   bulan. Gebrakan yang dilakukannya adalah menggalakkan GDN (Gerakan Disiplin Nasional).
Selepas jabatan sebagai pangdam, Wiranto dipercaya memegang satuan cadangan strategis Kostrad sebagai panglima dengan pangkat Letnan Jenderal. Sebagai jenderal berbintang tiga Wiranto dipercaya merencanakan dan memimpin Latihan Gabungan terbesar yang pernah dilakukan ABRI dengan lokasi di Natuna, kepulauan yang paling utara Indonesia, dengan hasil yang sangat mem- banggakan. Melalui keberhasilan itulah Wiranto mendapat kepercayaan menjabat Kepala Staf Ang- katan Darat dengan pangkat jenderal berbintang empat. Jabatan yang diembannya hanya selama delapan bulan, dimanfaatkan untuk menggalakkan
17
perwira lulusan AMN dari tujuh angkatan. Bukan sesuatu yang kebetulan, dari catatan prestasinya, setiap pendidikan yang diikutinya, Wiranto selalu menjalaninya dengan sungguh-sunguh, dan menye- lesaikannya dengan predikat lulus terbaik, seperti Kursus Intelijen 1972, Kursus Pembinaan Latihan Satuan 1974, Kursus Lanjutan Perwira 1975, Sekolah Staf dan Komando AD 1982, Lemhannas 1995, sampai dengan S-3 di Universitas Negeri Jakarta. Lalu apa kiat yang digunakannya untuk semua keberhasilan itu? “Orang lain belajar saya belajar, orang lain istirahat saya belajar, orang lain libur saya belajar, maka pada saat orang lain belum tahu saya sudah lebih mengetahui banyak hal,” itu kata Wiranto.
Dengan ketekunan dan kesungguhan dalam melaksanakan tugas, banyak kalangan yang me- ramalkan kariernya akan menanjak dengan cepat, ramalan itu ternyata terbukti. Sebagai perwira pertama lulusan Akademi Militer 1968, karirnya dimulai di daerah Sulawesi Utara yang dijalaninya selama tujuh tahun. Penugasan berikutnya Wiranto menjabat berbagai jabatan di satuan Kostrad maupun di lembaga pendidikan, yang akhirnya
16
serta menghindari cara-cara represif.
Wiranto mengawal reformasi dengan langkah- langkahnya yang selalu terukur. Simak saja komentar Panglima Komando Kawasan Pasifik Amerika Serikat, Laksamana Joseph w. Prueher (21 Mei 1998), “Untuk Jenderal ketahui, kekaguman saya kepada Jenderal begitu besar, karena Jen¬deral telah berhasil menciptakan suatu kondisi dan melaksanakan peralihan kepemimpinan dengan tertib di Indonesia dan dengan cara yang selalu berpijak kepada konstitusi. Padahal sebulan lalu hanya beberapa orang saja yang berpikiran bahwa Jenderal akan mampu rae- laksanakannya.”
Tidak hanya cukup mengawal, Wiranto juga turut menyemai reformasi, terutama dengan lang- kahnya untuk mempertemukan para penggerak perubahan dengan pemerintah melalui dialog Ke- mayoran. Ia paham tanpa adanya komunikasi di atara keduanya, mustahil ada titik temu untuk me- nyelesaikan konflik antara pemerintah dan rakyat. Walaupun tidak sempurna, namun paling tidak dialog Kemayoran telah mendobrak kebuntuan, dialog itu telah mengajari semua pihak untuk
20
26
8.   Meredam Kerusuhan dengan Kearifan
Teori konservatif tentang pembentukan negara menyatakan bahwa unsur terbentuknya negara adalah adanya wilayah, rakyat yang berdaulat serta pemerintahan yang sah. Masalah muncul tatkala antara pemerintah yang sah dengan rakyatnya su¬dah terjadi ketidakserasian yang menjurus kepada konflik terbuka. Dalam hal ini biasanya peranan militer sangat dominan. Memilih peran yang salah dari pihak militer, akan mendorong terjadinya perang saudara (civil war] yang berkepanjangan dan memakan banyak sekali korban. Misalnya yang terjadi di Syria, Mesir, Libya yang kita semua tahu telah menimbulkan korban manusia dan aset negara yang sangat besar. Kecuali itu yang sangat berat adalah terjadinya kemunduran peradaban yang sangat sulit untuk dibangun kembali.
Pada saat krisis nasional 1998, kita benar- benar sangat bersyukur bahwa Jenderal Wiranto
23
9.   Tuduhan yang Sewenang-wenang
Dengan apa yang telah dilakukan jen-deral Wiranto di saat negara dalam keadaan krisis, dan dengan segala pujian serta apresiasi dari berbagai pihak yang diterimanya, masih ada yang menuduh Wiranto terlibat kerusuhan, pembunuhan dan penculikan aktivis 1998. Orang-orang yang melemparkan tuduhan itu benar-benar tidak lagi melihat fakta, dan ingin membangun persepsi lain sesuai skenario yang dikehendaki, namun jauh dari logika dan kenyataan.
Kerusuhan memuncak dan menjurus ke national disorder, dipicu oleh peristiwa Trisakti dengan ter- tembaknya empat mahasiswa pada 12 Mei 1998. Pada 13 Mei 1998, pada saat pemakaman mulailah terjadi kerusuhan yang menjalar ke seluruh wilayah Jakarta serta beberapa kota besar Iainnya. Dengan kepala dingin dan dengan strategi yang tepat, hanya dalam waktu dua hari, tepatnya pada 15 Mei 1998,
27
Itulah sebabnya tokoh sekaliber mantan Dubes AS untuk Indonesia Paul Wolfowitz ikut memberikan apresiasi kepada langkah-langkah Jenderal Wiranto yang dianggapnya sangat arif dan bijak itu.
25
Demikian pula soal penculikan, memang benar kata Ikrar, Wiranto tidak pernah memerintahkan penculikan terhadap aktivis atau mahasiswa, bahkan ia memerintahkan untuk mengusut tuntas apabila ada anggota TNI yang terlibat. Pada akhir- nya itulah yang terjadi, pada saat terbukti terdapat pelibatan satuan elit TNI-AD dalam aksi penculikan, maka tanpa ragu Jenderal Wiranto memerintahkan untuk melakukan tiga hal yaitu; (1) Membebaskan segera para korban penculikan dari sekapan pe- laku penculikan; (2] Membentuk sidang Dewan Kehormatan Perwira (dengan anggota tiga bintang ke atas), untuk memeriksa perwira tinggi yang terlibat; (3] Menggelar pengadilan Mahkamah Militer untuk mengadili perwira menengah ke bawah yang nyata-nyata terlibat. Melalui langkah-langkah panglima tersebut, dan atas saran sidang DKP, Panglima Kostrad atau mantan Danjen Kopassus pada saat penculikan terjadi, diberhentikan dari dinas aktif sebagai anggota TNI-AD, sedangkan melalui Mahmil, para pelaksana penculikan dijatuhi hukuman sesuai dengan kesalahan mereka.
29
sebagai pimpinan tertinggi militer saat itu, mampu melakukan langkah-langkah yang tepat dalam pe- nyelesaian konflik yang sangat mencekam. Seperti yang dinyatakan Paul Wolfowitz (27 Mei 1998) “Orang seperti Jenderal Wiranto memiliki kearifan dalam mengendalikan mahasiswa dan unsur-unsur paling berbahaya dari militer … Indonesia bukanlah Burma atau Cina, dan lapangan Monas tidak menjadi lapangan Tian Anmen yang kedua. Untuk itu rakyat Indonesia dan dunia harus berterima kasih.” Sangat me- narik namun mengandung arti yang dalam yang menggambarkan sikapnya, Wiranto mengatakan, TNI memang dilatih berbagai macam keahlian untuk mencari, mendekati, membunuh atau menawan musuh, serta keahlian Iainnya untuk memenangkan pertempuran dan peperangan. Yang tidak dilatih dan diajarkan adalah ba- gaimana menembaki rakyatnya sendiri.”
Wiranto memang konsisten dengan kata- katanya itu, menghadapi konflik antara rakyat dan pemerintah, militer tidak berpihak kepada siapapun, akan tetapi mencari titik temu dengan cara kompromis, dialogis secara bermartabat.
24
Jenderal Wiranto dapat mengendalikan situasi berangsur-angsur pulih kembali. Bandingkan de¬ngan negara lain yang mengalami keadaan serupa di Phillipina, Thailand, Mesir, dan Syria, berapa lama mereka mampu meredam kerusuhan dan berapa banyak korban berjatuhan karena ditembaki aparat keamanan.
Soal terbunuhnya mahasiswa, mari kita simak kesaksian beberapa tokoh antara lain Ikrar Nusa Bhakti (1998), dalam The Fall of Soeharto, Geoff Forrester & R.J. May (edj, “Walaupun situasi di Indonesia sejak awal Maret 1998 berada dalam siaga satu, menembaki mahasiswa de¬ngan peluru tajam bukanlah kebijakan resmi Jenderal Wiranto. Wiranto senantiasa meme-rintahkan aparat keamanan agar sedapat mungkin menghindari penggunaan kekerasan. Selain itu, dia tidak pernah memerintahkan penculikan terhadap aktivis mahasiswa atau pengritik pemerintah.” Pendapat Ikrar memang benar, kalau menembaki mahasiswa merupakan penntah Panglima ABRI, yang mati pasti ratusan bahkan ribuan, karena prajurit dibenarkan untuk melakukan penembakan.
28
Wiranto sangat mungkin melakukan manuver untuk berkuasa di Indonesia. Namun apa yang terjadi? Pada rapat pimpinan di Mabes ABRI, yang mem- bahas perkembangan terakhir situasi na-sional, termasuk Inpres No. 16 tersebut, Kepala Staf Sosial Politik Letjen Susilo Bambang Yudhoyono bertanya kepadanya; “Apakah panglima akan mengambil alih pimpinan nasional?” dengan tegas Wiranto menjawab; “Tidak! Kita akan menghantarkan pergantian kekuasaan secara konstitusional.”
Oleh karena itu banyak tokoh yang kemudian mengomentari peristiwa yang termasuk langka ini, antara lain Anthony Spaeth, dalam General Wiranto is the Man to Watch (majalah Time edisi 1 Juni 1998) mengatakan, “Fakta yang menunjukkan bahwa ia tidak mau mengambil jabatan nomor satu memperlihatkan jiwa be- sarnya dan loyalitasnya. Dengan mendukung suksesi yang tertib dan konstitusional, Wiranto yang berpembawaan sangat tenang itu, telah menempatkan posisinya pada posisi kuat.”
Apa yang melandasi Wiranto mengambil keputusan seperti itu? Kalau ia mengambil alih kekuasaan, ia sangat sadar bahwa yang dilakukan 34
10.  Kepergian ke Malang yang Diributkan
Sampai sekarang masih ada saja tokoh yang terus menerus mempermasalahkan kepergian Panglima ABRI ke Malang pada 14 Mei 1998, de¬ngan tuduhan; “Sengaja mengosongkan Jakarta dari perwira tinggi, pada saat ada kerusuhan yang melanda ibukota.” Walaupun telah berkali-kali Wiranto menjelaskan tentang peristiwa tersebut, namun rupanya si penghasut masih terus menerus melontarkan hasutan yang sangat tendensius itu. Oleh karena itu perlu sekali lagi kita kupas masalah itu agar masyarakat tidak mendapat informasi yang salah.
Secara sangat sederhana argumentasi keper¬gian panglima ke Malang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan pengosongan Ibukota. Penjelasannya adalah sebagai berikut: (1) Kunjungan dinas panglima bukan acara yang mendadak, namun sudah diprogramkan cukup
31
justru sering mengatakan bahwa ia hidup di tiga era, yaitu lahir mengikuti pendidikan SD sampai dengan SMA di era Orde Lama, selanjutnya meniti karier militer di Orde Baru, dan ikut mengawal Orde Reformasi. Ia berpendapat bahwa kita tidak perlu munafik, setiap orang pasti pernah mendapat manfaat dari setiap era dalam sejarah kebangsaan kita, apakah pendidikan, fasilitas dan kehidupan Iainnya. Jadi tidak perlu saling menuding seseorang termasuk Orde Lama, Orde Baru atau Orde Iainnya. Setiap jaman atau orde pemerintahan siapapun adalah bagian dari sejarah yang pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Kita ambil kelebihan dan membuang keburukan dari setiap Orde itu. Makanya Wiranto heran kalau melihat ada tokoh yang lari ke sana ke mari dan bersembunyi, karena takut disebut bagian dari Orde Baru.
Bagi Wiranto mendampingi Presiden Soeharto merupakan berkah dan memberikan manfaat untuk dapat belajar teori dan praktek tentang bagaima- na mengatur suatu negara sebesar Indonesia, dari seorang presiden yang memerintah selama tiga dasawarsa. Bersama Presiden BJ. Habibie, Jenderal Wiranto langsung ikut menangani dan mendisain
38
bukan menyelesaikan masalah, namun justru menyulut masalah baru yang lebih ruwet dan ber- bahaya. Prediksi kemungkinan yang akan terjadi adalah: (1) Perlawanan dari aktivis akan terus berlanjut karena Wiranto dianggap kelanjutan dari pemerintahan Orde Baru, maka ia akan memperhadapkan rakyat dengan militer, perang saudara sangat mungkin terjadi, seperti halnya kejadian di Mesir saat ini (2013); (2) Rejim militer dengan alasan apapun belum dapat diterima oleh dunia internasional, maka bantuan untuk recovery ekonomi akan sulit didapat, chaos akan ber-kembang ke seluruh wilayah. Dalam hal ini kita sepakat dengan pemikiran Jenderal Wiranto, bahwa kalau kekuasaan diambil, maka akibatnya hanya akan menyengsarakan rakyat, lalu apa manfaat dari kekuasaan itu? Maka apa komentar pengamat politik kala itu, Andi Malarangeng (2001), dalam buku Orang Berkata tentang Wiranto, “Sungguh tak dinyana, Wiranto sama sekali tidak memanfaatkan situasi yang se- benarnya sudah dalam genggamannya itu. Dalam kamus hidupnya tidak pernah terbersit keinginan untuk kudeta, walaupun keadaan
35
11.  Meminggirkan Peluang untuk Berkuasa
emang agak aneh, semua orang berlomba IV L mencari peluang untuk mendapatkan ke¬kuasaan, Wiranto justru mengabaikan peluang untuk berkuasa di Republik ini, yang sudah digenggamnya. Tepatnya menjelang Presiden Soeharto menyatakan berhenti sebagai Presiden pada 21 Mei 1998, Wiranto selaku Menhankam/ Pangab mendapat Surat Instruksi Presiden No. 16/1998 tertanggal 18 Mei 1998, tentang pe- ngangkatannya sebagai Panglima Komando Ke- waspadaan dan Keselamatan Nasional. Dengan surat tersebut, Wiranto memiliki kewenangan untuk: (1) Menentukan kebijakan tingkat nasional, (2) Menetralisasi berbagai sumber kerusuhan dan siapapun yang mendukungnya, serta (3) Semua menteri dan pejabat pusat dan daerah harus membantu misi panglima tersebut. Dengan ke-wenangan yang begitu kuat, sesungguhnya Jenderal
33
lama dan atas permintaan Panglima Kostrad, yaitu menjadi inspektur upacara serah terima tanggung jawab PPRC (Pasukan Pemukul Reaksi Cepat), yang setiap setengah tahun ada pergantian kesiagaan antara Divisi-1 dan Divisi-2 Kostrad; (2) Pengamanan Ibukota secara fungsional telah di- pertanggungjawabkan kepada Pangdam Jaya dan Kapolda Metro, dan kedua perwira tinggi tersebut tidak ikut ke Malang; (3) Istilah mengosongkan Ibukota dari perwira tinggi, tidak ada relevansi- nya dengan pengamanan di lapangan, karena yang bertugas adalah Satuan Setingkat Kompi (hanya perwira pertama ke bawah) yang sama sekali tidak ada perwira tingginya; (4) Dengan alat komunikasi mutakhir keberadaan panglima di mana saja selalu dapat berhubungan dengan seluruh komando ja- jaran TNI; (5) Kepergian panglima ke Malang benar- benar hanya dalam rangka upacara serah terima PPRC di kompleks lapangan udara milikTNI-AU, dan tidak ada acara Iainnya, sehingga pagi berangkat, dan siang harinya telah kembali ke Jakarta.
32
12.  Dipercaya Mendampingi Tiga Presiden
Dengan Presiden Soeharto, hubungan Wiranto cukup dekat. Hampir empat tahun dijalaninya sebagai ajudan presiden, selanjutnya sebagai Panglima ABRI merangkap Menteri Pertahanan dan Keamanan selama tiga bulan menjelang kejatuhan pemerintahan Orde Baru. Selain daripada itu, Wiranto juga diserahi Presiden Soeharto untuk memimpin penulisan ten-tang pikiran dan tindakan presiden pada masa-masa akhir jabatannya1. Dengan posisi itulah jenderal Wiranto yang hanya menjabat selama tiga bulan, selalu dicap sebagai tokoh Orde Baru yang sangat dekat dengan Soeharto. Terhadap tuduhan se- macam itu, Wiranto tidak pernah membantah, atau mencoba bersembunyi dari realitas itu. la
1    Tugas penulisan tentang Presiden Soeharto telah dirampungkannya dan diberi judul “7 tahun Menggali Pemikiran dan Tindakan Pak Harto” (2013)
memungkinkan.” Tidak ketinggalan, seorang tokoh nasional AM. Fatwa ikut memberikan tanggapan, “Semua orang tahu bahwa Wiranto punya banyak kesempatan untuk melakukan kudeta saat negara ini berada dalam suasana kacau. Apalagi sebagai seorang yang telah berperan dalam proses reformasi. Tetapi itulah komitmen seorang prajurit yang harus kita hargai. Ini tentu karena niat baiknya.”
37
13.  Mengapa Perubahan Belum Hadir dalam Kehidupan Kita?
Dari pendekatan hukum alam, secara kodrati perubahan adalah keharusan, kepastian yang tidak dapat dicegah dihindari atau ditolak. Tidak ada sesuatu yang tidak berubah, termasuk Indonesia sebagai suatu negara, tak luput dari perubahan itu. Dalam kaitan tujuan pembentukan negara, perubahan itu adalah untuk membangun Indonesia yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Dalam kaitan itu, misi yang diemban pemerintah cukup jelas yaitu melindungi seluruh warganegara dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Sekarang masalahnya, apakah pembangun- an nasional dan hasil yang dicapai telah menuju sasaran yang telah ditetapkan? Dari berbagai pendapat yang diserap dari masyarakat, ternyata mereka menyatakan bahwa perubahan belum hadir dalam ke-hidupan kebangsaan kita. Masyarakat
41
demokratisasi. Ia ikut serta menyusun konsep re¬formasi Indonesia pasca krisis, meletakkan dasar- dasar demokrasi yang tepat bagi kesinambungan pembangunan Indonesia. Masyarakat perlu tahu bahwa suksesnya Sidang Istimewa MPR 1999 yang merupakan pintu masuk menuju demokrasi yang sesungguhnya, serta keberhasilan penyelengga- raan Pemilu 1999, adalah berkat pengorbanan dan kesadaran Wiranto untuk tidak mau terlibat sebagai calon presiden atau wakil presiden dan sikap tegasnya untuk menarik ABRI dari politik praktis dan bersikap netral dalam per-politikan Indonesia.
Mendampingi Presiden Abdurrahman Wahid, memberikan pelajaran tersendiri bagi Wiranto, bahwa memilih seorang presiden yang mem- peroleh mandat mempertaruhkan nasib 240 juta orang tidak dapat dilakukan dengan sembarangan. Persyaratan kesehatan jasmani dan rohani me¬mang mutlak dibutuhkan, di samping persyaratan kompetensi berupa pengalaman dalam rangka memahami masalah kenegaraan, memiliki pe¬ngetahuan yang luas tentang berbagai hal sebagai modal memahami kondisi global, regional dan lokal yang pada akhirnya mampu menentukan solusi
39
15.  Dua Kali Mundur Sebagai Calon Wakil Presiden
Sudah banyak yang melupakan peristiwa di pertengahan tahun 1999 pasca krisis, di mana pemerintahan presiden BJ. Habibie melakukan reformasi total dan konsolidasi birokrasi melalui Sidang Istimewa MPR, terutama untuk memper- cepat proses pemilihan presiden dan wakil presiden secara demokratis. Di kala itu santer bahwa Men- hankam/Pangab dinominasikan sebagai calon Wakil Presiden mendampingi Presiden BJ. Habibie. Lalu apa yang dilakukannya? Wiranto dengan seragam lengkap sebagai Panglima ABRI, didampingi para Kepala Staf Angkatan dan Kepala Staf Teritorial, tampil di depan para pemirsa TVRI, dan dengan sangat tenang dan pasti, ia menyampaikan sikap- nya kepada seluruh rakyat Indonesia; “… saya menyatakan tidak ikut pencalonan presiden atau wakil presiden. Saya memilih untuk me- ngamankan proses pemilihan, daripada ikut
45
14.  Ambisius, Pejuang, atau Idealis?
R t60ri tentan§ Perbedaan antara am- ,81 dan ambisius, namun kalau disintesakan
manusia dalah ^ °leh setiaP
anuszayangmengarahkan dirinya untukmencapai
-suatu yang diharapkannya dengan cara-cara yang
wa,ar Sedangkan amb,s,us adalah seorang yang
memUikicita-cita sangat berleb/han. dan tldaksesual
dengan kemampuan yang ada padanya, sehingga
I §an”seSan untuk menghalalkan segala cara Dengan berapa tali mendapa( 
berkuasa, natnun tidak dlmanfaatkannya dengan pemmbangan kepatuhannya tarhadap konsdtus,, moral dan kemaslahatan, jelas bahwa Wlnmto
itutna 7s 8°’08an amb’SlUS’ °’eh ^ Wakil Pre d^iT”8 d,katakan seorang mantan
adalah Z r ” (2001)’ ‘ Wlra”to adalah sosok yang amanah „ b m
“rr,,sasi tai ^
erkuasa walaupun keadaan memungkinkan
43
adil makmur belum mereka rasakan. Banyak hal yang kontradiktif dalam kehidupan kita sebagai bangsa. Katanya negara kita kaya raya, namun ternyata rakyat miskin masih banyak, hutang menumpuk, bahkan masuk katagori peringatan sebagai negara gagal. Di mana letak kesalahannya. Menurut Daft (2005:659) dalam bukunya The Leadership Experience mengatakan, “Change is the leadership responsibility”, perubahan ada ah tanggungjawab kepemimpinan. Artinya kalau perubahan belum hadir, itu karena masalah pe¬mimpin, kepemimpinan. Oleh sebab itu memilih pemimpin ke depan harus benar-benar pemimpin yang memiliki kompetensi dan berjiwa pendobrak. Untuk itu memilih pemimpin bukan dengan cara untung-untungan atau asal-asalan. Pemilihan harus berbasis pengalaman, pengetahuan dan bakat sebagai pemimpin perubahan yang beram mengambil risiko dan selalu berorientasi untuk mengubah nasib bangsanya menjadi lebih baik lagi.
42
dalam proses pemilihan. Hak politik yang saya miliki, akan saya laksanakan apabila suatu saat rakyat benar-benar menghendaki.”
Dalam kasus yang pertama ini kita bisa melihat bahwa rasa tanggung jawab Wiranto sebagai Menhankam/Pangab lebih kuat ketimbang am- bisinya untuk menjadi wakil presiden. la telah mempertimbangkan melalui analisisnya bahwa pada situasi yang masih kacau saat itu, pencalonan dirinya akan menuai permasalahan yang akan ber- dampak pada memburuknya situasi keamanan na¬sional yang membutuhkan stabilitas. Maka tidaklah berlebihan apabila Taufik Abdullah (2001), dalam buku Orang Berkata tentang Wiranto mengatakan, “Saya simpatik padanya sejauh pengamatan saya secara pribadi. Wiranto me¬miliki kemampuan artikulasi yang tinggi. la bisa mengkatagorikan masalah secara tuntas dan
tepat.”
Kesempatan kedua, berulang lagi, tatkala Gus Dur terpilih sebagai Presiden dalam sidang MPR di akhir tahun 1999, dengan dukungan partai koalisi. jauh hari sebelum peristiwa itu terjadi, atas saran seorang ulama dari Jawa Timur yang kala itu sangat
46
yang tepat bagi kemaslahatan bangsanya.
Dari pengalaman pendampingan tersebut apa sesungguhnya yang diperoleh Wiranto? Bahwa dari pendekatan reformasi, Wiranto merupakan saksi, pelaku sekaligus ikut meletakkan dasar- dasar demokrasi Indonesia, dan tentunya ia sangat paham apabila terdapat penyimpangan. Dari pen¬dekatan kepemimpinan, Wiranto telah menyerap kepemimpinan dari tiga presiden dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dari pendekatan manajemen krisis, Wiranto telah teruji mengambil langkah-langkah yang cepat dan tepat, sehingga dapat mengantarkan bangsa Indonesia melalui krisis 1998 dengan aman, dan tetap menjaga eksistensi Indonesia sebagai sebuah negara.
40
untuk melakukannya.”
Beberapa kali dalam menjelaskan langkahnya, Wiranto tetap konsisten bahwa yang dilakukannya adalah keterpanggilan. Lebih jauh ia mengatakan, sebenarnya apabila keadaan sudah sesuai dengan cita-cita reformasi, atau paling tidak sudah pada rel yang benar-benar mengarah kepada pencapai- an masyarakat yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur, maka Wiranto sebagai militer profesional pasti tidak tertarik untuk masuk ke wilayah politik. Namun ia sebagai saksi, pelaku serta pengawal lahirnya reformasi 1998, merasa sangat gundah dan geram tatkala reformasi menjadi permainan politik, reformasi dijadikan eksperimen kepemimpinan, reformasi menjadi ladang penjarahan kekayaan nasional yang tak terkendali, reformasi dijadikan topeng keserakahan manusia. Maka sesungguhnya sangatlah wajar apabila ia merasa terpanggil untuk ikut membangun idealisme kehidupan demokrasi yang pernah digagasnya bersama tokoh-tokoh na¬sional di awal reformasi.
44
secara internasional. Tanpa upaya itu mustahil jaja pendapat sukses dan tidak akan ada negara Timor Leste merdeka.
Menjelang Pemilu 1999, tatkala kepoli-sian kekurangan tenaga pengamanan pemilu, Wiranto dengan gagasannya membentuk semacam Satuan Pembantu Polisi yang sering disebut Kamra (Keamanan Rakyat), yang direkrut langsung dari masyarakat. Di satu sisi berperan untuk membantu polisi dalam rangka pengamanan Pemilu dan ke- tertiban umum, di sisi lain memberikan lapangan pekerjaan kepada ribuan penganggur potensial yang saat itu merupakan permasalahan tersendiri. Dengan idenya itu Pemilu 1999 dapat dikawal dengan sangat baik dan boleh dikatakan pemilu yang paling demokratis sepanjang sejarah Pemilu di indonesia.
Masih di tahun 1999, Jenderal Wiranto lagi-lagi membuat kejutan dengan melakukan reformasi internal di tubuh ABRI. Di saat orang menyangsikan netralitas TNI/Polri dalam Pemilu, setelah se¬lama hampir tiga dasawarsa berpihak kepada partai penguasa, Wiranto berhasil membuktikan bahwa TNI/Polri bersikap netral, tidak masuk dalam kegiatan politik praktis. Sikap itulah yang turut mengambil bagian dari suksesnya pemilu pertama di awal reformasi. Setelah itu banyak 54
Disiplin Nasional
dihormati Gus Dur, terjadi kesepakatan antara Gus Dur dengan Jenderal Wiranto untuk tetap menyatu, bersama-sama apabila mendapatkan kepercayaan dari rakyat. Kelanjutan dari niat tersebut, tatkala Gus Dur benar-benar terpilih sebagai Presiden, maka beliau menelepon Jenderal Wiranto untuk mendampingi beliau sebagai wakil presiden, dan atas permintaan itulah Wiranto kemudian men- calonkan dirinya sebagai wakil presiden untuk bersaing dengan Akbar Tanjung dan Megawati yang baru saja dikalahkan Gus Dur dalam pemilihan presiden.
Malam hari sebelum pemilihan wakil presiden dilangsungkan dalam sidang MPR, Gus Dur me¬nelepon Jenderal Wiranto, untuk membatalkan kesepakatan dengan Wiranto, sehubungan dengan terjadinya amuk massa di Bali dan Solo dari ke- lompok politik tertentu yang melakukan perusak- an dan pembakaran sebagai reaksi atas kekalahan pemilihan presiden yang baru saja dilangsungkan. Wiranto menyatakan persetujuannya, dan mendu- kung niat Gus Dur, karena kecuali hal itu merupa¬kan hak perogratif presiden, juga menyangkut
meliharaan keamanan nasional. Maka setelah
47
melakukan pertemuan di Wisma A. Yani, yang membuahkan kesepahaman untuk melanjutkan proses reformasi dengan damai. Pertemuan itu le¬bih dikenal dengan sebutan pertemuan Ciganjur Plus. Langkah-langkah semacam inilah yang me- ngundang komentar Rizal Ramli (2001) dari Econit yang mengatakan, “Keteguhan Pimpinan TNI terhadap prinsip konstitusionalitas itulah yang memungkinkan transisi Indonesia dari negara otoriter ke negara demokratis…”
Walaupun memimpin organisasi militer yang biasanya sangat disiplin dan keras, namun sejatinya Wiranto selalu menghindari kekerasan yang hanya mengorbankan rakyat kebanyakan. Pada saat rakyat Aceh merasa mendapatkan ketidakadilan dengan adanya operasi militer di Aceh sejak tahun 1987, dengan sebutan Operasi Jaring Merah yang telah menimbulkan banyak korban, Wiranto terbang ke Lhok Seumawe, menemui tokoh Aceh dan mengu- mumkan pencabutan status Aceh sebagai DOM (Daerah Operasi Militer] sejak Agustus 1999, dan menarik semua pasukan dari luar Aceh kembali ke basis masing-masing.
50
Begitu pula di Sambas pertempuran antarsuku, Wiranto dengan cepat mendatanginya dan mela¬kukan upaya perdamaian. Masih pada tahun yang sama di Maluku terjadi pertempuran antarkelompok masyarakat, Wiranto mendamaikan mereka dengan mengirimkan para perwira menengah dan tinggi asal Maluku untuk menemui saudara-saudaranya dan mendorong mereka untuk berdamai. Panglima mengatakan bahwa tidak akan menerima mereka itu sebelum Maluku damai. Dua bulan kemudian Wiranto datang ke Ambon, melakukan upacara adat sebagai simbol kembalinya budaya Slam Sarane2 sambil makan Patita sebagai isyarat bahwa perdamaian telah terwujud dan masyarakat akan kembali hidup dengan rukun dan damai.
Masih pada tahun yang sama Wiranto juga mendamaikan dua kelompok besar di Timor Timur yang selama 23 tahun bertempur saling menye- rang yakni antara kelompok Pro Integrasi dengan kelompokAnti Integrasi. Mereka bisa diajak Wiranto untuk menandatangani naskah perdamaian di depan masyarakat dan Uskup serta ditayangkan
2    Istilah bahwa antara pemeluk Islam dan Nasrani selalu hidup rukun, bergandengan tangan.
51
17.  Berbagai Terobosan yang Mengejutkan
Pada saat menjabat Panglima Kodam Jaya 1995, Wiranto menggalakkan GDN (Gerakan Disiplin Nasional), suatu ajakan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk memulai kehidupan yang penuh dengan budaya tepat waktu, budaya tertib (memetuhi hukum dan aturan), serta budaya bersih. Gerakannya itu mendapat sambutan cukup bagus, bahkan sudah dapat dieksposekan di depan sidang kabinet serta mendapat restu presiden.
Di tahun 1997 kembali Wiranto menggalakkan ABRI Manungal Pertanian, dengan mengerahkan segenap anggota militer untuk memanfaatkan lahan-lahan tidur di seluruh Indonesia, pada saat Indonesia menghadapi krisis pangan. Sayang sekali gerakan itu tidak berlanjut, apabila diteruskan barangkali wajah Indonesia akan lebih baik dari- pada sekarang ini.
53
Wiranto mengumpulkan pejabat teras Mabes TNI, ia memutuskan pengunduran diri dari pencalonan, yang pernyataannya dibacakan oleh pimpinan sidang, dalam sidang paripurna MPR. Setelah itu Megawati terpilih secara aklamasi sebagai wakil presiden mendampingi Presiden Abdurrahman Wahid.
Berikut ini cuplikan dari surat pengun¬duran diri Wiranto, “… didasari kecintaan yang mendalam kepada Negara dan Bangsa Indonesia sebagaimana telah saya sampaikan dalam 4 (empat) butir pernyataan saya pada hari Senin tanggal 18 Oktober 1999 yang lalu, serta dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada Fraksi dan Kelompok Anggota MPR RI yang telah mencalonkan saya, dengan ini saya menyatakan tidak bersedia dan mengundurkan diri dari pencalonan sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia untuk masa jabatan 1999- 2004.”
48
16.  Juru Damai yang Kurang Publikasi
T^ i saat Indonesia mengalami krisis 1998, suhu politik dan keamanan memanas, setiap saat bisa meledak mengarah kepada kerusuhan masal ke seluruh wilayah. Menghadapi kondisi seperti itu, Jenderal Wiranto dengan ketenangan dan ke- sabarannya terus mengajak dialog denga para aktivis dan reformis; “Ayo dialog, ayo bicara, ayo kita cari jalan kompromi.” Ajakan itu akhirnya membuahkan dialog antara pemerintah dengan para tokoh kam-pus dan elemen masyarakat Iainnya yang lebih dikenal dengan Dialog Kemayoran.
Di pasca krisis, pemerintahan Presiden BJ. Habibie sedang melakukan konsolidasi demokrasi, yang masih diwarnai hubungan yang kurang har- moms dengan pera tokoh yang tergabung dalam kelompok Ciganjur antara lain Gus Dur, Megawati, Nurchohs, Sri Sultan HB X, dan sebagainya. Dengan nalurinya sendiri, Wiranto menengahi dengan
49
Menjelang Pemilu 1999, tatkala kepoli-sian kekurangan tenaga pengamanan pemilu, Wiranto dengan gagasannya membentuk semacam Satuan Pembantu Polisi yang sering disebut Kamra (Keamanan Rakyat), yang direkrut langsung dari masyarakat. Di satu sisi berperan untuk membantu polisi dalam rangka pengamanan Pemilu dan ke- tertiban umum, di sisi lain memberikan lapangan pekerjaan kepada ribuan penganggur potensial yang saat itu merupakan permasalahan tersendiri. Dengan idenya itu Pemilu 1999 dapat dikawal dengan sangat baik dan boleh dikatakan pemilu yang paling demokratis sepanjang sejarah Pemilu di indonesia.
Masih di tahun 1999, Jenderal Wiranto lagi-lagi membuat kejutan dengan melakukan reformasi internal di tubuh ABRI. Di saat orang menyangsikan netralitas TNI/Polri dalam Pemilu, setelah se¬lama hampir tiga dasawarsa berpihak kepada partai penguasa, Wiranto berhasil membuktikan bahwa TNI/Polri bersikap netral, tidak masuk dalam kegiatan politik praktis. Sikap itulah yang turut mengambil bagian dari suksesnya pemilu pertama di awal reformasi. Setelah itu banyak
54
secara internasional. Tanpa upaya itu mustahil jajak pendapat sukses dan tidak akan ada negara Timor Leste merdeka.
Gerakan Disiplin Nasional
dihormati Gus Dur, terjadi kesepakatan antara Gus
ur dengan Jenderal Wiranto untuk tetap menyatu,
bersama-sama apabila mendapatkan kepercayaan
dan rakyat. Kelanjutan dari niat tersebut, tatkala
Gus Dur benar-benar terpilih sebagai Presiden
maka beliau menelepon Jenderal Wiranto untuk
mendampingi beliau sebagai wakil presiden, dan
atas permintaan itulah Wiranto kemudian men-
calonkan dirinya sebagai wakil presiden untuk
bersaing dengan Akbar Tanjung dan Megawati yang
baru sa,a dikalahkan Gus Dur dalam pemilihan presiden.
Malam hari sebelum pemilihan wakil presiden dilangsungkan dalam sidang MPR, Gus Dur me¬nelepon Jenderal Wiranto, untuk membatalkan kesepakatan dengan Wiranto, sehubungan dengan terjadinya amuk massa di Bali dan Solo dari ke¬lompok politik tertentu yang melakukan perusak- an dan pembakaran sebagai reaksi atas kekalahan pemilihan presiden yang baru saja dilangsungkan.
iranto menyatakan persetujuannya, dan mendu- kung niat Gus Dur, karena kecuali hal itu merupa¬kan hak perogratif presiden, juga menyangkut mehharaan keamanan nasional. Maka setelah
melakukan pertemuan di Wisma A. Yani, yang membuahkan kesepahaman untuk melanjutkan proses reformasi dengan damai. Pertemuan itu le¬bih dikenal dengan sebutan pertemuan Ciganjur Plus. Langkah-langkah semacam inilah yang me- ngundang komentar Rizal Ramli (2001) dari Econit yang mengatakan, “Keteguhan Pimpinan TNI terhadap prinsip konstitusionalitas itulah yang memungkinkan transisi Indonesia dari negara otoriter ke negara demokratis…”
Walaupun memimpin organisasi militer yang biasanya sangat disiplin dan keras, namun sejatinya Wiranto selalu menghindari kekerasan yang hanya mengorbankan rakyat kebanyakan. Pada saat rakyat Aceh merasa mendapatkan ketidakadilan dengan adanya operasi militer di Aceh sejak tahun 1987, dengan sebutan Operasi Jaring Merah yang telah menimbulkan banyak korban, Wiranto terbang ke Lh°k Seumawe, menemui tokoh Aceh dan mengu- mumkan pencabutan status Aceh sebagai DOM (Daerah Operasi Militer) sejak Agustus 1999, dan menarik semua pasukan dari luar Aceh kembali ke basis masing-masing.
47
50
pernah memerintahkan penculikan terhadap aktivis mahasiswa atau pengritik pemerintah”
59
misalnya penculikan, penyekapan, pembunuhan, perbudakan, pengusiran, pembakaran dsb). Contoh yang paling jelas adalah yang terjadi pada masa lalu di Jerman yaitu pembunuhan masal terhadap kaum Yahudi, penyerangan warga tertentu di Bosnia, pe- rang suku di Rwanda di mana korbannya mencapai ribuan manusia.
Oleh sebab itu sungguh sangat aneh dan sulit diterima sebagai sebuah realitas kalau beberapa kejadian di masa lalu, misalnya tertembaknya ma¬hasiswa Trisakti, korban unjuk rasa di Semanggi, terjadinya penculikan beberapa aktivis, yang kesemuanya telah dilakukan proses peradilan, masih saja di katagorikan sebagai Pelanggaran HAM Berat. Dalam hal ini bisa disimak pendapat Ikrar Nusa Bhakti (1998) dalam The Fall of Soeharto, geoff Forrester & R.J. May (ed) yang bunyinya, “Walaupun situasi di Indonesia sejak awal Maret 1998 berada dalam siaga satu, menembaki mahasiswa dengan peluru tajam bukanlah kebijakan resmi Jenderal Wiranto. Wiranto senantiasa memerintahkan aparat keamanan agar sedapat mungkin menghindari penggunaan kekerasan. Selain itu, dia tidak 58
19.  Minta Berhenti Sebagai Menteri
Kedengaran aneh, banyak orang berebut ladi menteri, ada yang sudah jadi menteri malah minta berhenti, namun memang begitulah kenyataannya. Di tahun 2000 saat Wiranto men¬duduki jabatan sebagai Menkopolkam (Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan) kabinet Presiden Abdurrahman Wahid, ia mengundurkan din dan posisi tersebut karena keyakinannya bah¬wa posisinya tidak lagi memberikan kemaslaha- tan bagi kinerja kabinet pemerintahan Presiden Abdurrahan Wahid. Lebih jelasnya simak saja cuphkan surat pengunduran diri Wiranto kepada Presiden sebagai berikut:”… saya telah sampai pada kesadaran tentang tiadanya keinginan yang kuat dan p,hak Kejaksaan Agung untuk memenuhi kesepakatan-kesepakatan yang diusulkannya sendiri di hadapan Bapak Presiden. Karena itu untuk menghindari terjerumusnya institu- si Kementrian Koordinator Politik dan Ke-
61
sekali langkahnya yang tidak pernah diperkirakan banyak orang dalam rangka mereformasi ABRI antara lain; (1) Menghapuskan Dwi Fungsi ABRI; (2) Memisahkan Polri dari ABRI; (3) Membubarkan tugas kekaryaan TNI/Polri; (4) Mengurangi secara bertahap keterwakilan TNI/Polri di DPR/MPR Dari langkah-langkahnya itulah mengundang komentar Kompas, edisi 28 Mei 1998, “Sebagai seorang sarjana hukum, Pangab dinilai memikirkan secara serius tentang kehidupan demokrasi. Sudah lama ia meminta para peneliti ABRI untuk menyiapkan reformasi politik yang di- butuhkan Indonesia.”
55
60
18.  Apa yang Dimaksud Pelanggaran HAM Berat?
Banyak orang dengan enteng menuduh sese- orang melakukan Pelanggaran HAM (hak asasi manusia) Berat tanpa memahami apa definisi dan risiko hukumnya. Masih banyak yang tidak paham, perbedaan atau bahkan mencampur adukkan “Pelanggaran HAM Biasa” dengan “Pelanggaran HAM Berat”. Kalau kita mengganggu hak asasi orang lain, misalnya untuk berbicara, menggu¬nakan jalan umum, atau memukul orang di jalan, itu semua adalah pelanggaran Hak Asasi Manusia biasa (bukan berat). Namun bicara pelanggaran Hak Asasi Manusia Berat, kita sudah memasuki wilayah kejahatan yang dilakukan secara sistema- tis (direncanakan), berdampak meluas (biasanya kawasan negara atau bagian dari negara), keja¬hatan itu menyangkut Genocida (penghapusan satu golongan tertentu) atau Crimes against Humanity (kejahatan terhadap kemanusiaan,
57
                        JIUIUJ IVCJJC
mimpinannya secara berlarut-larut, dan berto- lak dari pemahaman yang mendalam terhadap nilai moral kebangsaan dan keprajuritan, saya perlu mengambil langkah untuk membulat- kan kembali kinerja Kabinet Persatuan Na¬sional yang sempat terganggu selama saya tidak aktif, yakni dengan berhenti dari jabatan Menkopolkam Indonesia. Surat ini adalah per- mohonan resmi yang saya ajukan kepada Bapak untuk berhenti dari jabatan tersebut…”
Setelah berhenti dari jabatannya tersebut, Wiranto merasa sangat lega karena telah terbebas dari berbagai intrik-intrik yang menurutnya akan sangat mengganggu kinerja pemerintahan Pre¬siden Abdurrahman Wahid. Namun sebaliknya, Wiranto juga sangat khawatir, bahwa setelah ia keluar dari pemerintahan akan tidak banyak orang atau pejabat yang berani mengatakan “tidak atau jangan” kepada Presiden, yang kita pahami bahwa beliau tidak lagi bisa membaca dan melihat secara langsung. Kekhawatiran itu akhirnya terbukti, ka¬rena beberapa bulan setelah itu Presiden jatuh.
62
56
Indonesia] selama dua periode (8 tahun). Awal kepemimpinannya untuk menembus juara Asia saja sudah kerepotan. Namun dengan kegigihan dan semangat tak kenal lelah, pada akhirnya di periode kedua kepemimpinnya pasukan Bridge Indonesia sudah sangat disegani di arena internasional. Di Olimpiade Bridge New Mexico, Indonesia sudah masuk empat besar dunia. Kejuaraan Dunia di Yunani pada posisi runner up dibawah juara dunia Prancis. Akhirnya pada 2000, di Swiss tim Indonesia berhasil menjadi juara dunia dengan membabat tim terkuat dunia seperti dari AS, Prancis, Itali, Polandia, Belanda, China. Dari keberhasilan tersebut apa komentar Wiranto, “Saya benar-benar merasa sangat bahagia, telah berhasil membuktikan bahwa kecerdasan otak kita ternyata mampu mengungguli kecerdasan otak orang-orang dari negara maju yang seakan tak terkalahkan.”
Dari prestasinya itu sangatlah wajar apabila kemudian Wiranto dinobatkan sebagai pembina olahraga terbaik dari Menteri Olahraga maupun dari Koni Pusat. Lalu apa kiat Wiranto dalam membina olahraga nasional? “Menjadi pengurus olahraga di Indonesia syarat pertama Anda harus 66
68
masalah spiritual. Yang menarik adalah mengapa kedua tokoh yang dahulu diperhadapkan karena posisi formal yang disandangnya, kemudian bisa menjadi sahabat? Ternyata jawabannya mudah, mereka telah mampu menanggalkan atribut for- malitas, telah mampu menekan egonya masing- masing dan masuk pada wilayah kebersamaan sikap dan kepedulian terhadap jaman.
Wiranto memang tidak terkena penyakit “post power syndrome” alias penyakit yang menghinggapi para bekas pejabat untuk selalu minta diperlaku- kan istimewa. Ia dengan mudah kembali bergaul dengan rakyat biasa di mana ia berasal. Tak segan- segan ia kembali kuliah, nyopir sendiri, nenteng ransel sendiri tanpa pengawalan, menyantap ma- kanan di warteg atau kantin kampus tanpa risih. Sikap itulah yang membuat Wiranto bisa dekat dengan siapapun termasuk para seniman. Ia juga sangat suka makan di restoran jalanan atau lebih dikenal dengan sebutan Warteg (warung Tegal). Saking seringnya, sampai kemudian ia didaulat menjadi Pembina Pengusaha Warteg se-Indonesia.
64
yang concern dan selalu commited dengan apa yang dikatakannya. Saya juga menilai Wiranto cukup cerdas dalam menganalisa situasi. Dia bisa mengamati tiap kejadian dan dapat memprediksi apa yang akan terjadi kemudian.”
Ajakan dan tawaran gerakan pembaruan untuk melakukan kudeta dengan menempatkannya seba¬gai simbol pergerakan tidak digubrisnya karena semata-mata kesetiaannya kepada konstitusi dan aturan main yang disepakati secara kolektif. Barangkali itulah kekuatannya, sehingga selalu memberikan jaminan kepercayaan terhadap ko- lega-koleganyanya. Karena itulah ketiga presiden yang pernah memimpin di negeri ini menempatkan Wiranto pada posisi penting dan menentukan da¬lam susunan pemerintahannya.
Berkali-kali Jenderal Wiranto selalu mengingat- kan bahwa konstitusi dan hukum adalah kesepa¬katan kolektif bangsa yang harus dipatuhi agar ter- bangun ketertiban. Apabila konstitusi dan hukum tak lagi diikuti dan dipatuhi maka itu merupakan kehancuran dari suatu bangsa. Maka Wiranto sa¬ngat prihatin pada saat hukum sudah dijadikan komoditas oleh orang-orang yang seharusnya men-
70
21. Pembina Olahraga Bertangan Dingin
20.  Kembali Bergaul dengan Rakyat dari Mana Dia Berasal
Wiranto memang olahragawan, hampir semua jenis olehraga digelutinya, seperti tenis, bu- lutangkis, sepakbola, berenang, beladiri dan golf. Itulah mengapa ia juga pernah memimpin beberapa cabang olahraga pada tingkat nasional. Banyak kalangan bahkan mengatakan Wiranto bertangan dingin. Beberapa cabang olahraga yang dipimpinnya selalu meraih prestasi yang membanggakan. Sebut saja semasa ia memimpin Pengurus Besar FORKI (Federasi Karate Do Indonesia], prestasi Indonesia tak terbendung di kawasan Asean. Misalnya di Asean Games di awal 2000-an, Koni Pusat me- nargetkan tujuh medali emas dari 20 medali yang diperebutkan, para atlet binaannya mampu me- nyabet 14 medali emas untuk Indonesia.
Kecuali olahraga fisik, Wiranto juga pernah memimpin olah otak yaitu sebagai Ketua Umum Pengurus Besar GAB SI (Gabungan Bridge Seluruh
65
C etelah pension yan8 berarti ter]epas ^ ^ ^ lenggu formalltas dan protoko|er WiranB
tetLT„k dkembali berga“’ deng“ “W”*
ebanyakan, di mana ia berasal. Dengan tann. atribut formalltas yang melekat pada
:r 7T,eiuasa ^
vane d ‘ n“”‘ De”gan beberapa k™arapUa„
Latk t r m‘Sal”ya °lahraga dan kKenlan’
termasuk tank suara alias olah vokal, ia tldak
canggung bergaul dengan para seniman dan artis Iainnya. Bahkan sempat meniua, album perdanal
hanfaH ‘Udl” Untukmu indonesiaku”, yang hasilnya keseluruhan disumbangkannya buat para Pengungsi akibat kerusuhan di awal reformasi.
humWS8R brtrkaWa” Sa”ga‘ akrab tlensa” a,mar- ” Rendra’ ^masa hidupnya seringkali mendikusikan dengan Wiranfo tentang b™bt -iarah, polity pemerintaha^
63
memahami dan mencintai olahraga yang anda pimpin, selanjutnya ada kesadaran bahwa yang Anda lakukan semata-mata pengabdian, pengor- banan secara ikhlas, dan jangan sekali-kali mencari uang dan keuntungan politik di tempat itu.” Di setiap bidang olahraga yang dipimpinnya ia selalu membangun ikatan kekeluargaan yang sarat dengan nilai kebersamaan, kekeluargaan, kesetiakawanan dan kepercayaan. Pada akhirnya sinergi itulah yang dapat membawa aroma peningkatan prestasi dan kemenangan.
67
22.  Sangat Menghormati Tinggi Konstitusi
Pergantian pemerintahan 1998, dari Presiden Soeharto kepada Wakil Presiden BJ. Habibie, tanpa ragu sedikitpun ia tampil untuk mengawal dan memastikan bahwa peristiwa itu berlandaslan konstitusi pasal 8 UUD-1945, Di saat banyak pi¬hak ingin membalas dendam terhadap Presiden Soeharto di Cendana, ia tetap mengamankan dengan pernyataan politik untuk menjaga keselamatan para mantan presiden termasuk mantan Presiden Soeharto, karena ia yakin yang dilakukannya adalah kebenaran hukum dan konstitusi. Pada saat para demonstran ingin membubarkan Sidang Istimewa MPR dengan menyerang para petugas yang berjaga di sekitar Senayan, ia tetap mem- pertahankannya dengan keyakinan apabila Sidang Istimewa gagal, maka Indonesia kehilangan pe¬luang konstitusionalnya. Lalu apa kata seorang sahabatnya Bambang W. Soeharto; “Dia orang
69
Indonesia) selama dua periode (8 tahun). Awal kepemimpinannya untuk menembus juara Asia saja sudah kerepotan. Namun dengan kegigihan dan semangat tak kenal lelah, pada akhirnya di periode kedua kepemimpinnya pasukan Bridge Indonesia sudah sangat disegani di arena internasional. Di Olimpiade Bridge New Mexico, Indonesia sudah masuk empat besar dunia. Kejuaraan Dunia di Yunani pada posisi runner up dibawah juara dunia Prancis. Akhirnya pada 2000, di Swiss tim Indonesia berhasil menjadi juara dunia dengan membabat tim terkuat dunia seperti dari AS, Prancis, I tali, Polandia, Belanda, China. Dari keberhasilan tersebut apa komentar Wiranto, “Saya benar-benar merasa sangat bahagia, telah berhasil membuktikan bahwa kecerdasan otak kita ternyata mampu mengungguli kecerdasan otak orang-orang dari negara maju yang seakan tak terkalahkan.
Dari prestasinya itu sangatlah wajar apabila kemudian Wiranto dinobatkan sebagai pembina olahraga terbaik dari Menteri Olahraga maupun dari Koni Pusat. Lalu apa kiat Wiranto dalam membina olahraga nasional? “Menjadi pengurus olahraga di Indonesia syarat pertama Anda harus
66
68
masalah spiritual. Yang menarik adalah mengapa kedua tokoh yang dahulu diperhadapkan karena posisi formal yang disandangnya, kemudian bisa menjadi sahabat? Ternyata jawabannya mudah, mereka telah mampu menanggalkan atribut for- malitas, telah mampu menekan egonya masing- masing dan masuk pada wilayah kebersamaan sikap dan kepedulian terhadap jaman.
Wiranto memang tidak terkena penyakit “post power syndrome” alias penyakit yang menghinggapi para bekas pejabat untuk selalu minta diperlaku- kan istimewa. Ia dengan mudah kembali bergaul dengan rakyat biasa di mana ia berasal. Tak segan- segan ia kembali kuliah, nyopir sendiri, nenteng ransel sendiri tanpa pengawalan, menyantap ma- kanan di warteg atau kantin kampus tanpa risih. Sikap itulah yang membuat Wiranto bisa dekat dengan siapapun termasuk para seniman. Ia juga sangat suka makan di restoran jalanan atau lebih dikenal dengan sebutan Warteg (warung Tegal). Saking seringnya, sampai kemudian ia didaulat menjadi Pembina Pengusaha Warteg se-Indonesia.
64
yang concern dan selalu commited dengan apa yang dikatakannya. Saya juga menilai Wiranto cukup cerdas dalam menganalisa situasi. Dia bisa mengamati tiap kejadian dan dapat memprediksi apa yang akan terjadi kemudian.”
Ajakan dan tawaran gerakan pembaruan untuk melakukan kudeta dengan menempatkannya seba¬gai simbol pergerakan tidak digubrisnya karena semata-mata kesetiaannya kepada konstitusi dan aturan main yang disepakati secara kolektif. Barangkali itulah kekuatannya, sehingga selalu memberikan jaminan kepercayaan terhadap ko- lega-koleganyanya. Karena itulah ketiga presiden yang pernah memimpin di negeri ini menempatkan Wiranto pada posisi penting dan menentukan da¬lam susunan pemerintahannya.
Berkali-kali Jenderal Wiranto selalu mengingat- kan bahwa konstitusi dan hukum adalah kesepa¬katan kolektif bangsa yang harus dipatuhi agar ter- bangun ketertiban. Apabila konstitusi dan hukum tak lagi diikuti dan dipatuhi maka itu merupakan kehancuran dari suatu bangsa. Maka Wiranto sa¬ngat prihatin pada saat hukum sudah dijadikan komoditas oleh orang-orang yang seharusnya men-
jaga keberadaan dan kekuatan hukum itu. Seorang tokoh guru besar hukum tata negara Prof. Harun Alrasyid (2001) berpendapat; “Profil Wiranto sudah sangat dikenal masyarakat. Tiap hari Wiranto ada di televisi dan surat kabar. Dari situ saya menilai, ia orang yang bersikap tegas dan tidak ragu-ragu, ia orang yang memegang prinsip atau a man of principle”.
71
Hukum). Setahun kemudian, ia merasa perlu melengkapi pengetahuannya dengan memahami masalah pemerintahan, maka ia mengikuti kuliah di Universitas Terbuka strata-1 dengan program studi konsentrasi Ilmu Pemerintahan, lulus dengan tambahan titel Sip (Sarjana Ilmu Pemerintahan). Merasa kurang memahami masalah ekonomi, Wiranto pun masuk kuliah di STIE (Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi) Strata-2, lulus mendapatkan tam-bahan gelar MM (Magister Management], Mengikuti perkembangan kondisi nasional yang belum juga memberikan harapan, memberikan kesadaran bagi- nya bahwa ada yang salah dalam mengelola negeri ini. Ia sementara menduga bahwa masalah tentang SDM (sumber daya manusia) merupakan kunci dari keberhasilan organisasi, maka Wiranto mengikuti program pasca sarjana Strata-3, mengambil pro¬gram studi manajemen dengan konsentrasi Sum¬ber Daya Manusia, yang telah diselesaikannya pada 2013 de-ngan predikat Cum Laude.
Pelajaran yang ia petik setelah mengikuti pro¬gram doktoral, adalah lebih meyakini bahwa pe¬rubahan kondisi nasional akan sangat tergantung pada kinerja para pemimpinnya. Perubahan itu
74
bisa hadir kalau para pemimpin di Indonesia benar-benar memiliki kompetensi pada bidangnya, serta memiliki kebijakan sebagai pemimpin pe¬rubahan yang memiliki pengalaman (experience], pengetahuan (knowledge), perilaku terpuji (beha-vior) dan kekuatan spiritual yang tinggi (spiritual value).
Saat ini Wiranto memang sedang berjuang bukan lagi untuk dirinya pribadi namun buat bangsanya. Ia mengatakan bahwa perjuangan bagi kepentingan dirinya sendiri sudah menghasilkan sesuatu yang melebihi apa yang diimpikannya. Sebagai insan militer, ia telah menduduki posisi dan pangkat tertinggi di ABRI, yang bagi Wiranto merupakan anugerah yang luar biasa dari Tuhan Yang Mahaesa. Sekarang tibalah saatnya untuk mengamalkan kelebihannya itu untuk bangsa, rakyat, dan negara yang dicintainya. Soal kegagalan ini ia sering menyampaikan, “Kalau Abraham Lincoln pernah berkali-kali gagal dan tak pernah menyerah, namun pada akhirnya berhasil menjadi Great President of America, mengapa Aku yang baru gagal duakali lalu menyerah?” Prinsip itulah yang terus memacu semangat Wiranto untuk terus me- lanjutkan perjuangannya.
78
72
23.  Terus Belajar tak Kenal Berhenti
Ada pepatah tentang belajar yakni; “Belajarlah, carilah ilmu dan pengetahuan sebanyak mungkin, karena ia akan mengantarkan kamu di barisan terdepan sebagai manusia-manusia terbaik.” Itulah yang dipedomani Wiranto. Ia ingin menjadi manusia berguna, yang berada pada barisan terdepan dari perubahan. Ia tidak ingin pengakuan sebagai pemimpin hanya dikarenakan jabatan formal. Ia berpendapat pengakuan ter¬hadap pemimpin harus karena kelebihannya, ke- mampuannya dan ilmunya. Maka tidak ada jalan lain kecuali belajar, belajar dan terus belajar.
Pelajaran di luar kemiliteran yang diikutinya adalah pelajaran tentang hukum. Ia paham sebagai pimpinan militer yang juga berinteraksi dengan masyarakat sipil harus memahami hukum. Itulah mengapa Wiranto pada 1994 menyelesaikan kuliah strata-1 hukumnya di STHM (Sekolah Tinggi Hukum Militer), mendapat gelar SH (Sarjana
73
76
24.  Tak Ada Kata Menyerah dalam Perjuangan
Wiranto memiliki motto “Never give up, fix mistake and keep stepping” jangan pernah menyerah, perbaiki kesalahan dan teruslah melangkah! Tiap manusia pasti memiliki mimpi, atau memiliki sesuatu yang diharapkan. Untuk mewujudkan harapan itu tidak selamanya mudah dan mulus. Akan banyak rintangan, hambatan dan tantangan untuk menggapainya. Bagi Wiranto kegagalan itu bukan membuat kita menyerah, kegagalan adalah bagian dari proses pembelajaran. Itulah mengapa tatkala ada orang berkomentar, “Wiranto kan sudah kalah dua kali dalam pemilihan Presiden/Wakil Presiden, kenapa masih ngotot ikut lagi? Apa ngga kapok!”, maka ia hanya tersenyum karena tidak ada gunanya untuk memperdebatkan sesuatu dengan orang yang sudah apriori atau yang tidak menyenanginya.
77
jugu iiiwiijuui niuuwx pv-ii^uiuun uvsixv^n jcniui uaii
junior, mereka berdua juga saling melengkapi dari profesi atau keahlian yang digelutinya, WIN sangat memahami hukum, pemerintahan, politik dan keamanan, sedangkan HT memahami masalah ekonomi global dan domestik yang memang di- butuhkan. WIN berlatar belakang militer, dan dikenal memiliki pengalaman mengatasi krisis nasional, sedangkan HT adalah tokoh sipil yang berhasil membangun jaringan bisnis global dan nasional.
81
          muuucMa, ouKan nasil
bargaining politik sesaat (setelah pemilu legislatif), seperti pembagian jatah menteri atau lebih dikenal dengan hasil politik dagang sapi. Pasangan itu juga bukan hasil kompromi pembagian tugas antara presiden dan wakilnya. Pasangan itu juga tidak bisa hanya berdasarkan survei jajak pendapat publik yang seringkali sudah terkontaminasi oleh “like and dislike” senang atau tidak senang.
Maka setelah melakukan pengamatan dan perenungan yang mendalam, Wiranto menilai, merasakan dan akhirnya memutuskan bahwa Hary Tanoesoedibjo adalah tokoh yang paling tepat baginya untuk memimpin negeri yang sebenar- nya sangat potensial ini. Maka selanjutnya melalui proses yang cukup saksama dan berbasis kesamaan sikap terhadap kondisi Indonesia terkini dan yang akan datang, pada akhirnya pasangan tersebut telah melakukan deklarasi pada 2 Juli 2013. Untuk lebih cepat diingat dan memudahkan penyebutannya, pa¬sangan Wiranto dan Hary Tanoesoedibjo memiliki singkatan WIN-HT. Pasangan ini merupakan pe- nyatuan dari perwakilan mayoritas dan minoritas, baik dari etnis maupun religi. Mereka berdua 80
Pada saat itu partai-partai telah mendapatkan hasil pemilu. Dari hasil itulah kemudian terjadi tawar- menawar, membangun koalisi untuk mencukupi per¬syaratan pencalonan presiden dan wakil presiden dengan melakukan bargaining politik (politik dagang sapi), dengan memperhitungkan jatah posisi menteri atau pembagian tugas presiden dan wakil presiden. Kita bisa bayangkan, kedudukan pejabat tinggi negara yang menentukan nasib dari jutaan orang dilakukan dengan orientasi sempit, yakni keuntungan partai politik, dan bukan berdasarkan kompetensi atau kualitas pemimpin yang berbasiskan kepentingan
nasional.
Coba simak yang tertulis dalam UUD-1945, pasal 6 ayat (2) Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilihan umum, sebelum pelaksanaan pemilihan umum. Artinya yang dilakukan WIN-HT adalah suatu langkah yang justru benar, karena mengacu pa a Undang-Undang Dasar. Sebaliknya bagi pasangan calon presiden dan wakilnya yang diusulkan setelah Pemilu, itu justru tidak sesuai dengan Undang- Undang Dasar Negara Indonesia Tahun 1945.
menyoroti dan mengomentari aksi WIN tersebut. Ada yang mengatakan terlalu dini (prematur), ada yang berkomentar WIN main-main, ada pula yang menyebut pasangan tersebut terlalu Pede (percaya diri), dan akan layu sebelum berkembang, ada lagi yang mengatakan WIN hanya mencoba memanfaatkan HT dengan medianya, malah ada yang berspekulasi WIN sudah dibeli HT, dan masih banyak komentar-komentar bermacam-macam. Menghadapi komentar tersebut, WIN yang saat itu sedang menyelesaikan tahap akhir kuliahnya di Universitas Negeri Jakarta, dengan tertawa menjawab komentar-komentar tersebut; “Wah banyak komentar ya! Berarti memang luar biasa, sebab biasanya kalau hanya biasa-biasa saja pasti tidak dikomentari! Artinya pasangan kami ini benar-benar membuat kejutan dan berhasil menarik perhatian publik…”.
Sebenarnya yang dilakukan Wiranto yang tidak biasa itu justru suatu langkah yang benar. Ia me¬lakukan sesuatu yang berbeda dengan yang biasa dilakukan orang lain yang belum tentu benar. Memang biasanya pasangan calon presiden dan wakil presiden baru dibentuk setelah ada hasil Pemilu Legislatif.
84
82
25.  Menemukan Pasangan Wakil Presiden Lewat Perenungan
Setelah mengikuti pemilihan presiden dan wakil presiden sebanyak dua kali pada Pemilu 2004 dan 2009, Wiranto kelihatan lebih matang untuk memilih pasangannya. Ia berpendapat bahwa presiden dan wakil presiden adalah dwitunggal, dua pribadi yang harus menyatu dalam cipta, rasa dan karsa (pikiran, perasaan dan tindakannya). Maka keduanya harus memiliki chemistry yang cocok. Secara kejiwaan harus ada perasaan saling menghargai dan menghormati. Sebagai ma¬nusia yang memiliki keterbatasan harus saling melengkapi, saling menutup kekurangan itu. Selanjutnya sebagai panutan dan suri tauladan bangsanya harus dapat memberikan nuansa dari keberagaman dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika, atau Persatuan Indonesia.
Melalui perenungan itulah maka Wiranto berkesimpulan bahwa pasangan Presiden dan
79
26.  Deklarasi Capres dan Cawapres yang Mengundang Reaksi
Memang Wiranto (WIN) suka membuat ke- jutan, namun kali ini kejutan yang dibuatnya benar-benar mengundang banyak reaksi, tatkala ia mendeklarasikan pasangan Capres dan Cawapres dari Partai Hanura pada 2 Juli 2013 yang lalu. Mengapa begitu banyak mengundang reaksi dan apa ada yang salah dalam deklarasi itu? Mengundang reaksi karena: (1) Deklarasi Capres dan Cawapres WIN-HT masih jauh waktunya dari Pemilu Presiden, biasanya diumumkan seusai Pemilu Legislatif, pada Medio April 2013. (2) Capres dan Cawapres berasal dari satu partai politik (Hanura), biasanya hasil bargaining beberapa partai politik berdasarkan hasil Pemilu. (3) WIN berani menggandeng HT sebagai cawapres dari kalangan nonpri dan bukan agama mayoritas (Islam).
Dari pendekatan tiga hal tersebut muncul ba¬nyak reaksi dari berbagai pihak dan kalangan yang
28.  Konsepnya Tentang Perubahan Kondisi Nasional
D ada dewasa ini banyak sekali orang yang men- A dambakan perubahan nasibnya, melalui peru¬bahan kondisi nasional yang tak kunjung hadir dalam kehidupan bangsa Indonesia. Banyak di antara kita tak tahu lagi dari mana kita akan memulainya. Namun ada pendapat seorang pakar, Daft (2005), “Change is leadership responsibility”, perubahan adalah tanggung jawab kepemimpinan dari para pemimpin. Dilengkapi pendapat Rhenald Kasali (2010), “Perubahan membutuhkan kehadiran pemimpin yang kuat. Pemimpin yang kuat bukan otoriter, tetapi pemimpin yang berwibawa, tegas, bersih dan dapat dipercaya.”
Dengan adanya kepemimpinan pusat dan daerah yang kualitasnya belum seperti yang digambarkan Kasali, maka kelihatannya perubahan yang kita harapkan masih jauh panggang dari api, artinya belum dapat hadir dalam kehidupan bangsa. Demikian pula
89
lagi dapat ditanya karena tak lagi bersemayam di dada manusia Indonesia, maka segala kejahatan merajalela tak terbendung lagi, seperti kebo- hongan publik, korupsi, nepotisme, penyalahguna- an jabatan, suap-menyuap, terorisme, perkelahian masal, dan masih banyak lagi berbagai kasus yang sebelumnya tak pernah dialami bangsa Indonesia sampai sehebat ini.
Oleh sebab itu hati nurani harus dikem-balikan di tempat yang semestinya, yaitu di hati sanubari bangsa Indonesia, terutama para pemimpinnya yang telah mendapat mandat dari rakyat, yang telah dibekali dengan otoritas untuk mengatur ke-hidupan bangsa Indonesia. Dengan alasan itulah Wiranto mengembangkan politik hati nurani, de¬ngan memasukkan hati nurani sebagai basis per- juangan politik Partai Hati Nurani Rakyat. Kita wajib bersyukur, usahanya itu telah menuai buah. Partai Hanura pada saat ini telah mendapat predikat partai paling bersih dan bebas korupsi. Alhamdulillah dan puji syukur kepada Tuhan yang Mahaesa.
88
Bagi bangsa Indonesia, perubahan sangat diperlukan untuk meluruskan kembali jalur navigasi yang sudah menyimpang dari kompas kebenaran. Penyimpangan yang terjadi sudah merusak sendi-sendi kehidupan kebangsaan kita. Penyimpangan itu telah banyak memproduksi dan mempertontonkan perilaku yang memalukan. Perilaku yang sangat jauh dari peradaban bangsa kita. Penyimpangan itu membawa masuk dalam wilayah yang telah menyandera bangsa Indonesia pada ketidakberdayaan.
Saudara-saudara sekalian,
Kalau kita masih ingin eksis sebagai bangsa yang dihormati, bangsa yang memilki harapan dan masa depan, penyimpangan itu harus dihentikan dan diluruskan kembali.
Untuk dapat melakukannya, yang kita perlukan adalah pemimpin perubahan. Pemimpin yang memiliki visi dan komitmen yang jelas dan cer- das, pemimpin yang sarat dengan inovasi baru, pe-mimpin yang mampu mengajak dan memberikan ketauladanan bagi bangsanya untuk melakukan hal-hal yang benar dan bermartabat. Pemimpin
92
yang punya hati yang berarti tidak lagi memikirkan kepentingan diri sendiri, keluarga dan kelompok- nya. Pemimpin yang dalam benaknya hanya ada satu tekad yakni ‘Perubahan’ menuju Indonesia yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Pemikiran seperti itulah yang telah mem¬berikan inspirasi dan membakar semangat saya dan segenap jajaran Partai Hanura untuk terus memperjuangkan terjadinya perubahan di negeri mi. Pemikiran seperti itu pula yang meneguhkan niat dan tekad saya untuk memimpin negeri ini. Saya ber-syukur telah menemukan tokoh muda, Bapak Hary Tanoesoedibjo, sebagai teman seperjuangan yang memiliki kesamaan visi, tekad, semangat dan keprihatinan untuk bersama-sama saya dan kawan- kawan Iainnya melakukan perubahan.
Oleh karena itu, dengan dengan segala keren- dahan hati, dan atas petunjuk dan bimbingan dari Tuhan Yang Maha Esa, serta restu seluruh rakyat Indonesia, Saya dan Bapak Haiy Tanoesoedibjo, telah meneguhkan tekad untuk bersama-sama mengam¬bil peran memimpin perubahan Indonesia, sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia pada Pemilu 2014.
93
proses rekrutmen calon pemimpin dan pe-laksanaan seleksi melalui Pemilihan Umum Legislatif dan Pemilihan Kepala Daerah masih diwarnai dengan berbagai permasalahan, yang ternyata telah ikut menyumbang lebih banyak lagi jumlah pemimpin yang tidak memiliki kompetensi sebagai pemimpin perubahan. Kalau bangsa ini ingin benar-benar me- ngubah nasibnya, diperlukan usaha yang serius melalui pembenahan kepemimpinan, baik dimulai dari proses rekrutmen dan seleksi, maupun melakukan reformasi birokrasi secara total, dan bukan reformasi birokrasi setengah hati.
Untuk mewujudkannya, Wiranto menyusun 10 agenda prioritas yang harus dilakukan untuk membawa kembali Indonesia ke arah yang benar, yang meliputi:
1.   Dari impor pangan ke swa sembada pangan.
2.   Dari penjarahan SDA menuju SDA untuk rakyat.
3.   Dari negara konsumen ke produsen.
4.   Dari human resources menuju human capital.
5.   Dari budaya korup ke bersih.
6.   Dari semrawut konstitusi/hukum ke tertib konstitusi/ hukum.
7.   Dari masyarakat kurang terdidik menjadi cerdas.
8.   Dari masyarakat sakit menjadi sehat.
9.   Dari posisi dilecehkan menjadi posisi disegani.
10.  Dari pembesar/penguasa ke pemimpin rakyat
90
27.  Keyakinannya Terhadap Hati Nurani
Hati nurani itu tidak terlihat. tidak berwujud, tidak terjamah, namun keberadaannya dapat dirasakan. Walaupun demikian, sebenarnya kita
dapat menyaksikanakibat dari campurtangani»
nurani tadi terhadap perbuamnmanusia. Karena ha
nurani adalah sumber inspirasi tentang emu keiujuran dan kebenaran yang sejati. Siapapun yang menggunakan bati nuraninya selalu berada pada jalur kebenaran, yang akan mempengaruh, perilaku manusia itu. itulah mengapa semua agama Lempatkan hati nurani sebagai bag,an « terpenting dalam mengarahkan manusia pada per-
buatan yang tepuji.
Atas keyakinannya itu Wiranto berkesimpulan bahwa merosotnya ahlak dan moral bang- Indonesia, disebabkan terpinggirkannya hat, rani dalam kehidupan bangsa. Tatkala orang b nya mengandalkan otaknya, dan tatkala hati nurani ^
Dengan modal pengalaman saya memimpin organisasi militer selama 32 tahun, mendampingi tiga presiden dalam pemerintahan, dan penga¬laman memimpin partai politik, ditambah penga¬laman pasangan saya sebagai pengusaha sukses yang memahami sepenuhnya masalah ekonomi dan moneter, merupakan perpaduan yang saling mengisi dan melengkapi untuk mewujudkan peru¬bahan itu menjadi kenyataan.
Kiranya tidak berlebihan kalau pasangan kami ini dapat merajut perbedaan etnik dan agama. Pasangan kami juga merupakan refleksi dari semangat toleransi di antara kelompok mayoritas dan minoritas. Pasangan kami juga menyatukan perbedaan antargenerasi dan profesi untuk saling melengkapi. Pasangan kami juga memelopori keberanian dan ketegasan dalam mengambil si-kap untuk pengabdian. Kesemuanya itu benar-benar sangat dibutuhkan untuk mengembalikan kejayaan Indonesia.
Saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang saya kasihi,
Didasarkan pertimbangan hati nurani yang paling dalam, diiringi dengan tekad yang kuat dan 94
29.  Tekad untuk Mewujudkan Mimpi
Setiap manusia mempunyai mimpi, buah dari harapan. Demikian pula suatu bangsa pasti memiliki harapan dan mimpi itu. Seba-gai seorang politisi yang telah mengarungi berbagai perkembangan politik nasional, Wiranto memiliki semangat untuk turut mengambil bagian dari menggapai mimpi itu. Itulah mengapa ia masih memperjuangkan haknya untuk maju sebagai calon presiden bersama Hary Tanoesoedibjo, sebagai calon wakil presiden. Berikut ini cuplikan pidato deklarasinya yang disampaikannya pada 2 Juli 2013, di Jakarta.
“Perubahan adalah suatu keniscayaan, peru¬bahan menuju kebaikan adalah dambaan, tidak ada perubahan adalah kerugian. Namun ada satu hal yang sering dilupakan, bahwa bagi suatu bangsa, perubahan tidak datang begitu saja, perubahan hanya akan terjadi melalui kebijakan, perencanaan dan pengelolaan yang baik.
91
Bagikan:Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Comment